Romdani
Pemimpin Redaksi
KALTIMPOST.ID-2026 jadi tahun yang sulit. Efisiensi anggaran jadi salah satu penyebab. Pemerintah pusat memangkas transfer ke daerah (TKD). Kaltim “kehilangan” sekitar Rp 6 triliun di APBD 2026. Imbas pemangkasan itu.
Pengurangan itu berdampak ke semua sektor. Perhotelan dan industri kreatif jadi salah sektor yang paling terdampak.
Mengapa? Karena sudah pasti pemerintah daerah akan mengurangi belanja di sektor itu.
Rapat-rapat di hotel akan ditiadakan. Pertemuan di hotel akan dikurangi. Kecuali yang benar-benar urgent atau memerlukan tempat yang luas dan representatif. Balikpapan yang merupakan kota MICE bisa-bisa sepi.
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan salah satu pimpinan hotel di Balikpapan. Saya tanya, bagaimana gambaran tahun depan? “Gelap,” katanya seraya tersenyum.
Kondisi tahun ini menurut dia akan sama dengan saat pandemi Covid-19. Kamar-kamar banyak yang kosong.
Okupansi rendah. Event bahkan nyaris tak ada. Tentu itu juga berdampak ke industri kreatif.
Namun, dia masih yakin cahaya yang gelap itu akan mulai terang jelang akhir tahun. Di mana belanja pemerintah mulai mengarahkan ke bisnis perhotelan.
Seperti tahun lalu, saat awal 2025 okupansi sangat rendah. Pertemuan di hotel juga sangat minim. Imbas kebijakan pemerintah yang melarang atau mengurangi pertemuan di hotel.
Namun pertengahan tahun hingga jelang akhir tahun, pelan-pelan okupansi naik. Pertemuan di hotel juga meningkat.
Tapi sayang, saat akhir tahun lalu, okupansi kembali turun. Perhotelan kembali lesu. Penyebabnya, karena kebijakan pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat.
Ketika hotel terdampak kebijakan pemerintah. Tentu mereka juga akan melakukan efisiensi besar-besaran. Termasuk biaya promosi.
***
Perhotelan bukan satu-satunya sektor yang terdampak. Media jadi salah satu bisnis yang paling terdampak. Termasuk Kaltim Post.
Bukan hanya kehilangan potensi pendapatan dari perhotelan. Kami juga akan kehilangan potensi kerja sama dengan pemerintah daerah.
Karena pemerintah daerah selama ini kerap melakukan belanja publikasi ke media. Mereka ingin menyebarluaskan program ke khalayak luas.
Ketika badai efisiensi itu datang. Memangkas biaya-biaya harus dilakukan kepala daerah. Termasuk memangkas keperluan publikasi di media.
Persoalan itu terjadi hampir di semua daerah di Indonesia. Industri harus bertahan di tengah pemerintah daerah yang memangkas atau bahkan nol biaya publikasi.
Hingga kini ada beberapa media cetak yang berhenti cetak. Namun tetap mempertahankan portal online. Bahkan ada yang memutuskan stop produksi alias tutup.
Sejumlah cara dilakukan agar mengurangi beban produksi. Mulai efisiensi biaya hingga me-layoff karyawan.
Tapi apa mau dikata, perusahaan tetap tertekan. Menutup mungkin jadi cara terakhir. Karena sudah tak ekonomis lagi. Terutama bagi mereka yang enggan berinovasi. Enggan melakukan diversifikasi usaha.
Mereka yang mau berinovasi, tentu akan bertahan. Inovasi bukan hanya datang dari perusahaan. Tapi bagaimana top manajemen menumbuhkan virus-virus inovasi itu.
Karyawan dibebaskan untuk membuat ide-ide baru. Ide-ide segar. Baik multiplatform maupun yang konvensional. Terlebih ide-ide yang akhirnya menghasilkan revenue bagi perusahaan.
Seperti halnya Kaltim Post saat ini. Bagaimana ide-ide mainstream itu dipadukan dengan multiplatform.
Setiap awak redaksi terus menyajikan konten. Yang tak hanya bisa dinikmati di koran. Tapi juga di media online dan media sosial.
Di sisi lain, kami tak hanya mengejar konten. Tapi kami juga terus mendekatkan diri dengan para pembaca.
Lewat pertemuan-pertemuan tatap muka. Salah satunya forum diskusi Rembuk Etam yang tahun ini sudah memasuki tahun kesepuluh. Sejak pertama kali program itu digelar pada 2016 lalu.
Lewat forum itu, Kaltim Post bisa mengambil sikap atas persoalan yang menjadi isu atau topik yang diangkat oleh media ini. Banyak hal yang telah dibahas dalam Rembuk Etam.
Output-nya jelas. Ada rekomendasi yang dihasilkan. Bahkan kadang kerap membuka sumbatan kebijakan.
Setelah kami menghadirkan para pemangku kepentingan duduk satu meja. Mencari solusi. Bahkan dengan biaya yang minim, tapi ada solusi.
Tanpa harus menggelar pertemuan yang mewah. Pertemuannya bisa digelar di mana saja. Di pasar. Di waduk. Hingga di lapangan sepak bola. Indoor atau outdoor. Bergantung tema.
Rembuk Etam bagi kami adalah salah satu solusi mengatasi persoalan daerah. Forum ini juga jadi solusi di tengah efisiensi anggaran.
Tahun ini, Rembuk Etam masih akan terus kami gelar. Salah satu bukti eksistensi kami. Selain jadi penyambung lidah, juga mengurai benang yang kusut.
Kami tak hanya fokus mengejar followers di media sosial (medsos). Tapi kini juga bagaimana dari medsos, kami bisa menghasilkan revenue.
Seperti kami yang tahun lalu menggelar pertemuan akhir tahun oleh semua karyawan Kaltim Post, itu dari revenue medsos.
Angkanya sangat menjanjikan. Namun kami belum puas. Ada target tahun ini yang harus dicapai.
Meski tahun ini, tahun yang berat. Tapi kami tetap dituntut untuk terus berinovasi. Di saat kami mulai kembali tumbuh setelah badai pandemi.
Kini dihadapkan oleh tantangan lain. Tantangan yang dampaknya sama. Melemahkan semua sektor.
Kendati begitu, kami harus kuat. Kaltim Post tak hanya kuat, tapi harus hebat. Sesuai dengan tema HUT kali ini, Kaltim Post Hebat. Selamat HUT ke-38 Kaltim Post. Terus Hebat! (rd)
Editor : Romdani.