TOKOH muda kita satu ini sepertinya sudah tidak begitu asing di telinga kita. Kerap kali hadir sebagai pembicara publik di beragam acara.
Kapasitasnya sebagai penulis, aktivis, dan politisi muda menjadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, belakangan ini namanya mencuat bukan karena pencapaian dan prestasinya. Namun sebab pernyataannya yang viral di jagat maya: “Jangankan Benar, Salahpun Kita Bela!”.
Sebuah ungkapan yang terlontar saat bedah buku Yang Golkar Golkar Aja, karangannya sendiri. Lantas siapa tokoh yang saya maksudkan? Siapa lagi kalau bukan Arief Rosyid Hasan, mantan Ketum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Waketum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), dan sekaligus kader Partai Golkar.
Tentu saja ungkapan Arief direspons keras oleh publik. Bagaimana tidak, publik menilai ungkapan tersebut sangat serampangan alias semberono.
Tidak heran jika kita beranggapan loyalitas terhadap pemimpin parpol, dalam hal ini terhadap Ketum Golkar Bahlil Lahadalia, dipandang telah mencederai akal sehat, menihilkan nilai kebenaran.
Sebuah pembelaan yang membabibuta terhadap seseorang yang salah tentu saja tidak bisa ditolerir, apalagi didukung mati-matian. Kendatipun mereka yang semisal berbuat salah itu adalah kawan satu bendera, satu gerbong, atau bahkan keluarga kita sendiri, rasanya memang tidak pantas untuk dibela mati-matian.
Apalagi hanya karena dalih militansi harga mati atau tegak lurus pada pimpinan tidak bisa ditawar lagi.
Terkait hal itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis juga menegaskan bahwa pembelaan tidak boleh membenarkan kesalahan. Lewat pernyataannya di X, Kiai Cholil menuturkan bahwa cara membela teman yang salah itu dengan meluruskan ke jalan yang benar, bukan mencarikan dail untuk membenarkan yang salah.
Agaknya saya pun sependapat, sepemikiran dengan Kiai Cholil. Bahwa siapa saja yang salah, memang perlu untuk diluruskan, entah itu lewat saran, kritikan, nasehat, dan semacamnya. Bukan dilindungi dengan beragam akrobat, strategi, taktik, siasat, dan semacamnya. Kayaknya Arief sedang mengamalkan ajaran atau konsep “Asal Bapak Senang (ABS)”, jadi semua semua dihalalkan.
Setelah semakin ramai di ruang maya, Arief bergegas untuk klarifikasi. Ia mengatakan bahwa pernyataannya tersebut dimaksudkan tidak untuk membenarkan kesalahan. Ia berdalih, pembelaan memiliki maksud untuk menjaga kehormatan
Ketum Golkar di ruang publik, sementara kritik dikemukakan di internal organisasi. Setidaknya begitulah dia melakukan pembelaan diri atas uangkapannya yang membuat heboh itu. Alih-alih mendulang dukungan dan simpati, sebaliknya justru perundungan yang diterimanya. Potongan videonya telah terlanjur menyebar ke mana-mana.
Meskipun dia telah berupaya meluruskan atau bahkan nanti meralatnya, tafsir dan anggapan publik atas kecerobohan pernyataannya itu tidak bisa dibendung. Harga yang harus dibayar adalah citranya sebagai politisi bisa saja turun drastis.
Selaku penulis, saya pun tidak habis pikir, bisa-bisanya aktivis sekaliber Arief melontarkan dengan terang-terangan ungkapan semacam itu. Padahal, di era sekarang, dalam hitungan menit atau bahkan detik, sekali diposting di medsos, video kita bisa dikonsumsi warga seantero negeri.
Ditambah lagi kerelaannya pasang badan secara total atau bahkan “brutal” demi Kanda Bahlil itu bisa saja menimbulkan anggapan bahwa aktivis itu harus memiliki keahlian melindungi pemimpinnya meskipun salah jalan. Kita pun tidak bisa menepis lagi jika penilaian publik terhadap dunia aktivis dan politik itu semakin merosot tajam oleh sebab kecerobohan Arief. Entah dalam konteks menjaga wibawa atau marwah pemimpinnya, pembelaan atas suatu kesalahan, itu tidak kita terima.
Bagaimanapun juga, hemat saya, setiap kader parpol memang perlu bersikap kritis tanpa harus menanggalkan integritasnya. Tanpa harus menggadaikan atau bahkan menjual idealismenya. Budaya instan dan pragmatis di dunia politik, sekali lagi, memang sukar dibantah. Siapa yang paling menguntungkan dan menjanjikan masa depan, wajib didukung sepenuh hati bahkan kalau perlu jiwa dan raga dipersembahkan untuk “beliau-beliau” yang telah membukakan jalan karir politiknya.
Setidaknya, begitulah paham yang dianut oleh politisi yang dalam tempurung kepalanya hanya berkisar pada urusan harta dan tahta. Siapa mendapatkan apa? Kapan dan bagaimana memperolehnya? Siapa yang harus didekati agar karir ke depan mulus tanpa aral?
Kembali lagi terkait Arief. Perjalanannya di dunia politik masih membentang jauh ke depan. Dia adalah aset bangsa dan harapan kita tentunya. Mungkin kemarin sedang menggebu-gebu sampai tidak sadarkan diri hingga berseloroh seperti itu.
Atau barangkali ketika acara kemarin, dia sedang lapar atau haus sehingga kata-katanya di luar kendali atau tak terkontrol? Atau mungkin Arief sedang kerasukan demit penunggu Pohon Beringin raksasa dari alas Purwo? Entahlah. Jika semisal dia sedang kerasukan, bisa dipastikan saya pun ikut gelagapan untuk memanggil “orang pintar” sebab Arief sendiri ini pintarnya bukan main sehingga bisa jadi yang merasukinya jin level profesor doktor. Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana jika semua itu ternyata gimmick semata?
Penulis Muhammad Aufal Fresky adalah Esais asal Madura
Editor : Thomas Priyandoko