KALTIMPOST.ID, Bagaimana jadinya jika influencer, yang pengikutnya sampai jutaan menjadi rujukan anak-anak muda kita. Rujukan dalam artian, dalam mereguk ilmu dan pengetahuan, dalam meniru sikap dan gaya hidupnya. Seolah para influencer tersebut bebas dari noda, tanpa cela, tak ada cacat. Memang, sudah menjadi rahasia umum bahwa popularitas, kadang menjadi modal utama dalam memengaruhi pikiran dan persepsi publik. Sejauh mana pengaruh yang ditimbulkan, itu terletak pada seberapa terkenal sosok tersebut.
Ucapan dan tindakannya yang nyeleneh pun, kita anggap sebagai suatu inovasi atau gebrakan yang patut untuk diapresiasi dan diikuti. Apalagi di era digital sekarang, kepakaran seseorang tidak menjadi jaminan otomatis langsung menjadi acuan masyarakat. Artinya, selain itu, kemasyhuran juga menjadi pertimbangan utama sebagian dari kita untuk mengikuti seseorang atau tidak. Apakah sikap semacam itu bisa dibenarkan atau ditolerir? Tentu dengan tegas saya jawab: Tidak.
Saya pribadi tidak menjadikan popularitas seorang di media sosial (medsos), baik di TikTok, Facebook, Instagram, dan sejenisnya, itu sebagai indikator utama seseorang pantas atau tidak pantas dijadikan acuan, layak atau tidak layak dijadikan rujukan. Sebab, sepengatahuan saya, banyak orang, barangkali di sekitar kita, yang betul-betul berilmu tapi tidak terkenal.
Entah itu, ahli di bidang agama, pertanian, ekonomi, politik, hukum, dan lain-lain. Hanya saja yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah keahlian seseorang itu harus ditampakkan lewat sertifikat atau ijazah yang diperoleh dari pendidikan formal? Bagaimana dengan mereka yang ahli tapi tak bersertifikat, tak berijazah, apakah pantas untuk diikuti?
Terkait hal itu, saya rasa, memang kita sendiri perlu jeli dalam membaca rekam jejak mereka yang dinilai berilmu tapi tak memiliki bukti formal. Salah satu caranya yaitu dengan mengenali lebih dekat sosok yang hendak kita jadikan rujukan tersebut.
Sebab, di negeri ini, banyak orang alim dan berpengetahuan luas yang tidak mengenyam pendidikan formal, tidak begelar sarjana, apalagi sampai profesor doktor. Tapi, keluasan dan kedalaman ilmunya tidak diragukan lagi. Di sinilah tantangan kita, yaitu bagaimana mampu memilih dan memilah sosok yang hendak kita jadikan rujukan dalam menimba ilmu.
Hanya saja, yang menjadi tantangan kita selanjutnya adalah bagaimana tidak cepat terpengaruh oleh para selebgram, selebtok, dan youtuber yang tiba-tiba muncul di beranda medsos kita dan menyikapi sebuah persoalan dan menjawab sejumlah pertanyaan, yang bukan menjadi bidangnya. Betapa banyak ustad-ustad dadakan muncul hanya karena “diangkat” oleh netizen.
Bermodalkan ketenaran, mereka dengan penuh keberanian dan percaya diri menyampaikan dakwah dan bahkan fatwa. Padahal, sebelumnya, jangankan pernah mondok, mengenal bangku madrasah saja belum pernah. Artinya, influencer-influencer tersebut patut dipertanyakan dan bahkan diragukan kapasitas keilmuan agamanya. Karena, sekali lagi, sangat potensial menimbulkan kesesatan di tengah masyarakat.
Belum lagi influencer yang tampil seoalah mengetahui, mengerti, dan memahami betul segala bidang keilmuan. Ambil contoh, ketika ada isu perihal ekonomi nasional, dia muncul dengan segala statement-nya. Saat gonjang-ganjing masalah politik, dia kembali muncul dengan segudang argumennya. Kala viral soal budaya, dia lagi-lagi tampil dengan segenap analisisnya.
Dan ironinya lagi, pernyataan-pernyataannya tersebut irasional, tidak masuk akal, tidak berlandaskan keilmuan, alias asal ceplas-ceplos, alias asbun atau asal bunyi. Tak jarang, publik pun dibuat bingung, dibikin gaduh, oleh sebab ungkapan-ungkapan kontroversialnya yang tak berdasar tersebut. Entah apa maksud dan tujuannya. Bisa-bisanya oknum influencer tersebut dengan tanpa rasa malu tampil seolah menjadi lulusan kampus yang bergelar “SSB”, Sarjana Segala Bidang.
Di lain sisi, mereka yang benar-benar pakar, betul-betul ahli, dan memiliki ilmu yang mumpuni, lambat laun terpinggirkan. Kalah dengan para influencer yang aktif bersuara di medsos. Meskipun, suaranya yang didengungkan di jagat maya itu, sebagian kadang serampangan, ngalur ngidul, dan di luar nalar sehat. Mirisnya, sebagian pengikutnya masih percaya, yakin betul dengan apa yang keluar dari mulutnya itu.
Entah doktrin apa yang dipakai, sampai-sampai sebagian pengikutinya di medsos menelan mentah-mentah segala pernyataannya, bahkan ada yang membabibuta membela junjungannya tersebut jika ada yang mengusik. Boleh dikatakan pengikut fanatik. Boleh juga disebut fans garis keras. Dalam hal ini, sekali lagi, kepakaran dikalahkan oleh ketenaran.
Salah satu bukti nyata kepakaran hampir menemukan ajalnya yaitu ketika ada dosen berceloteh dan berkeluh kesah di medsos Threads. Ahamad Junaidi namanya. Dia jebolan S3 Monash University. Kampus, yang hemat saya, bukan kaleng-kaleng. Ringkasnya, di laman medsosnya, Junaidi bercerita bahwa dirinya diundang oleh sejumlah mahasiswa untuk mengisi acara workshop. Usut punya usut, dia ternyata hanya diberikan honor Rp 300 ribu oleh panitia.
Sebenarnya yang menjadi poinnya bukan jumlah honornya. Tapi, di waktu yang bersamaan, panitia juga memberikan honor yang nominalnya sampai belasan juta kepada influencer yang mengisi acara yang sama dengan Junaidi. Sungguh, nominal yang sangat jomplang. Bahkan, bisa dikatakan semacam “penghinaan halus” kepada Juanaidi selaku dosen profesional.
Dari kisah tersebut, menjadi potret nyata, bahwa pakar tidak selamanya dihargai mahal. Keilmuan, kemampuan, dan jam terbang seseorang tidak jarang dibayar murah atau bahkan dibayar ala kadarnya. Atau bahkan, hanya mendapatkan sertifikat dan ucapan terima kasih dari panitia. Begitulah fakta di lapangan.
Saya pun pernah mengalami kasus yang mirip-mirip dengan Junaidi. Beberpa tahun silam, ada organisasi pemuda, saya tidak sebut namanya (rahasia perusahaan), yang mengudandang saya untuk mengisi materi kepenulisan. Organisasi tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Artinya, saya tidak pernah berkader di dalamnya. Saat itu, saya berada di Pamekasan, Madura. Tanpa berpikir panjang, demi pencerahan umat, saya bergegas menuju Surabaya.
Sesampainya di Surabaya, ada beberapa pemateri lainnya, yang juga mengisi materi tentang kepemudaan. Saya kebagian materi tentang literasi. Singkatnya, setelah acara selesai, ternyata saya mendapatkan 2M: Makasih, Mas, plus sertifikat sebagai pemateri. Apakah dapat honorarium? Alhamduilllah, belum. Apakah saya mengincar uang ketika mengisi materi? Tentu saja tidak.
Apakah saya ikhlas? Biarlah itu urusan saya dengan Tuhan. Yang membuat saya penasaran adalah apakah pemateri lainnya juga mendapatkan 2M? Entahlah. Semisal faktanya, mereka mendapatkan honor, sementara saya tidak, sungguh itu sebagai “kriminal”, setidaknya kriminal dalam “dunia peramplopan”. Dan saya rasa, tidak hanya saya yang mengalami hal semacam itu. Di luar sana, masih banyak pemateri-pemateri lainnya yang dipatok harga murah atau bahkan gratis oleh panitia.
Kembali lagi terkait matinya kepakaran, itu sebenarnya sudah menjadi perbincangan hangat di beberapa tahun lalu. Saya pun tidak hendak melakukan generalisasi bahwa semua influencer itu tidak memiliki keahlian atau kepakaran di bidang terentu. Sebab, faktanya adalah banyak pakar/ahli yang juga merangkap jadi influencer. Dan itu menjadi angin segar bagi kita, khususnya warganet, dalam mencari alternatif orang yang bisa dijadikan rujukan.
Jadi, inti dari catatan ini, adalah jika hendak bertanya atau menimba ilmu di dunia digital, perhatikan dulu rekam keilmuan, rekam karya, rekam kerja, rekam kontribusi dan pengabdian mereka. Lihat juga keselarasan sikapnya di dunia maya dan nyata. Jangan-jangan tokoh yang kita rujuk memiliki kepribadian ganda, bertopeng, alias munafik.
Apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang dikerjakan, Berlawanan dengan sikap dan gaya hidupnya. Bergurulah kepada mereka yang jelas, dalam, dan luas ilmu dan pengetahuannya, serta luhur budinya. Sebab, percayalah, tidak semua manusia itu memiliki kemampuan untuk menguasai semua bidang. Hati-hatilah dengan influencer yang hanya berorientasi pada viralitas dan popularitas.
*) Esais asal Madura
Editor : Almasrifah