KALTIMPOST.ID, Minimnya kepekaan sosial pemimpin menjadi persoalan yang kerap kali dikaji dan diperbincangkan pengamat dan akademisi, baik di kajian, seminar, ataupun diskusi ilmiah.
Menjadi pembahasan yang cukup menarik sebab masalah kepemimpinan, khususnya di level nasional, itu menentukan arah dan masa depan bangsa ini. Apakah kita sedang menuju kejayaan atau kehancuran?
Apakah sedang berkemas menyongsong peradaban emas atau peradaban barbar? Semua itu, hemat saya, juga bergantung pada bagaimana idealisme, sikap, dan karakter pemimpin kita hari ini.
Sebab, merupakan hal yang sukar ditepis bahwa kepribadian luhur seorang pemimpin mampu memberikan cahaya harapan atau membangkitkan optimisme dalam jiwa kita semua.
Apalagi, kita sendiri sering kali menyaksikan ulah sebagian pemimpin, baik itu di level lokal maupun nasional, yang menjadi “bandit negara”.
Biasanya menguras habis kekayaan rakyat. Hanya mengutamakan kepentingan diri dan golongannya. Sementara jerit hati rakyat diabaikan.
Jangankan memberikan uluran tangan. Bahkan untuk sekadar bersedia mendengar keluh kesah rakyat, susahnya bukan main.
Terkait kepekaan pemimpin, saya jadi teringat kisah Khalifah Umar bin Khattab. Alkisah, suatu ketika khalifah yang dikenal dengan julukan ‘Singa Padang Pasir’ ini berkeliling untuk mengamati kondisi rakyatnya.
Tiba-tiba, saat melewati sebuah rumah, dia melihat seorang perempuan memasak sesuatu. Dan di saat yang sama, anak dari perempuan tersebut menangis. Lantas, Umar bertanya mengapa anak tersebut menangis.
Sang wanita menjawab bahwa mereka sedang kelaparan. Ia mengaku sedang memasak air untuk mengalihkan perhatian sang anak dan dirinya sehingga bisa tertidur meskipun belum makan. Mendengar jawaban semacam itu, Umar sontak terkejut.
Tanpa menunggu waktu lama, Umar segera bergegas pulang dan bergerak cepat. Umar kembali ke rumah tersebut dengan membawa sendiri makanan untuk perempuan dan anaknya. Bahkan, ia tetap tinggal di sana sampai bisa melihat anak itu senyum dan kenyang.
Keputusan dan langkah cepat yang diambil Umar menjadi pelajaran bagi pemimpin kita hari ini. Betapa Umar menjadi salah satu contoh pemimpin yang memiliki sensitivitas sosial yang sangat tinggi.
Kepemimpinannya penuh welas asih, alias sarat dengan cinta dan kasih sayang kepada sesama. Tidak berbelit-belit dalam memberikan bantuan kepada rakyat yang membutuhkan. Tindakan semacam ini, tentu saja menjadi cermin pemimpin yang tidak hanya bisa memotret persoalan dan mendengar rintihan masyarakat.
Lebih dari itu, gambaran sosok pemimpin yang memiliki empati dan simpati yang tinggi terhadap rakyat yang sedang dipimpinnya.
Rasa-rasanya, kita memang sedang membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh memperhatikan rakyat. Benar-benar memprioritaskan kepentingan rakyat di atas kepentingan yang lainnya. Apalagi, sebagai negara demokrasi, rakyatlah pemegang kedaulatan tertinggi.
Artinya, semua penguasa di negeri ini, mulai dari kepala desa, camat, bupati, wali kota, hingga presiden, itu sepenuhnya bertanggung jawab kepada rakyat. Bukan kepada partai pengusungnya. Apalagi kepada pemodal yang mendanai kampanye politiknya.
Dengan kata lain, semua persoalan yang menyangkut kepentingan rakyat, wajib didahulukan. Mulai dari masalah ekonomi, hukum, pendidikan, dan lain-lain, semua harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat. Sebab, sekali lagi, pemimpin itu dari, oleh, dan untuk rakyat.
Namun, fakta di lapangan kadang berbicara sebaliknya. Tidak sedikit pemimpin kita yang tidak menunaikan janji politiknya. Rakyat hanya dijadikan sapi perah ketika pemilu atau pilkada. Ketika sudah duduk di kursi kekuasaan, beberapa pemimpin pilihan kita justru berkhianat.
Amanahnya tidak lagi dijalankan. Konstitusi dilabrak sedemikian rupa. Bukan menjadi problem solver. Yang terjadi justru menjadi problem maker. Sebagian lagi individualis, hedonis, dan materialistis. Jabatan dikejar mati-matian.
Kekuasaan sebatas dijadikan sarana mendulang kekayaan dan mendongkrak status sosial. Kebakaran jenggot ketika ada yang mengkritik program dan kebijakannya. Egoismenya lebih didahulukan daripada nalar sehatnya.
Sekali lagi, kita membutuhkan pemimpin yang memiliki sensitivitas sosial yang tinggi. Pemimpin yang berani memperjuangkan dan mempertahankan idealismenya. Pemimpin yang berjiwa kesatria. Pemimpin yang tidak bersedia berkompromi dengan segala jenis kemunafikan.
Termasuk bersekongkol dalam membohongi dan memanipulasi rakyat. Kita mendambakan pemimpin yang bersedia melayani kepentingan publik sepenuh hati. Pemimpin yang rela berkorban waktu, raga, materi, dan bahkan jiwanya untuk bangsa dan negara.
Selaku penulis, saya juga berharap, di negeri ini, semakin banyak lahir pemimpin yang mampu berempati dan bersimpati terhadap nasib wong cilik. Betul-betul peduli dengan rakyat kecil. Bukan hanya di ucapan, tapi dibuktikan dengan aksi nyata.
*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi
Editor : Almasrifah