Oleh:
dr Gracecika Marthgareth Harianja
Alumnus Universitas Mulawarman
KALTIMPOST.ID-Pada zaman digital yang serba-cepat, kehidupan manusia nyaris tidak terlepas dari layar.
Pekerjaan, pendidikan, hingga hiburan kini sangat bergantung pada perangkat seperti komputer, tablet, dan ponsel.
Namun di balik kemudahan teknologi, tersembunyi ancaman bagi kesehatan mata yang semakin sering ditemui. Yaitu Computer Vision Syndrome (CVS) atau Digital Eye Strain.
CVS merupakan kumpulan gejala yang muncul akibat penggunaan perangkat digital dalam waktu lama.
Mata manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus menatap satu titik dekat selama berjam-jam.
Ketika otot-otot mata dipaksa bekerja tanpa henti untuk menjaga fokus, timbullah keluhan seperti mata lelah, kering, perih, penglihatan kabur, sakit kepala, serta nyeri di leher dan bahu.
Berbeda dengan kelainan refraksi seperti rabun jauh (mata minus/myopia) atau astigmatisma (silinder) yang bersifat struktural, CVS bersifat fungsional dan biasanya akan membaik jika faktor penyebabnya dikendalikan.
Salah satu alasan utama mata cepat lelah saat menatap layar adalah menurunnya frekuensi berkedip.
Saat fokus pada layar, seseorang cenderung hanya berkedip sekitar 4-6 kali per menit, jauh di bawah jumlah normal yaitu 15–20 kali.
Akibatnya, lapisan air mata yang melindungi permukaan mata cepat menguap, menyebabkan mata kering, terasa panas, dan seolah berpasir.
Selain itu, pencahayaan ruangan yang terlalu terang atau pantulan cahaya dari layer perangkat elektronik membuat mata bekerja lebih keras.
Posisi tubuh yang tidak ergonomis, misalnya layar terlalu tinggi atau terlalu dekat, juga akan menimbulkan ketegangan otot pada mata, leher, dan punggung bagian atas.
Gejala CVS biasanya berkembang perlahan. Pada awalnya hanya berupa ketidaknyamanan ringan seperti mata pegal atau pandangan buram setelah lama bekerja. Namun, bila dibiarkan, gejala bisa semakin berat hingga mengganggu produktivitas.
Populasi yang paling berisiko adalah mereka yang menggunakan layar lebih dari dua jam per hari.
Termasuk pekerja kantoran, pelajar, mahasiswa, dan pengguna gawai untuk hiburan. Kini, dengan sistem kerja dan pembelajaran daring yang semakin umum, prevalensi CVS pun meningkat tajam di berbagai kelompok usia.
Langkah pencegahan sebenarnya sederhana tetapi memerlukan disiplin. Rule of twenty atau aturan 20-20-20 merupakan cara paling mudah untuk mengistirahatkan mata.
Cara melakukannya adalah setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar enam meter) selama 20 detik.
Cara itu memberi waktu bagi otot akomodasi mata untuk rileksasi. Posisi layar sebaiknya berada sekitar 50–70 sentimeter dari mata.
Sedikit di bawah garis pandang, agar pandangan lebih nyaman dan tidak menegangkan otot leher. Kecerahan layar juga perlu disesuaikan dengan cahaya ruangan untuk menghindari silau berlebihan.
Menjaga kelembapan mata juga menjadi hal yang penting untuk mengatasi CVS. Berkediplah lebih sering secara sadar, terutama saat bekerja di ruangan ber-AC yang cenderung kering.
Bila perlu, gunakan tetes mata buatan (artificial tears) untuk membantu mempertahankan kelembapan permukaan mata.
Jangan lupa untuk memerhatikan postur tubuh saat menggunakan gawai: duduk tegak, bahu rileks, dan kaki menapak lantai.
Tidur yang cukup setiap malam turut membantu proses pemulihan dan regenerasi jaringan mata.
Saat tidur, tubuh memperbaiki sel-sel epitel kornea dan menstabilkan produksi air mata yang menjaga kelembapan permukaan mata.
Kurang tidur, sebaliknya, dapat memperburuk gejala CVS seperti mata kering, pandangan kabur, dan rasa lelah pada sekitar mata.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkorelasi erat dengan meningkatnya keluhan CVS pada individu dengan durasi penggunaan layar tinggi.
Maka, menjaga waktu tidur ideal selama 7–9 jam per malam dan menghindari paparan layar menjelang tidur menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mendukung kesehatan mata di era digital.
Beberapa orang mungkin memperoleh manfaat dari penggunaan kacamata dengan lapisan anti-reflective atau filter cahaya biru (blue light filter), meski efektivitasnya bisa berbeda pada tiap individu.
Pemeriksaan mata secara berkala setiap enam hingga dua belas bulan juga dianjurkan, terutama bagi pengguna komputer berat atau mereka yang memiliki kelainan refraksi.
Pemeriksaan ini membantu mendeteksi dini gangguan penglihatan yang dapat memperburuk gejala CVS bila tidak dikoreksi dengan tepat.
CVS bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia atau profesi. Di tengah laju teknologi yang tak terhindarkan, menjaga kesehatan mata merupakan bentuk tanggung jawab pribadi yang tidak boleh diabaikan.
Mata bekerja tanpa henti sejak kita membuka mata di pagi hari hingga menutupnya kembali saat malam tiba. Memberi mata waktu untuk beristirahat bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan.
Perangkat digital mungkin telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup modern, tetapi tubuh manusia tetap memiliki batas.
Dengan kesadaran dan kebiasaan yang tepat, kita dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan kesehatan mata.
Seperti halnya mesin yang memerlukan pendinginan setelah bekerja, mata juga butuh waktu untuk beristirahat agar tetap jernih memandang dunia. (rd)
Editor : Romdani.