KALTIMPOST.ID, Adalah sebuah dilema besar ketika pucuk pimpinan organisasi yang berlatar belakang sebagai seorang santri, harus berhadap-hadapan dengan kenyataan yang cukup pahit, yakni diminta menanggalkan jabatannya sebagai Ketua Umum. Lebih berat lagi manakala yang meminta tersebut adalah sosok ulama kharismatik yang menjadi rujukan utama organisasi dan bahkan panutan masyarakat luas.
Di satu sisi, dia merasa selama ini langkah dan geraknya tidak menyalahi konstitusi organisasi. Di lain sisi, sang kiai sepuh, memintanya untuk melepaskan status Ketum. Ibarat api dalam sekam, konflik internal lama-lama memanas, membakar apa pun, dan bahkan meledak sewaktu-waktu.
Pastinya, Anda semua tentu saja paham betul organisasi apa yang sedang saya bahas. Apa lagi kalau bukan Nahdlatul Ulama. Catatan ini, sebenarnya sama sekali tidak bermaksud untuk memperuncing persoalan, memecah belah, mengadu-domba kiai satu dengan kiai lainnya, apalagi hendak menghancurleburkan NU. Tidak.
Catatan ini murni sebagai ungkapan keresahan saya terhadap kondisi dan situasi ormas Islam terbesar sedunia tersebut. Miris rasanya ketika konflik internal menjadi bahan olok-olokan publik di ruang maya maupun dunia nyata. Sampai-sampai lontaran kebencian, hujatan, dan bahkan fitnah dengan mudahnya terucap, lewat lisan maupun tulisan di laman medsos.
Apalagi, sebagian warga, yang sama sekali tidak mengenal NU atau kultur pesantren, bisa-bisa berpandangan macam-macam, menilai aneh-aneh terkait konflik internal tersebut. Bahkan, ada celetukan netizen yang barangkali membuat saya sedikit terpingkal-pingkal.
Dia bertanya: sebenarnya pengurus NU itu digaji berapa, kok seperti sangat keberatan menanggalkan posisinya? Dikiranya NU seperti perusahaan multinasional. Disangkanya NU sebagai wadah bisnis yang orientasinya profit. Pemahaman yang cukup konyol alias sontoloyo. Tapi, bagaimanapun juga, saya memakluminya. Sebab, tidak semua orang mengetahui, mengerti, dan memahami betul terkait NU. Saya sendiri pun masih belum paham-paham banget mengenai NU.
Catatan ini, anggap saja sebagai upaya saya memuntahkan segala uneg-uneg dalam alam pikiran yang berkecamuk. Ya, kegelisahan ini sukar saya tahan. Sulit untuk dibendung. Sehingga, satu-satunya pilihan, yang menurut saya cukup pas, yaitu dengan menuliskannya.
Meskipun, saya sendiri tidak tahu ke mana muara dari tulisan ini. Tetapi, setidaknya, catatan ini akan menunjukkan bahwa saya masih mencintai NU. Biarlah para elite-elite NU di pusat itu eker-ekeran, saling sikut, saling hadang, saling jegal, toh mungkin mereka nantinya akan legowo untuk duduk bersama mencari titik terang, mencari benang merah persoalan, sama-sama menurunkan ego. Kalau diringkas istilahnya islah.
Pertemuan kedua belah pihak untuk mencari solusi jalan damai atau solusi yang bijaksana. Tentu, itu demi kebaikan organisasi ke depannya. Demi umat, demi Indonesia, demi Islam, demi peradaban dunia. Sebab, NU ini bukan organisasi kaleng-kaleng. Perannya sangat vital bagi umat. Bukan hanya di Indonesia, tapi dunia.
Mencuatnya konflik internal NU tentu saja menyita perhatian banyak kalangan. Mulai dari intelektual publik, tokoh agama, hingga warga awam sekalipun. Sontak semua terkejut. Tidak ada angin, tidak ada ombak, Gus Yahya selaku Ketum PBNU tiba-tiba diminta mundur. Padahal, kita tahu, sebelumnya NU semacam tenang-tenang saja, adem ayem, seperti halnya organisasi pada umumnya. Tapi, sekali muncul persoalan, nyatanya betul-betul menggemparkan.
Beragam pandangan, penilaian, dan analisis dikemukakan oleh banyak pakar dan tokoh publik terkait problematika di NU. Ada yang menganggap itu dinamika biasa yang bisa diselesaikan di internal NU. Ada pula yang berpikiran bahwa duduk perkaranya itu tidak jauh-jauh dari persoalan tata kelola tambang yang mana pemerintah memberikan NU untuk ikut mengurusnya.
Saya pribadi tentu saja tidak bisa asal berbicara, asal berpendapat, apalagi asal memberikan kesimpulan yang ngawur ngidul. Jika demikian, saya bisa menjadi provokator alias kompor yang semakin mengobarkan api konflik dan perpecahan. Padahal, situasi lagi panas-panasnya. Butuh ditenangkan, butuh penengah, butuh mediator. Terkait hal itu, memang kedua pihak yang sedang berkonflik harus menurunkan tensi, bersedia untuk duduk bersama.
Gus Yahya merasa rapat harian Syuriah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan posisinya sebagai Ketum. Menurutnya, hal tersebut tidak diatur dalam AD/ART organisasi. Sebaliknya, sejumlah kiai dan pengurus inti (jajaran Syuriah) PBNU mendesaknya untuk mengundurkan diri tentu dengan sejumlah alasan yang saya sendiri masih belum begitu paham betul sampai sekarang.
Menjadi suatu hal yang cukup mengganjal rasionalitas saya yaitu ketika tidak ada upaya tabayun dari Syuriah PBNU terhadap Gus Yahya terkait duduk persoalannya. Lagian, kata Gus Yahya, hanya lewat muktamar atau muktamar luar biasa, dirinya bisa dicopot. Bukan lewat rapat Syuriah.
Kepatuhannya kepada Rais Aam dipertanyakan sejumlah pihak. Mereka menilai Gus Yahya membangkang. Padahal, Gus Yahya sendiri merasa berorganisasi secara tertib harus berpatokan pada “aturan main” yakni AD/ART. Entahlah, perlu dipertegas lagi, saya tidak ada di kubu Gus Yahya ataupun Rais Aam Kiai Miftah.
Sebab, kalau boleh jujur, memang saya sendiri tidak begitu tahu secara rinci, jelas, dan detail awal persoalan ini bisa muncul. Maka dari itu, saya tidak begitu berani untuk mengkritik apalagi menghujat salah satu pihak.
Apalagi, keduanya, kita tahu, adalah sama-sama ulama, yang kedalaman dan keluasan ilmunya tidak perlu diperdebatkan dan apalagi diragukan. Kita paham betul, NU ini isinya orang-orang alim yang memang hendak mewakafkan sebagian hidupnya untuk agama, nusa, dan bangsa.
Sebab, sekali lagi, tidak ada gaji dan tunjangan untuk pengurusnya, apalagi anggotanya. Baik di jajaran pusat maupun tingkatan paling bawah sekalipun. Sebaliknya, kadang, sebagian dari mereka harus merogoh kantong pribadi, mengurangi uang belanja, untuk perjuangan.
Akhir kata, saya pribadi berharap besar konflik ini segera mereda. Entah itu memang karena dinamika organisasi atau memang bermula dari urusan tambang, ataupun alasan lainnya, saya tidak begitu peduli.
Sebab, harga dari konflik yang tak kunjung mereda tersebut harus dibayar mahal. Seperti halnya perpecahan hingga pertikaian di arus bawah. Juga bisa merembet ke mana-mana. Apalagi, masyarakat sedang menyaksikan. Warga NU sedang menonton para elit NU di pusat sana.
Saya tidak ingin masyarakat terbelah, apalagi saling gontok-gontokan, cuma gara-gara terbawa arus dinamika konflik elite NU yang oleh sebagian warga di bawah sana sukar dicerna. Tentunya saya tidak membayangkan bagaimana jadinya jika warga NU terbelah oleh sebab membela masing-masing kiainya secara mati-matian. Siapa yang dirugikan? Dan siapa yang diuntungkan? Entahlah.
Yang jelas, NU ini adalah aset besar bangsa yang harus kita jaga dan rawat bersama. Sebab, sejumlah persoalan besar bangsa ini sedang ada di depan mata. Sampai kapan elite-elite NU bertikai, berkonflik, atau jika diperhalus lagi sampai kapan mereka “berdinamika”? Dinamika sendiri bisa jadi mengarah ke dua hal: ambang kehancuran atau kegemilangan. Saat ini, dinamika tersebut mengarah ke mana? Kita doakan saja agar menuju kejayaan organisasi. Amin.
*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi
Editor : Almasrifah