Oleh:
dr Gracecika Marthgareth Harianja
Alumnus Universitas Mulawarman
KALTIMPOST.ID-Bagi banyak orangtua, kehilangan penglihatan bukan terjadi seketika, melainkan perlahan, tanpa rasa sakit, tanpa disadari.
Dunia yang dulu cerah mulai memudar, warna berubah suram, dan wajah cucu yang datang menyapa tak lagi tampak jelas.
“Seperti melihat dari balik jendela berkabut,” begitu sering pasien menggambarkannya. Inilah katarak, penyakit mata yang pelan tapi pasti mencuri cahaya dari jutaan orang di seluruh dunia.
Menurut World Health Organization (WHO), katarak menjadi penyebab sekitar 45 persen kebutaan global.
Di Indonesia sendiri, data Kementerian Kesehatan tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 1,6 juta orang hidup dalam kebutaan, dan lebih dari separuhnya disebabkan oleh katarak.
Padahal, penyakit itu bisa disembuhkan sepenuhnya melalui operasi sederhana. Sayangnya, banyak yang terlambat mendapat pertolongan karena menganggap penglihatan kabur adalah bagian alami dari penuaan, padahal itu tanda bahwa mata sedang meminta tolong.
Katarak terjadi ketika lensa mata, bagian bening yang berfungsi memfokuskan cahaya ke retina, menjadi keruh.
Akibatnya, cahaya tidak dapat menembus sempurna, membuat pandangan menjadi buram, berkabut, atau silau saat terkena cahaya.
Proses itu umumnya terjadi perlahan seiring bertambahnya usia. Namun bisa dipercepat oleh berbagai faktor seperti paparan sinar ultraviolet berlebih, diabetes (kencing manis), cedera mata, penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang, serta kebiasaan merokok dan kurangnya asupan antioksidan.
Kondisi itu bukan hanya menurunkan ketajaman penglihatan, tetapi juga kualitas hidup. Banyak lansia kehilangan kemandirian karena kesulitan membaca, memasak, atau berjalan tanpa bantuan.
Mereka menjadi bergantung pada keluarga, bahkan takut keluar rumah karena khawatir terjatuh.
Secara sosial, kebutaan akibat katarak dapat memicu isolasi, depresi, serta menambah beban ekonomi keluarga.
Padahal, dengan pengobatan tepat, mereka bisa kembali aktif, produktif, dan menikmati masa tua dengan lebih bermakna.
Kabar baiknya, pengobatan katarak kini semakin aman dan efektif. Operasi katarak modern dilakukan dengan teknik fakoemulsifikasi, yaitu menghancurkan lensa yang keruh menggunakan getaran ultrasonik, lalu menggantinya dengan lensa tanam/lensa buatan jernih (Intraocular Lens/IOL).
Prosedur itu umumnya hanya memakan waktu sekitar 15–30 menit, dilakukan dengan pembiusan lokal tanpa perlu rawat inap.
Pasien biasanya sudah dapat pulang di hari yang sama, dan mulai melihat lebih terang dalam beberapa hari pascaoperasi.
Lebih dari 95 persen pasien mengalami perbaikan penglihatan signifikan bila tidak ada penyakit mata penyerta. Utamanya yang merusak saraf penglihatan, seperti glaukoma atau retinopati diabetik.
Bagi banyak orang, momen pertama kali melihat terang kembali setelah operasi menjadi pengalaman yang menggetarkan hati, seakan “melihat dunia lahir kembali.”
Banyak pasien menangis bahagia saat bisa melihat wajah orang yang mereka cintai dengan jelas setelah bertahun-tahun hidup dalam kabut penglihatan.
Namun, tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan akses dan kesadaran. Di banyak daerah terpencil, penderita katarak belum menjangkau layanan kesehatan karena kendala ekonomi, jarak, dan minimnya informasi.
Banyak yang menunggu hingga penglihatan benar-benar hilang sebelum mencari bantuan. Maka, pemerintah bersama organisasi sosial dan profesi medis terus menggencarkan program operasi katarak gratis di seluruh Indonesia. Termasuk melalui bakti sosial dan kegiatan kemanusiaan di pelosok negeri.
Program itu menjadi bukti nyata bahwa kebutaan akibat katarak bukan takdir, tetapi masalah yang bisa diatasi bila ada kepedulian bersama.
Peringatan World Sight Day 2025, Hari Penglihatan Sedunia yang mengusung tema “Love Your Eyes — Putting People at the Heart of Eye Health” menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mata.
Kampanye itu menekankan bahwa kesehatan mata bukan sekadar urusan medis. Tetapi juga bentuk kasih terhadap diri sendiri dan sesama.
Setiap orang berhak melihat dunia dengan jelas, dan setiap tindakan kecil. Mulai pemeriksaan rutin hingga memberi edukasi kepada keluarga, bisa membantu mencegah kebutaan yang sebenarnya bisa dicegah.
Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Gunakan kacamata hitam saat beraktivitas di bawah matahari untuk melindungi mata dari radiasi UV.
Konsumsi makanan kaya antioksidan seperti bayam, wortel, alpukat, dan buah beri untuk menjaga kesehatan lensa mata.
Hindari merokok, karena bahan kimia dalam rokok dapat mempercepat proses kekeruhan lensa.
Bagi penderita diabetes, menjaga kadar gula darah tetap stabil juga menjadi kunci penting agar katarak tidak berkembang lebih cepat.
Selain itu, penting bagi masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri ke dokter spesialis mata begitu mulai merasakan perubahan penglihatan.
Pemeriksaan rutin setiap dua tahun sekali, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, bisa membantu mendeteksi katarak sejak dini.
Dengan diagnosis dan tindakan yang cepat, kebutaan akibat katarak dapat dicegah sepenuhnya.
Katarak mungkin bagian alami dari proses menua, tetapi kebutaan bukanlah takdir. Dengan deteksi dini, pengobatan tepat, dan dukungan keluarga, setiap orang dapat kembali melihat dunia yang penuh warna.
Karena tidak ada yang lebih berharga dari sepasang mata yang kembali menatap terang setelah lama hidup dalam kabut. (rd)
Editor : Romdani.