Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Semangat World Sight Day 2025: Dua Jam Cahaya untuk Mata Anak yang Sehat

Iklan • Kamis, 9 Oktober 2025 | 17:54 WIB

 

 

dr. Gracecika Marthgareth Harianja
dr. Gracecika Marthgareth Harianja

Oleh:

dr. Gracecika Marthgareth Harianja

Alumni Universitas Mulawarman

KITA hidup di masa di mana pemandangan anak-anak menatap layar ponsel atau tablet berjam-jam sudah menjadi hal biasa. Dari belajar daring hingga hiburan digital, kehidupan mereka nyaris tak lepas dari gawai. Namun di balik kemudahan itu, ada bahaya senyap yang semakin sering dijumpai di ruang praktik dokter mata: miopia, atau rabun jauh pada anak.

Masalah ini meningkat secara global dan kini menjadi perhatian utama dunia kesehatan mata. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2050, setengah populasi dunia (sekitar lima milyar orang) akan menderita miopia, dan seperlima di antaranya akan berisiko untuk mengalami kebutaan. Kondisi ini bukan sekadar “mata minus bertambah”, tetapi dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti kerusakan hingga lepasnya saraf mata (retina), bahkan kebutaan permanen di usia dewasa muda.

Menariknya, pencegahan miopia sebenarnya tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Penelitian menunjukkan bahwa waktu bermain di luar ruangan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan penglihatan anak. Paparan cahaya alami matahari menstimulasi pelepasan dopamin di retina, yang berperan penting dalam menghambat pemanjangan bola mata; mekanisme utama yang menyebabkan rabun jauh.

Karena itulah, WHO merekomendasikan agar anak-anak menghabiskan sedikitnya dua jam per hari di luar ruangan. Langkah sederhana ini terbukti menurunkan risiko miopia progresif secara signifikan.

Namun sayangnya, kebiasaan bermain di luar kini makin jarang. Anak-anak banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, baik untuk belajar, menonton, maupun bermain gim di perangkat elektronik mereka. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Ophthalmology, anak-anak yang kurang dari 1,5 jam berada di luar ruangan setiap hari memiliki risiko miopia hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang rutin terpapar cahaya alami.

Fenomena serupa juga terlihat di Indonesia. Semakin banyak anak datang ke dokter dengan keluhan sulit melihat papan tulis, menyipitkan mata, atau sering mendekatkan wajah ke buku atau layar. Jika dibiarkan tanpa intervensi dini, kondisi ini bisa berkembang menjadi miopia progresif yang sulit dikontrol. Padahal, pencegahan dapat dimulai dari hal kecil dan dilakukan setiap hari, yaitu memberi waktu anak untuk menikmati dunia nyata di luar ruangan.

Tahun ini, peringatan World Sight Day 2025 yang diperingati setiap tanggal 9 Oktober mengusung tema “Love Your Eyes — Putting People at the Heart of Eye Health.” Tema ini mengingatkan kita bahwa menjaga penglihatan bukan sekadar urusan individu, melainkan tanggung jawab bersama; orang tua, sekolah, dan komunitas. Dalam konteks anak-anak, “mencintai mata” berarti menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan visual mereka sejak dini.

Mendorong anak untuk lebih sering beraktivitas di luar ruangan tidak selalu berarti bermain di lapangan luas atau taman kota. Aktivitas sederhana seperti berjalan sore, bersepeda di halaman, menyiram tanaman, atau duduk bersama di teras rumah sudah memberi manfaat. Kuncinya bukan pada jenis aktivitasnya, tetapi pada paparan cahaya alami dan jarak pandang jauh yang memberi kesempatan bagi otot mata untuk relaksasi.

Selain kegiatan luar ruangan, aturan 20-20-20 juga dapat diterapkan untuk menjaga mata tetap sehat. Setiap 20 menit menatap layar, anak perlu mengalihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Cara sederhana ini sangat sederhana, namun sangat membantu mencegah kelelahan visual akibat fokus jarak dekat yang terus-menerus, terutama saat belajar atau bermain gim.

Sekolah dan orang tua memiliki peran besar dalam pencegahan rabun jauh. Sekolah dapat mengatur waktu istirahat di luar kelas, mengadakan kegiatan belajar berbasis alam, atau bahkan mengintegrasikan edukasi kesehatan mata dalam kurikulum. Sementara di rumah, orang tua bisa menjadi teladan dengan mengurangi waktu layar bersama anak, menyiapkan jadwal aktivitas luar ruangan, dan menciptakan rutinitas visual yang seimbang.

Faktor gaya hidup juga berperan penting. Tidur yang cukup, pola makan bergizi, serta asupan vitamin A, C, dan E membantu menjaga jaringan mata tetap sehat. Asam lemak omega-3 yang banyak terdapat pada ikan laut seperti salmon atau tuna juga berperan melindungi retina dari stres oksidatif. Semua kebiasaan baik ini akan bekerja sinergis dengan aktivitas luar ruangan untuk mempertahankan penglihatan optimal anak.

World Sight Day mengingatkan kita bahwa penglihatan anak adalah jendela masa depan mereka. Dengan mata yang sehat, mereka dapat belajar, berinteraksi, dan menjelajahi dunia tanpa batas. Maka, sebelum miopia menjadi bagian tak terelakkan dari masa kecil modern, mari mulai langkah kecil yang berdampak besar: ajak anak keluar rumah setiap hari.

Dua jam di bawah sinar matahari bukan sekadar waktu bermain, tetapi investasi seumur hidup bagi penglihatan mereka. Karena pada akhirnya, menjaga mata bukan hanya tentang melihat lebih jelas, melainkan tentang melihat masa depan dengan harapan yang terang. (adv/ctr/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#miopia #rabun jauh pada anak #who