Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Peran Perguruan Tinggi Mencetak Insan Nasionalis-Religius

Muhammad Aufal Fresky • Kamis, 18 Desember 2025 | 12:00 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, Merupakan sebuah kekeliruan yang teramat nyata apabila ada pandangan yang beranggapan bahwa perguruan tinggi sebatas wadah untuk mencetak tenaga-tenaga profesional dan terampil.

Sekadar menjadi sarana untuk memoles sedemikian rupa ribuan mahasiswa yang masuk setiap periodenya menjadi pekerja andal yang siap merambah berbagai lapangan kerja.

Bukankah begitu sempit peran kampus jika demikian adanya. Seolah-olah perguruan tinggi menjadi lembaga/organisasi perpanjangan tangan dunia industri.

Kepintaran, kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap lulusan hanya dipergunakan untuk menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Persoalan mengenali sedalam mungkin jati diri itu lain urusan.

Persoalan mengasah kehalusan budi dan kepekaan sosial, rasa-rasanya tidak begitu menjadi perhatian utama. Pantaslah jika banyak kader-kader calon pemimpin bangsa kita seolah bingung, terombang-ambing, dan tak tahu arah hendak melangkah ke mana pasca diwisuda.

Peran perguruan tinggi untuk mencetak calon pemimpin masa depan yang visioner, berkarakter, nasionalis, religius, dan penuh empati itu masih terus menerus diupayakan.

Realitasnya, kita menjumpai banyak lulusan kampus, dalam dan luar negeri, kampus negeri ataupun swasta, itu memiliki persoalan yang cukup seragam.

Yakni bagaimana mencetak lulusan yang bukan sekadar memiliki kecerdasan kognitif. Tapi juga kematangan emosional dan spiritual. Ini tentu saja, menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kita semua. Sebab, dari waktu ke waktu, jumlah sarjana kian membeludak.

Begitu pula dengan jumlah magister dan doktor yang semakin melonjak. Tapi, apakah peningkatan kuantitas kaum terdidik itu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kehidupan bangsa kita?

Apakah semakin banyak cendekiawan, orang pintar dengan gelar yang berderet-deret itu otomatis bisa mengentaskan atau setidaknya menekan jumlah problematika yang sedang kita hadapi?

Sayang seribu sayang, hingga kini, terobosan, inovasi, dan kreasi anak-anak bangsa kita itu, masih belum memberikan dampak yang cukup signifikan. Setidaknya begitulah pendapat saya sementara ini.

Belum lagi ekosistem yang belum sepenuhnya mendukung tumbuh kembangnya potensi anak-anak pintar tersebut. Sebagian justru memilih mengais rezeki atau merintis karier di luar negeri sebab di negeri sendiri masih belum menemukan wadah yang sesuai.

Jika diperhatikan seksama, dari Sabang hingga Merauke, kita sebenarnya tidak begitu kekurangan orang pintar. Sebagian adalah lulusan perguruan tinggi yang bukan kaleng-kaleng.

Tapi, nyatanya, sebagian pemuda justru menjadi problem maker bukan problem solver. Ya, kadang sistem dan lingkungan yang mendukung sebagian pemuda kita terjebak dan terhempas ke lorong-lorong gelap.

Rasionalitasnya menjadi tumpul tatkala berhadapan dengan orang-orang berpangkat dengan kedudukan tinggi. Lebih-lebih, pemuda yang secara ekonomi sedang terhimpit atau terdesak.

Bisa-bisa idealismenya digadaikan. Tidak peduli langkah-langkahnya itu melabrak norma agama dan hukum. Tidak peduli tindakan-tindakannya bisa merugikan masyarakat. Sebab, nafsu materialismenya sudah tidak terbendung. Persetan dengan cinta tanah air. Bagi mereka, itu omong kosong.

Urusan perut yang utama. Urusan prospek karier ke depannya yang menjadi orientasinya. Kendatipun harus menjadi “penjilat”, meskipun harus menjadi “bandit”, tidak apa. Asalkan dompetnya semakin tebal, kariernya makin cemerlang, semua bisa dinormalisasikan.

Tentu saja, tidak semua pemuda memiliki watak “tikus”. Tidak semua pemuda memperjual-belikan idealismenya. Saya pribadi masih percaya betul, masih banyak generasi-generasi bangsa yang kokoh pendiriannya dan setia betul terhadap nilai-nilai luhur.

Termasuk nilai kejujuran dalam setiap laku hidupnya. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan saya, kembali pada pembahasan awal tadi, bagaimana peran perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi-generasi yang nasionalis-religius?

Bukankah masyarakat kita masih menyimpan harapan yang begitu besar terhadap perguruan tinggi, khususnya dalam menghasilkan insan-insan yang halus budinya dan tinggi empatinya?

Kecerdasan tanpa diiringi dengan keadaban hanya akan melahirkan petaka. Kepintaran tanpa dibarengi dengan integritas sangat potensial untuk diperbudak oleh hasrat duniawi.

Dalam hal ini, memang sudah semestinya, dunia perguruan tinggi menjadi sarana untuk mengajarkan mahasiswa mengendalikan diri. Termasuk juga membina mahasiswa agar siap menjadi insan nasionalis-religius.

Insan yang memiliki cinta tanah air yang berkobar-kobar dalam jiwanya. Yang siap sedia berjuang dan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negeri. Insan yang taat menjalankan ajaran agamanya.

Dan salah satu ciri insan yang nasionalis-religius itu adalah jujur dalam setiap gerak-geriknya. Perkataan dan perbuatannya selaras. Setiap tindakannya tidak berlawanan dengan nilai-nilai Pancasila.

Termasuk menahan diri untuk tidak mengambil apa pun yang bukan menjadi haknya. Lebih-lebih, yang sedang jadi pejabat, selalu berupaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

Dalam catatan ini, perlu dikemukakan secara gamblang dan tegas bahwa saya tidak menyatakan perguruan tinggi sepenuhnya gagal mencetak lulusan yang nasionalis-religius. Hanya saja, mungkin sistem dan ekosistem di dalamnya perlu dirombak besar-besaran.

Sebab, bagaimanapun juga, kita sukar menepis, bahwa sebagian mahasiswa kita, sejak baru menginjakkan kaki di dunia kampus, yang ada dalam benaknya adalah bagaimana kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan dan status sosial yang mentereng di tengah masyarakat.

Kampus hanya dinilai sebagai wadah untuk mendapatkan gelar dan ijazah. Perihal pembentukan karakter nasionalis-religius dalam dirinya, barangkali sama sekali tidak terbesit.

Padahal, di dunia perguruan tinggi, kita bisa mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual lewat beragam kegiatan. Baik di organisasi intra kampus maupun ekstra kampus.

Terkait hal itu, memang, mau tidak mau, harus didukung oleh sistem di dalam universitas itu sendiri. Termasuk dari rektor, dekan, kaprodi, dan segenap perangkat utama di dalamnya. Lebih-lebih dosen yang berhadapan langsung dengan para mahasiswa.

Hemat saya, dosen memang juga mengambil peran dalam membangkitkan spirit nasionalisme dalam jiwa anak didiknya. Dosen juga bisa mendorong para mahasiswa untuk menjadi manusia-manusia yang bertakwa secara lahir dan batin.

Termasuk juga mewanti-wanti mahasiswanya agar mempersiapkan diri sedini mungkin agar nanti menjadi manusia-manusia yang senantiasa menebar kebermanfaatan kapan dan di mana pun mereka berada.

Ringkas cerita, mahasiswa ini adalah aset besar bangsa ini. Jika jiwa dan kepribadiannya keropos, lantas apa yang bisa diharapkan dari kontribusinya kelak?

Sebab itulah, perguruan tinggi, saya rasa, memang harus berupaya terus menerus mendorong mahasiswa menjadi manusia yang seutuhnya. Sebab, mahasiswa ini, terdiri dari elemen jasmani dan ruhani.

Bukan hanya diberikan seperangkat pengetahuan, ilmu, dan skill untuk bertahan hidup di tengah ketatnya kompetisi di luar sana. Jauh lebih penting dari itu, yaitu memupuk sifat, sikap, dan kepribadian mulia dalam diri mereka.

Kampus, sekali lagi, dilarang keras menutup mata terkait perkembangan mentalitas dan karakter mahasiswa. Sebab, bangsa ini, hari ini, dan untuk ke depannya, sangat membutuhkan kehadiran pemimpin-pemimpin bangsa yang nasionalis-religius.

Pemimpin yang siap terkuras waktu, pikiran, tenaga, materi, dan bahkan siap mengorbankan jiwanya, untuk bangsa dan negara ini. Rasa cinta tanah air itu, ketakwaan itu, keimanan itu, dan keluhuran budi itu, harus diinternalisasikan dan dilatih lewat kebiasaan-kebiasaan, program-program, dan agenda-agenda yang dirancang sedemikian rupa oleh petinggi kampus.

Dengan begitu, saya akan semakin optimistis bahwa kampus bisa menjadi garda terdepan dalam mencetak insan-insan yang nasionalis-religius. (*)

*) Esais asal Madura

Editor : Almasrifah
#tenaga profesional #mahasiswa #religius #perguruan tinggi #nasionalis