Oleh:
Nickytha Faradhila Septiyani
Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
PENYELENGGARAAN World Expo 2025 Osaka bukan sekadar perayaan inovasi dunia, tetapi sebuah ruang refleksi global tentang ke mana umat manusia bergerak. Dengan tema besar Designing Future Society for Our Lives, Expo ini menghadirkan konsep yang memadukan teknologi, kemanusiaan, hingga lingkungan, dan membuka ruang dialog tentang bagaimana negara-negara dapat membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, sehat, dan inklusif. Melihat rangkaian gagasan yang muncul dalam forum tersebut, saya merasa ada banyak pelajaran yang bisa dibawa pulang untuk Indonesia—terutama ketika kita tengah menatap visi besar Indonesia Emas 2045.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pentingnya membangun masa depan berlandaskan pemulihan martabat manusia. Expo menekankan bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada kecanggihan teknologi, melainkan harus menjawab kebutuhan hidup yang paling mendasar: kesehatan, hubungan sosial, lingkungan hidup, dan kesempatan berkembang.
Konsep People’s Living Lab yang diusung penyelenggara mendorong peserta untuk menjadikan kota dan komunitas sebagai laboratorium hidup, tempat berbagai solusi diuji langsung bersama masyarakat. Pendekatan semacam ini sangat relevan bagi Indonesia, sebuah negara besar dengan karakter sosial dan geografis yang beragam, yang menuntut kebijakan publik berbasis empati dan partisipasi.
Tema kesehatan menjadi salah satu sorotan utama di Osaka. Dunia disadarkan kembali bahwa pandemi bukan sekadar krisis medis, tetapi juga krisis sosial. Banyak negara yang mulai mengembangkan pendekatan kesehatan berbasis pencegahan, edukasi, dan pemanfaatan teknologi informasi. Indonesia dapat mengambil inspirasi untuk memperkuat ekosistem kesehatan yang inklusif, terutama di daerah terpencil, dengan memadukan inovasi dan sentuhan manusia.
Di tengah tantangan penyakit menular, stunting, dan rendahnya literasi kesehatan, agenda-agenda di Expo mengajarkan bahwa sistem kesehatan harus mengarah pada masyarakat yang lebih resilien, bukan hanya sistem yang bereaksi ketika krisis terjadi.
Selain kesehatan, isu keberlanjutan lingkungan tampil menonjol dalam paviliun berbagai negara. Gagasan Green Transformation disampaikan sebagai langkah wajib menghadapi perubahan iklim yang semakin terasa. Jepang, misalnya, memperkenalkan strategi energi rendah karbon, rekayasa ulang kota, dan inovasi limbah berkelanjutan. Konsep semacam ini sangat relevan bagi Indonesia, negara yang diberkahi keanekaragaman hayati besar namun masih bergulat dengan deforestasi, pencemaran, dan ketergantungan pada energi fosil. Di tengah upaya menuju net zero emission, Indonesia perlu mempercepat transformasi agar pembangunan tidak mengorbankan generasi mendatang.
Salah satu pelajaran terbesar dari Expo Osaka adalah kolaborasi. Hampir semua paviliun menampilkan bahwa pembangunan masa depan adalah kerja bersama antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Tidak ada satu pun negara yang bisa melaju sendirian menghadapi ancaman global.
Indonesia pun memerlukan semangat yang sama untuk memanfaatkan bonus demografi, membangun kualitas SDM, dan menyiapkan generasi muda agar mampu bersaing secara global. Kolaborasi lintas sektor juga penting untuk mendorong inovasi, memperkuat kebijakan berbasis bukti, serta memastikan pemerataan pembangunan hingga ke wilayah terluar.
Dalam konteks pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pesan dari Expo sangat relevan. Nusantara sedang dibangun sebagai kota masa depan yang mengusung prinsip hijau, inklusif, dan cerdas. Melihat bagaimana Jepang mengintegrasikan budaya lokal dengan teknologi modern, kita dapat belajar bahwa pembangunan tidak hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang jiwa kota itu sendiri: nilai-nilai, identitas, dan keberlanjutan sosial.
Kota masa depan harus menjadi tempat manusia bertumbuh, bukan sekadar bergerak. Mengadopsi filosofi co-creation, IKN dapat menjadi ruang bagi anak muda, inovator, dan komunitas untuk terus bereksperimen menemukan solusi bagi tantangan nasional.
Expo Osaka juga membawa pesan bahwa masa depan adalah ruang kontestasi ide. Negara yang mampu memadukan kreativitas, teknologi, dan nilai kemanusiaan akan menjadi pemimpin global. Untuk Indonesia, menuju 2045 bukan hanya tentang mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang memastikan bahwa seluruh rakyat menikmati kualitas hidup yang layak, lingkungan yang sehat, serta kesempatan yang setara.
Melihat ke depan, kita memerlukan visi jangka panjang yang tidak hanya ada dalam dokumen negara, tetapi tertanam dalam kesadaran kolektif masyarakat. Kita perlu generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli.
Kita membutuhkan inovasi yang tidak hanya mencari pasar, tetapi memecahkan masalah. Dan kita membutuhkan kolaborasi yang tidak hanya bergema di forum internasional, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari.
World Expo 2025 Osaka mengingatkan kita bahwa masa depan tidak menunggu. Ia sedang dibangun, hari demi hari, melalui keputusan dan tindakan sederhana yang kita ambil. Pertanyaannya kini: apakah kita siap membangun Indonesia yang kuat, sehat, dan berkelanjutan—atau hanya menjadi penonton dalam perubahan dunia? (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan