Oleh:
Amir Hady
Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur
SETIAP bangsa memiliki lembaran sejarah yang tak boleh dilupakan. Indonesia memiliki peristiwa kelam pada tanggal 30 September 1965, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan yang mengorbankan tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan G30S/PKI. Meski sudah lebih dari setengah abad berlalu, tragedi itu menyimpan pelajaran penting: betapa berbahayanya ideologi yang menolak agama dan bertentangan dengan Pancasila.
Sayangnya, dalam perkembangan zaman, banyak generasi muda yang mulai menganggap remeh sejarah ini. Sebagian bahkan tidak mengetahui detail kejadiannya. Situasi ini diperparah oleh derasnya arus informasi digital yang penuh dengan narasi simpang siur. Ada pihak-pihak yang berusaha menyederhanakan, bahkan menghapus memori bangsa tentang tragedi ini. Jika hal itu dibiarkan, bangsa Indonesia bisa kehilangan pegangan penting untuk menjaga jati dirinya.
Komunisme, sebagai ideologi yang menolak keberadaan Tuhan, jelas tidak sejalan dengan ajaran Islam. Islam menempatkan tauhid sebagai pondasi kehidupan, sementara komunisme justru memandang agama sebagai penghalang. Pandangan itu ditolak oleh Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa pengakuan terhadap Sang Pencipta. Allah berfirman: “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?” (QS. Ibrahim: 10). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ideologi yang menolak Tuhan sesungguhnya menolak fitrah manusia itu sendiri.
Berbeda halnya dengan Pancasila. Lima sila yang menjadi dasar negara kita justru selaras dengan nilai-nilai Islam. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sejalan dengan prinsip tauhid. Sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab sejalan dengan ajaran Islam tentang kemanusiaan universal. Begitu pula sila ketiga yang menekankan persatuan, sangat dekat dengan konsep ukhuwah. Sila keempat mengenai musyawarah mencerminkan praktik syura dalam Islam, dan sila kelima tentang keadilan sosial merupakan inti ajaran Al-Qur’an. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya sesuai dengan Islam, tetapi juga mampu mempersatukan bangsa yang beragam.
Oleh karena itu, penting sekali mengajarkan sejarah G30S/PKI kepada generasi muda di sekolah. Sekolah adalah tempat terbaik untuk menanamkan kesadaran sejarah karena siswa sedang berada dalam fase pembentukan karakter. Namun, pendidikan sejarah tidak cukup hanya berupa hafalan nama dan tanggal. Siswa perlu diajak untuk berdiskusi, berdialog, bahkan menganalisis penyebab, dampak, dan relevansi peristiwa tersebut dengan kehidupan bangsa saat ini.
Metode edukasi yang kreatif bisa membuat sejarah menjadi hidup. Misalnya, dengan studi kasus berbasis dokumen sejarah, debat kelas tentang bahaya laten komunisme, pemutaran film dokumenter, atau pembuatan karya kreatif seperti poster dan esai bertema “Pancasila sebagai Benteng Ideologi Bangsa.” Melalui cara ini, siswa bukan hanya memahami apa yang terjadi, tetapi juga menyadari mengapa Pancasila harus dijaga dan bagaimana caranya menolak ideologi yang bertentangan dengan agama dan jati diri bangsa.
Generasi muda Indonesia harus menyadari bahwa melupakan sejarah berarti membuka peluang bagi kesalahan yang sama terulang. Tragedi G30S/PKI adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah diguncang oleh ideologi yang tidak sesuai dengan nilai agama. Islam mengajarkan pentingnya menjaga iman dan keadilan, dan Pancasila memberikan wadah yang tepat untuk mewujudkan hal itu dalam kehidupan berbangsa. Dengan demikian, memperkuat pemahaman sejarah di sekolah adalah langkah nyata untuk memastikan bangsa Indonesia tetap teguh di jalan Pancasila, sekaligus kokoh dalam nilai-nilai Islam. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan