Oleh:
Wiwik Setiawati
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Kaltim
KALTIMPOST.ID-Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) masih mengalami ketimpangan guru baik secara kuantitas maupun kualitas.
Sistem insentif yang atraktif dan berbagai inisiatif bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah itu.
Kawasan IKN di Kaltim hingga daerah-daerah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini seakan menjadi jantung pembangunan Indonesia. Para pekerja berdatangan untuk mengerjakan proyek siang dan malam.
Gedung-gedung baru berdiri dengan masif. Sentra-sentra usaha pun bermunculan hingga memutar roda ekonomi makin cepat.
Data Pemprov Kaltim menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada 2025 di angka 5,2 persen bahkan pernah menyentuh tujuh persen pada triwulan I 2024.
Secara khusus, Penajam Paser Utara (PPU) yang menjadi lokasi IKN, mencatat pertumbuhan tertinggi se-Kaltim, dengan peningkatan lebih dari 30 persen pada 2024.
Ironisnya, kemajuan pembangunan fisik di wilayah itu berbanding terbalik dengan kondisi sumber daya manusia (SDM) terutama di sektor pendidikan.
Di Kaltim, jurang ketimpangan distribusi dan kualitas guru masih menganga. Dari segi jumlah, pada 2023 kebutuhan guru di Kaltim sekitar 10 ribu orang.
Sementara yang tersedia hanya 7.000-an orang. Artinya masih ada kekurangan guru sekitar 3.000 orang.
Padahal, seiring masifnya pembangunan dan perpindahan penduduk ke IKN, kepelruan guru dengan kemampuan spesifik juga harus terpenuhi dengan optimal.
Tenaga pendidik juga harus mampu menjawab tantangan kurikulum dan kualitas pendidikan di wilayah yang bakal menjadi kota nomor satu di Indonesia.
Mengingat urgensi kondisi tersebut, keperluan dan ketersediaan guru di kawasan IKN harus segera dipetakan.
Lebih lanjut lagi, kualitas para tenaga pendidik di kota masa depan itu juga harus diidentifikasi untuk ditingkatkan melalui berbagai strategi.
MEMETAKAN KETIMPANGAN
Jika ditelaah lebih jauh, keterbatasan jumlah guru di sejumlah wilayah di Kaltim tak lepas dari masalah akses di wilayah tersebut.
Situasi itu terutama terjadi di daerah-daerah pedalaman seperti Mahakam Ulu (Mahulu). Di kawasan hulu Sungai Mahakam ini, wilayahnya didominasi perbukitan dengan medan yang menantang.
Sementara kondisi sungainya sangat bergantung musim: berarus deras di musim hujan, tapi air menyusut drastis pada musim kemarau sehingga membuat transportasi sungai terganggu.
Walhasil, akses para guru ke sekolah dan waktu untuk bertemu murid-murid terhambat. Selain itu, kondisi tersebut juga berdampak terhadap berkurangnya intensitas pendampingan bagi kepala sekolah dan pengawas.
Belum lagi jika menyangkut soal kesejahteraan yang masih dialami banyak tenaga pendidik. Pada awal tahun ini, berita mogok belajar dari guru-guru Mahulu yang menuntut keadilan tunjangan sempat menghiasi media-media lokal.
Bukan hanya di wilayah pedalaman, persoalan terkait guru kini juga dihadapi di wilayah Otorita IKN.
Para tenaga pendidik di pusat pembangunan IKN saat ini dituntut untuk melakukan peningkatan kompetensi secara cepat dan berkelanjutan.
Langkah itu tentu saja demi mengimbangi laju pembangunan dan persiapan wilayah ini sebagai ibu kota negara yang baru.
Selain warga lokal, dalam waktu dekat, para ASN dan pendatang dari berbagai wilayah akan tinggal di IKN dan sekitarnya.
Anak-anak mereka tentunya memerlukan pendidikan dengan standar ideal yang harus dipenuhi.
Bahkan dalam rencana induk pengembangan IKN akan dihadirkan pendidikan bertaraf internasional.
Kualitas pendidikan di kawasan IKN yang akan menjadi “kota dunia” sudah semestinya tak biasa-biasa saja.
Dengan demikian, mutu gurunya juga harus lebih baik dari daerah-daerah lain, bahkan memiliki perspektif dan kompetensi global.
SISTEM INSENTIF
Sebagai unit layanan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) telah berperan dalam memastikan kompetensi guru, mulai upaya pemetaan, pengembangan kapasitas, hingga monitoring kualitas tenaga pendidik.
Demikian pula yang telah ditempuh BGTK Kaltim di Kaltim. Seperti telah dijabarkan sebelumnya, semua tantangan peningkatan kompetensi guru telah dipetakan seperti kesenjangan rasio guru, rendahnya tingkat sertifikasi profesi, hingga keterbatasan akses dan medan, serta yang terbaru kualitas di kawasan IKN.
Guna menjawab tantangan itu, sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah mengubah fokus investasi.
Pembangunan tidak bisa lagi didominasi oleh beton dan baja. Prioritas harus dialihkan sepenuhnya pada pembangunan SDM.
Titik awalnya bisa dimulai dari penataan ulang terhadap sistem penempatan guru. Distribusi tenaga kependidikan secara adil dan merata harus dilakukan, terutama untuk daerah-daerah yang kekurangan guru.
Selain itu, mengejar target 100 persen guru bersertifikasi profesi, terutama di daerah-daerah yang belum memenuhi capaian itu, harus digenjot.
Tahun ini melalui Direktorat Pendidikan Profesi Guru (PPG), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berfokus pada penuntasan sertifikasi bagi guru tertentu yang sedang mengajar di sekolah.
Itu sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 19 Tahun 2024 tentang Pendidikan Profesi Guru.
Kesempatan itu diutamakan untuk semua guru yang sudah bertugas namun belum mengikuti PPG.
Kesempatan itu dibuka sampai tanggal 19 Desember 2025 untuk mendaftar melalui SIMPKB (Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian yang Berkelanjutan). Sehingga tahun 2026, PPG akan difokuskan pada calon guru.
Langkah itu sebagai upaya memberi jaminan profesionalitas terhadap tenaga pendidik di Indonesia, terutama di Kaltim. Tidak kalah penting, perlunya program pengembangan kompetensi berkelanjutan kepada guru-guru lokal.
Kapasitas para guru mesti ditingkatkan melalui berbagai pelatihan, workshop, atau pendampingan terkait metode pendidikan termutakhir, seperti metode pembelajaran mendalam, pengajaran yang interaktif dan menyenangkan, hingga strategi-strategi transformasi pendidikan lainnya.
Berbagai upaya itu harus diperkuat melalui sinergi multi-pihak. Seperti yang ditempuh Otorita IKN baru-baru ini yang mengadakan pelatihan pola pikir bertumbuh (growth mindset) dengan menghadirkan guru SD muda lulusan mancanegara yang menginspirasi.
Praktik-praktik baik dan inisiatif swasta seperti organisasi filantropi Tanoto Foundation juga bisa diadopsi.
Melalui program PINTAR, Tanoto Foundation telah mengadakan berbagai pelatihan peningkatan kapasitas guru yang mencakup pembelajaran aktif, manajemen berbasis sekolah, hingga penguatan literasi dan numerasi.
Program-program itu terbukti menjadi terobosan dan efektif meningkatkan kapasitas guru dan kepala sekolah di Kaltim.
Namun dari sejumlah strategi itu, kunci utama dalam mengatasi ketimpangan guru di kawasan IKN adalah menciptakan sistem insentif yang atraktif dan berani.
Sistem insentif itu harus melampaui sekadar gaji, yakni meliputi tunjangan khusus daerah terpencil, percepatan jalur karier, dan jaminan fasilitas memadai, termasuk keamanan dan kesehatan.
Sistem insentif tersebut adalah investasi strategis untuk menarik dan mempertahankan guru agar bersedia mengabdikan diri di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) seperti Nunukan, Malinau, dan Mahulu.
Sistem itu akan menjamin para guru memiliki motivasi dan profesionalisme yang setara dengan rekan-rekan mereka di kota-kota besar.
Para guru juga akan fokus dan sepenuh hati dalam kegiatan belajar mengajar tanpa memikirkan kebutuhan sehari-hari.
Dampak lainnya, SDM dan talenta terbaik di bidang pendidikan, terutama dari generasi muda, bakal bersedia mengajar di wilayah tersebut.
Tanpa intervensi yang berani dan terstruktur dari pemerintah, BGTK, dan seluruh mitra pendidikan, ketimpangan yang menganga itu akan terus menghambat potensi jutaan anak di daerah terpencil.
Masa depan Kaltim dan Kaltara, sebagai gerbang Indonesia dan jantung IKN, pun dipertaruhkan hari ini.
Sesungguhnya tak hanya di kawasan IKN, di mana pun mereka berada, setiap anak harus dipastikan mendapatkan guru yang kompeten dan berdedikasi.
Dengan begitu, kita bisa benar-benar menutup jurang ketimpangan pendidikan yang menganga lebar.
Transformasi pendidikan di IKN melalui peningkatan kualitas guru ini menjadi momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia unggul di seluruh wilayah Indonesia. Selamat Hari Guru, Guru Hebat, Indonesia Kuat. (rd)
Editor : Romdani.