Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Bakung; Tradisi Lisan Dayak Bahau Busang yang Tergilas Zaman

Redaksi KP • Senin, 13 Oktober 2025 | 09:40 WIB
GENERASI: Anak-anak Dayak Bahau Busang di Mahakam Ulu. Generasi muda mulai asing dengan tradisi lisan bakung.
GENERASI: Anak-anak Dayak Bahau Busang di Mahakam Ulu. Generasi muda mulai asing dengan tradisi lisan bakung.

Oleh: Andreas Hului

“Bagaimana kita mau cerita bakung kalau hutan, tanah, sungai itu sudah tidak ada lagi? Kan bakung itu bercerita soal leluhur, lingkungan, dan nasihat.”

KALTIMPOST.ID - Ketika waktu telah menunjukkan hampir petang, Hipui (64) teringat kenangan masa remaja ketika mendengar sebuah lantunan syair dari gawainya. Lantunan syair itu menembus ingatan masa lalu ketika masih mendiami pondok ladang bersama orangtua dan saudaranya di Naha Aruq, sebuah dusun yang jauh di pedalaman hulu Mahakam.

Baginya lantunan syair itu bukan sekadar nyanyian tanpa makna. Tetapi menyimpan berbagai cerita leluhur, petuah kehidupan, kejayaan masa lampau, dan keindahan bahasa yang dilantunkan dalam satu tarikan napas pelantunnya.

Masyarakat Bahau Busang menyebutnya sebagai bakung, sebuah syair yang menceritakan berbagai pesan moral, kebudayaan masa lampau, laku kehidupan sehari-hari, kepahlawanan, maupun cerita bersifat menghibur ataupun kesedihan secara lisan.

“Bakung bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berkelompok, satu orang melantunkan cerita, kemudian yang lainnya ikut serta sahut-menyahut,” ujar Hipu mencoba menjelaskan.

“Kadang-kadang kalau mendengar bakung kita bisa tertawa atau sedih, bergantung pelantun membawakan tema ceritanya tentang apa. Misalnya, kalau ia membawa cerita tentang anak hulaq (anak hatim piatu), kita sedih mendengarnya.”

“Pelantun bisa dibawa oleh siapa saja. Namun syaratnya ia harus paham seluk-beluk sejarah suku, memiliki suara merdu, dan cakap bercerita. Karena itu, bakung biasanya dibawakan oleh kalangan yang sudah berumur, karena mereka paham soal-soal semacam itu. Bukan juga kita meremehkan yang muda, kalau ada anak-anak muda yang mau belajar bakung boleh-boleh saja, lebih bagus lagi.”

“Memang sekarang sudah jarang orang yang bisa melantunkan bakung, karena pengaruh zaman, minim juga anak muda yang mau belajarnya. Padahal rindu juga kita mau dengar lagi suara bakung, teringat kampung halaman beberapa waktu silam. Bisa dihitung jari saja yang bisa membawakannya lagi sekarang.”

Tergilasnya sastra lisan milik Suku Dayak Bahau Busang ini juga disebabkan terbukanya belantara rimba hutan Suku Dayak oleh derasnya arus modernisasi. Yang mengubah masyarakat dengan cepat sehingga membuat orang Dayak meninggalkan adat dan agama leluhurnya. Kemudian menghantarkan orang-orang Dayak berjalan dalam kelimpungan menuju masa depan.

Menurut Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat yang melakukan penelitian soal Sastra Lisan di kalangan Suku Kayaan Mendalam, bakung adalah sejenis syair yang berasal dari kelompok saudara mereka di Mahakam yakni Kayaan Mahakam (Kayaan Mekaam). Dalam hal ini kelompok Kayaan Mahakam biasa juga menyebut dirinya sebagai Bahau Busang. Sedangkan menurut mendiang Pastor Ding Ngo, di Mendalam kata Bahau tidak digunakan lagi atau tidak didengar lagi, padahal orang Kayaan Mendalam adalah orang Bahau juga (Ngo, 1989).

Dalam buku berjudul Kitab Hukum Adat Dayak Mahakam Ulu menyebutkan bahwa Bahau Busang memiliki sub suku sebagai berikut; Umaq Suling, Umaq Tuan, Umaq Bangkelau, Umaq Urut, Umaq Sam, Umaq Paloq, Umaq Tepe, Umaq Palaq, Umaq Wak, Umaq Lakuwe, dan Umaq Mahaak.

Setidaknya sastra lisan daerah memiliki empat fungsi. Pertama, untuk mengisi waktu senggang dan alat hiburan. Kedua, alat pendidikan dan penerus nilai-nilai luhur. Ketiga, alat menyatakan kehendak dan keinginan untuk berhubungan dengan kekuatan magis. Terakhir, alat mempererat hubungan dan berkenalan dengan orang baru (Yonathan dkk., 1999).

“Bakung ini bisa juga dibuat waktu kita selesai kerja di ladang. Orang buat bakung untuk menghibur kita yang capek setelah bekerja. Bakung juga biasanya dibuat ketika orang meninggal, maksudnya mereka lantunkan bakung ini untuk mengantarkan arwah menuju ke surga (telaang julaan). Juga bakung digunakan untuk menasihati anak-anak muda dalam pergaulan sehari-hari, maupun yang telah bertunangan dan ingin menikah,” kata Hipui.

“Mendiang buyut laki atau bapaknya nenek ini dulu pintar bikin bakung. Tahun 70-an ketika kami masih tinggal di Umaq Mahak Teboq, buyut laki itu sering dipanggil ke rumah-rumah untuk buat bakung, mulai dia dari malam tembus sampai subuh nanti baru selesai.”

“Buyut itu buat bakung aja semalaman, kuat ingatannya, nda ada dulu pakai segala HP atau alat tulis, kuat betul ingatan dia. Beda kita sekarang, baru ketemu orang aja, habis 10 menit kita nda ketemu lagi mungkin sudah lupa nama orangnya.”

Ketua Dewan Aliansi Masyarakat Adat Kalimantan Timur, Margaretha Seting Beraan (50), yang berdarah Dayak Bahau Busang juga turut memberikan penjelasan soal tradisi lisan Bakung ini. “Kalau Bakung ini sebenarnya bercerita atau menceritakan sesuatu tentang riwayat, kejadian, dan nasihat. Jadi lebih ke sastra bakung ini, ceritanya disampaikan dengan bernyanyi, bahasanya juga harus berseni atau bersyair, bisa kita sebut juga bersajak.”

“Pengalaman semasa kecil di kampung halaman dulu, biasanya bakung ini dibuat ketika orang bikin ladang, waktu istirahat bekerja di ladang, maka pilihannya untuk menghibur diri di kala kelelahan, biasanya orang tua saat berkumpul yang menyanyikannya.”

Selain itu, bakung juga biasa dilantunkan pada saat momen-momen tertentu seperti upacara adat Dayak Bahau Busang. Si pelantun akan dipilih dan ia akan melantunkan syair yang sesuai dengan upacara adat tersebut.

“Pada saat upacara adat Dangai Besar, bakung juga biasa dilantunkan. Mereka akan cerita soal-soal kesejarahan. Memang pelantun bakung ini harus betul-betul paham dengan cerita yang ingin disampaikannya.”

Di masa kini pelantun bakung semakin sulit dicari, keberadaan pelantunnya hanya dapat ditemukan di wilayah Mahakam Ulu. Bahkan menurut Seting, tradisi lisan ini telah hampir dikatakan punah.

“Tahun 1980-an ketika saya masih kecil, Bakung itu sebenarnya sudah mulai langka yang bisa menuturkannya. Apalagi ketika itu kita sudah pindah ke kota, jadi jarang sudah dengar bakung itu.”

“Kalau sekarang pelantunnya ada beberapa saja di wilayah Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu, sisa yang tua-tua saja. Hampir punah lah kalau bisa dikatakan, karena memang perkembangan zaman juga, seturut itu bakung ditinggalkan.”

Tradisi lisan Suku Dayak sering kali memang dituturkan kalangan yang telah berumur. Hal ini menyebabkan anak-anak muda Suku Dayak jarang sekali yang dapat menuturkan tradisi lisan tersebut. Sehingga hal tersebut tidak mendukung perkembangan tradisi lisan di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, tradisi lisan daerah cenderung mengalami kepunahan (Hanye dkk., 1998).

Peran pemuda dan pemudi adat Dayak Bahau menjadi sangat penting dewasa ini untuk kembali melestarikan salah satu tradisi lisan yang diwariskan leluhur.

Lung Ngo (27), salah seorang pemuda adat Dayak Bahau Busang menyampaikan pesan bagi para pemuda dan pemudi lainnya untuk terus melestarikan salah satu kebudayaan yang memiliki nilai sakral ini.

“Sebenarnya aku sudah pernah sampaikan ke beberapa kawan untuk mencintai adat dan kebudayaan kita orang Bahau ini, yaitu dimulai dari cintai adat dan sumber adatmu itu. Sumber adat ini kan yaitu hutan, sungai, dan tanah.”

“Nah, sekarang itu semua hampir sudah tidak ada karena perusahaan. Jadi kebudayaan kita sekarang ini cuma sekadar jadi bahan tontonan tanpa tahu makna yang mendalam. Bagaimana kita mau cerita bakung kalau hutan, tanah, sungai itu sudah tidak ada lagi? Kan bakung itu bercerita soal leluhur, lingkungan, dan nasihat.

Ia berpesan, bila anak muda mau melestarikan bakung, maka pilihannya adalah mempertahankan hutan, tanah, dan sungai yang dimiliki. Jika itu semua hilang, hilang juga sumber-sumber pengetahuan leluhur itu.

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa langkah yang dapat diambil adalah dengan cara pendokumentasian kembali bakung. “Yang paling penting pendokumentasian terhadap bakung, bisa di tuliskan beberapa yang sering dilantunkan zaman bahari, itu bisa menjadi dasar untuk memulai syair bakung lainnya.”

“Bakung juga bisa masuk dalam ranah pendidikan adat atau muatan lokal di sekolah-sekolah di Mahakam Ulu. Itu salah satu cara agar anak-anak ke depan punya memori dan kecintaan kepada adat serta maksud isi bakung tersebut.” (*)

Editor : Duito Susanto