Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Piala Dunia 2026

Pendidikan Indonesia: Dari Konvensi ke Inovasi, Dapatkah Alat Peraga Sederhana Menjadi Solusinya?

Redaksi KP • Rabu, 17 Desember 2025 | 19:02 WIB

Julia Tapilatau.
Julia Tapilatau.

Oleh:

Julia Tapilatau

Fellowship Tanoto Foundation

 

MARI berkenalan dengan John Nash, seorang ilmuwan matematika peraih Nobel di bidang ilmu ekonomi pada 1994. Melalui konsep Ekuilibrium Nash dalam Teori Permainan, ia memberi kontribusi besar dalam analisis konflik dan kerja sama di berbagai bidang lewat pendekatan matematika.

Menariknya, gagasan Nash tersebut tidak lahir hanya dari teori-teori abstrak. Nash menggunakan model dan alat peraga yang ada di sekitarnya: pola di dasi dosen, formasi burung merpati di halaman kampus, hingga permainan kelompok bersama teman-temannya.

Pengalaman Nash menunjukkan, alat-alat peraga, bahkan yang sederhana dan bisa kita temui sehari-hari, bisa menjadi sarana ampuh dalam pembelajaran. Dari membuat peserta didik tertarik pada pembelajaran, memberi pemahaman terhadap konsep-konsep yang rumit, sampai meningkatkan prestasinya.

Ancaman Learning Poverty

Keberadaan alat peraga sebagai inovasi pendidikan ini menjadi isu penting di tengah menurunnya semangat belajar anak. Mereka enggan membuka buku dan menyimak pelajaran yang diberikan secara konvensional.  Apalagi di tengah derasnya arus teknologi dan maraknya gawai saat ini, mereka lebih tertarik untuk membuka aplikasi permainan dan menutup buku-buku pelajaran.

Lembaga-lembaga dunia seperti Bank Dunia, Unesco, dan Unicef menyatakan kondisi itu sebagai bagian kemiskinan pembelajaran (learning poverty). Sesuai riset mereka pada 2022 sebanyak 70 persen anak-anak usia 10 tahun di negara-negara berkembang tak dapat memahami teks tertulis sederhana.

Kabar terbaru, lembaga National Literacy Trust di Inggris melaporkan bahwa hanya 1 dari 3 anak yang menyatakan mereka menikmati aktivitas membaca. Dengan persentase 32 persen, angka kesukaan membaca ini adalah yang terendah dalam 20 tahun terakhir.

Di Indonesia, secara umum Tingkat Kegemaran Membaca pada 2024 sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) memang menyentuh skor 72,44 atau tertinggi dalam lima tahun terakhir. Namun, capaian ini masih diwarnai kesenjangan di banyak daerah.

Jika dikaitkan dengan skor global yang dirilis PISA, capaian Indonesia juga belum menggembirakan. Dari 81 negara yang disurvei, Indonesia berada di urutan ke-59 untuk kemampuan literasi dan posisi ke-67 dalam kemampuan numerasi.

Padahal, kemampuan literasi dan numerasi menjadi aset penting yang perlu dikembangkan sejak dini agar anak mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.

Dengan kondisi tersebut, pendekatan konvensional tidak lagi relevan untuk membangkitkan keinginan anak untuk belajar. Tantangan utama dunia pendidikan saat ini bukan sekadar menyediakan materi, melainkan juga menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna bagi siswa.

Inovasi Sederhana, tapi Bermakna

Untuk itu, inilah saatnya menghadirkan pendekatan yang lebih kontekstual, adaptif, dan menyenangkan. Inilah peran inovasi dalam media pembelajaran menjadi penting. Tak harus membeli, bahkan dengan harga yang tinggi, alat peraga pendidikan bisa dibuat sendiri dari bahan sehari-hari.

Selama ini, inovasi media pembelajaran biasanya identik dengan dukungan fasilitas dan peralatan khusus. Sekolah-sekolah di kota besar mungkin memiliki fasilitas memadai. Namun, ketimpangan akses terhadap media pembelajaran masih menjadi persoalan serius di banyak daerah, terutama di kawasan terpencil yang kondisinya amat memprihatinkan.

Contohnya adalah sebuah SD di Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Berlokasi di wilayah pesisir yang rawan banjir, sekolah ini berjuang dengan keterbatasan infrastruktur. Saat hujan, kelas-kelas sering tergenang air.

Kondisi ini jelas membuat tantangan pendidikan berlapis. Di satu sisi harus menghadapi keterbatasan fasilitas, tapi di sisi lain tetap harus memenuhi capaian pembelajaran yang optimal dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi.

Para guru dan tenaga pendidik di sekolah itu percaya, menunggu perubahan tanpa tindakan bukanlah solusi. Berbekal semangat, motivasi, dan inspirasi yang kuat, mereka pun mendobrak keterbatasan yang ada.

Guru kelas 4 di SD tersebut menciptakan alat peraga sederhana namun solutif untuk memudahkan penjelasan tentang konsep-konsep matematika. Ia merakit tutup-tutup botol bekas dan kertas karton untuk membantu siswa memahami konsep penjumlahan bersusun simpan. Selain dari tutup botol, pembelajaran juga disampaikan lewat permainan bola bekel dan kartu domino yang memuat angka untuk perkalian dan pembagian.

Bahan-bahan alat peraga yang digunakan di sekolah ini murah, bahkan memanfaatkan bahan bekas, seperti tutup botol air kemasan. Tidak ada biaya besar, hanya kemauan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih mudah dipahami siswa.

Namun, hasilnya nyata: antusiasme meningkat, konsep sulit menjadi lebih mudah, dan kelas kembali hidup.

Kisah guru yang merupakan hasil dari program PINTAR dari Tanoto Foundation ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berinovasi. Kreativitas mereka menghadirkan perubahan nyata, melampaui keterbatasan sumber daya.

Dari Kreativitas Guru ke Sistem yang Lebih Inklusif

Namun, keberhasilan ini baru permulaan. Tantangan berikutnya adalah memperluas pendekatan ini ke berbagai mata pelajaran sambil menyesuaikan dengan kurikulum dan kebutuhan lokal.

Alat peraga bukan menggantikan buku. Buku tetap penting. Tetapi alat peraga memberi ruang bagi interaksi, eksplorasi, dan pemahaman konseptual yang tidak selalu hadir dalam metode penjelasan verbal. Keduanya saling melengkapi.

Guru membutuhkan dukungan teknologi tepat guna, pelatihan berkala, ruang untuk berbagi praktik baik, serta kebijakan yang mendorong kreativitas lokal. Pemerintah perlu memastikan daerah terpencil tidak tertinggal. Masyarakat dapat ikut mendukung melalui penyediaan bahan, ruang, atau waktu untuk kegiatan belajar kreatif.

Jika ekosistem ini terbentuk, alat peraga sederhana bisa menjadi gerakan pendidikan nasional, bukan sekadar cerita inspiratif.

Menanam Benih Masa Depan

Kita tidak pernah tahu dari mana datangnya penemuan besar berikutnya. Mungkin dari anak yang hari ini belajar pecahan dengan tutup botol. Atau dari siswa yang memahami gaya dan energi sambil meniup kincir angin kertas.

Kisah John Nash menunjukkan bahwa imajinasi, ketika mendapat stimulasi yang tepat, dapat menerobos batas. Bila ruang-ruang kelas Indonesia memberi kesempatan bagi anak untuk melihat dunia lewat benda-benda sederhana, mungkin suatu hari muncul sosok-sosok ilmuwan, pemikir, dan inovator seperti John Nash yang membawa Indonesia ke panggung global. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#bank dunia #guru #unicef #Tingkat Kegemaran Membaca #peraih nobel #tenaga pendidik #unesco #bps #tanoto foundation #ilmuwan matematika #pendidikan