MUNGKIN Mohammad Elham Yahya Luqman atau Gus Elham tidak pernah membayangkan sebelumnya akan menjadi buah bibir warga seantero negeri ini. Bukan karena prestasinya, tapi justru karena tindakan kontroversialnya. Da’i muda asal Kediri tersebut viral di jagat maya usai menciumi beberapa anak perempuan ketika pengajian. Sontak, aksinya itu dikecam beragam lapisan masyarakat. Beberapa pentolan Nahdlatul Ulama (NU), Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga ramai-ramai memberikan pernyataan keras atas tindakan pendiri Ponpes Al-Ikhlas 2 dan Majelis Taklim Ibadallah itu.
Setelah banjir protes dan kecaman dari masyarakat, dia pun bergegas untuk minta maaf. Bahkan sampai mengulanginya hingga dua kali. Yang kedua dengan muka pucat dan tampak lesu. Tapi, persoalannya tidak selesai di situ. Video kontroversialnya terlanjur jadi konsumsi publik. Susah untuk dibendung. Bahkan, tidak sedikit yang menuntut agar Elham diseret ke meja hijau sebab dinilai melecehkan anak-anak dan merendahkan martabat perempuan. Hingga tulisan ini dibuat, kasusnya masih bergulir dan menyita perhatian khalayak luas.
Ringkas cerita, baru-baru ini, Elham masih menunjukkan batang hidungnya di muka umum. Ya, dia masih mengisi pengajian di majelisnya. Sah-sah saja. Tidak ada yang keliru. Tapi, yang patut menjadi perhatian adalah kegeraman publik atas aksi kontroversialnya itu masih belum redup. Artinya, permintaan maaf dan janji untuk memperbaiki sikap dinilai belum cukup. Lebih dari itu, publik juga ingin pertanggungjawaban atas aksinya tersebut.
Apalagi, dia dikenal luas sebagai pendakwah muda dengan ribuan jemaahnya. Selaku penulis, saya pun bertanya-tanya, apakah selama ini Elham mengabaikan etika dalam berdakwah? Padahal, sepengetahuan saya, setiap pendakwah harus ekstra hati-hati dalam berucap dan bertindak di muka umum. Sebab gerak-geriknya jadi sorotan dan pribadinya menjadi panutan.
Mengenai hal itu, izinkan saya mengutip pemikiran Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Quran. Fazlur menuturkan, “tidak diragukan lagi, bahwa tujuan sentral Alquran adalah untuk menciptakan sebuah tata sosial yang mantap dalam hidup di muka bumi, yang adil dan diasaskan pada etika”. Etika sebagai pondasi masyarakat memerlukan panduan dan kontekstualisasi sesuai perkembangan manusia. Masyarakat akan pincang jika nilai-nilai etika bersama rapuh, kabur, dan sudah tidak dipedomani. Dalam konteks kasus Elham, mungkin dia kebablasan sampai-sampai melabrak rambu-rambu yang harus dipatuhi. Atau memang tabiatnya demikian? Entahlah.
Kemudian, muncul pertanyaan lainnya yang menyeruak yaitu kenapa dalam berdakwah memerlukan etika? Bukankah para juru dakwah memang bertugas dan bertanggung jawab untuk menyeru jemaahnya untuk taat kepada Tuhan, untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar? Ya, memang idealnya, pendakwah tidak asal ceplas-ceplos di atas mimbar/panggung. Apalagi asal cium sana cium sini. Apalagi melontarkan ujaran kebencian, provokasi, adu domba, dan fitnah. Itu sama sekali berseberangan dengan tujuan dari dakwah itu sendiri. Sebab memang, kita sendiri tidak bisa menutup mata bahwa tidak jarang ada oknum pendakwah yang menjadi provokator dan bahkan menjadi alat kepentingan politik tertentu.
Tidak hanya pada kasus Gus Elham, jika ditelisik lebih lanjut lagi, ada beberapa pendakwah yang mungkin kerap memicu keresahan dan pergesekan sosial. Bukannya menjadi penenang dan peneduh di tengah masyarakat. Sebaliknya, justru jadi “kompor” yang memanas-manasi keadaan. Akibatnya sesama warga masyarakat saling curiga, saling benci, pecah belah, dan bahkan mungkin sampai adu jotos. Itu bisa saja terjadi ketika dakwah hanya dijadikan profesi tanpa tanggung jawab moral. Padahal, dakwah sejatinya bertujuan untuk mengajak orang-orang bisa meningkatkan kadar keimanan, keilmuan, dan ketakwaannya.
Sebab itulah, etika dalam berdakwah, sekali lagi, menjadi suatu hal yang sangat penting untuk diaplikasikan. Tentu saja, agar para pendakwah juga lebih fokus pada esensi, bukan malah terjebak pada jokes-jokes atau humor yang kadang kebablasan. Selain itu, etika berdakwah juga berperan penting untuk menegaskan bahwa dakwah bukan hanya konten, tetapi amanah ilahiah yang menuntut integritas dan akhlak mulia. Implementasi etika dakwah terutama kejujuran, tanggung jawab, dan kehati-hatian menjadi sangat penting agar dakwah tetap kredibel dan terpercaya.
Sebab itu, meminjam pandangan Hidayat (2025), etika dakwah tidak hanya berfungsi sebagai kontrol moral, tetapi juga sebagai mekanisme untuk memastikan bahwa setiap pesan keagamaan disampaikan secara santun, bijak, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Pun demikian dengan Habibi (2018) yang menegaskan bahwa tanpa etika yang baik, dakwah bisa kehilangan substansi spiritualnya dan berubah menjadi ajang popularitas. Habibi juga menambahkan, dakwah yang dilakukan tanpa memperhatikan etika dapat menimbulkan resistensi sosial dan bahkan kontraproduktif terhadap tujuan dakwah itu sendiri.
Apalagi di era digital sekarang, tentu saja tanggung jawab para pendakwah kian kompleks. Karena saat ini, da’i-da’i kita juga kerap kali menyiarkan dakwahnya lewat beragam saluran media sosial (medsos). Bahkan, tak sedikit yang memiliki tim media untuk mempublikasikan konten-konten dakwah agar semakin luas. Maka wajar jika Amin Abdullah (2019) menyampaikan bahwa di era digital sekarang, tanggung jawab sosial seorang da’i meliputi tiga hal utama. Pertama, tanggung jawab epistemik, yakni memastikan kebenaran dan validitas informasi yang disampaikan. Kedua, tanggung jawab moral, yakni menjaga nilai-nilai Islam dalam setiap bentuk ekspresi digital. Ketiga, tanggung jawab sosial, yakni memperhatikan dampak sosial dan psikologis pesan terhadap masyarakat luas.
Memang mestinya dakwah itu harus dilakukan bil hikmah (dengan kebijaksanaan), memahami kondisi audiens, mau’izhah hasanah (nasihat yang baik), menggunakan bahasa yang lembut dan persuasif, merangkul dengan penuh welas asih. Dan tak kalah lebih penting lagi, para juru dakwah harus menjadi uswatun hasanah atau panutan bagi masyarakat luas. Baik dari tutur kata maupun tingkah lakunya harus selaras. Penuh dengan akhlak mulia. Dan jujur saja, kita sebagai masyarakat mendambakan pendakwah yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu. Mendambakan pendakwah yang benar-benar memiliki kepribadian yang luhur serta pantas dicontoh.
Untuk memungkasi catatan ini, perlu saya tegaskan kembali bahwa dunia dakwah bukanlah dunia hiburan, bukanlah tontonan yang hanya membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Jika demikian, tidak ada bedanya dengan stand up comedy. Dan tentu saja, besar harapan kita semua agar kasus Gus Elham dijadikan pelajaran bagi seluruh pendakwah di negeri ini, bahwa publik betul-betul memperhatikan, mengawasi, dan menilai gerak-gerik mereka. Maka etika dalam berdakwah, sekali lagi, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Lalu, mengenai hal itu, saya kira, gagasan mengenai penerapan sertifikasi bagi pendakwah layak kita kaji kembali.
*) Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
Editor : Thomas Priyandoko