KALTIMPOST.ID, Lagi-lagi wacana perihal peran kaum muda kian menarik perhatian saya. Bagaimana tidak, ditilik dari perjalanan bangsa, kiprahnya sukar dibantah. Sepak terjangnya sebagai konseptor dan sekaligus aktor perubahan sulit ditepis.
Sebab itulah, meremehkan dan apalagi mengkerdilkan keberadaan kaum muda merupakan kekeliruan cukup fatal. Sebab, di dalam diri kaum muda terdapat potensi fisikal, intelektual, emosional, dan bahkan spritual.
Ide-ide brilian dan progresif kaum muda diharapkan membawa angin segar. Sepak terjangnya dinanti-nanti mampu membangkitkan spirit optimisme. Terutama dalam menyongsong masa depan bangsa yang gemilang.
Apalagi, kita sedang berkemas-kemas menuju Indonesia Emas 2045. Tentu saja, langkah dan gerakan kaum muda didambakan mampu menjadi katalisator pembangunan nasional di segala bidang.
Hemat saya, gebrakan dan terobosan kaum muda bisa menjadi 'problem solver'. Terkait hal tersebut, memang betul bahwa kaum kaum muda perlu 'menjemput bola' dan cekatan membaca tanda-tanda perubahan zaman. Jika tidak, bersiap-siaplah diterjang dan dihempaskan gelombang perubahan zaman.
Baiklah, mari sejenak kita refleksi diri. Di negeri ini, tidak kekurangan pemuda-pemuda yang cakap dan pintar. Sebagian memiliki gelar yang berderet-deret. Yang jebolan kampus ternama, baik di dalam maupun luar negeri, jumlahnya tidak terhitung.
Mulai dari Sarjana, Magister, hingga Doktor sekalipun, bertebaran di mana-mana. Pakar-pakar di pelbagai bidang juga tidak sedikit. Mulai dari pakar ekonomi, hukum, politik, budaya, pertanian, kelautan, dan sebagainya.
Namun, di balik membeludaknya kuantitas pemuda terdidik, sejumlah persoalan masyarakat masih datang silih berganti; sambung menyambung tiada henti. Seolah semakin banyak dan kompleks.
Di bidang ekonomi misalnya: pengangguran masih membeludak, ketimpangan pendapatan antar-warga, kekayaan negara dikuasai segelintir elite, kemiskinan tak terkendali, keadilan ekonomi dan kesejahteraan sosial masih menjadi harapan yang tak kunjung tiba, dan masih banyak lagi yang tak mungkin saya tuangkan semua dalam catatan ini.
Menyikapi hal itu, dalam rangka menjadi problem solver, sudah semestinya pemuda mempersiapkan semuanya sedini mungkin. Termasuk menempa diri menjadi calon pemimpin harapan umat.
Artinya, pemuda harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak labil alias bingung dengan identitas dirinya. Jiwa dan raganya betul-betul bangun untuk berjuang dan berkorban demi rakyat.
Tidak cukup modal ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam. Tidak cukup lewat kecakapan mengoperasikan teknologi digital atau penguasaan bahasa asing.
Lebih dari itu, perlu juga memiliki jiwa kepemimpinan, inisiatif yang tinggi, keberanian mengambil risiko, manajemen waktu, sensitivitas sosial, kemampuan menjalin relasi dan kerja sama, dan mentalitas yang kokoh.
Pemuda bisa menjadi problem solver ketika empati dan simpati terhadap masalah sosial terbentuk. Tidak hanya memiliki visi dan misi yang jelas. Namun juga kemampuan mengaplikasikan visi dan misinya lewat tindakan-tindakan nyata secara konsisten.
Sebab problem solver itu sesungguhnya tidak hanya jago berwacana, berteori, berdebat, dan berpidato. Lebih dari itu, membuktikan lewat tindakan nyata.
Problem solver itu adalah mereka yang segera beranjak mengambil peran meskipun lewat aksi-aksi kecil dan sederhana. Saya percaya, dengan kekuatan keyakinan, cahaya ilmu, dan keistikamahan, pemuda hari ini bisa menciptakan arus perubahan. Bahkan, mampu menciptakan gelombang besar menuju kejayaan bangsa.
Sekali lagi untuk memungkasi catatan ini, saya tegaskan bahwa kecerdasan, integritas, kepekaan, kreativitas, inovasi, kepemimpinan, nasionalisme dan patriotisme kaum muda menjadi modal utama untuk memperkuat perannya sebagai problem solver.
*) Esais
Editor : Almasrifah