Oleh: Muhammad Sarip (Sejarawan Publik)
JIKA ingin mempelajari cara berlogika dan terhindar dari sesat nalar serta belajar kesehatan mental melalui bacaan yang ringan dan berkarakter muda, buku karya Abigail Limuria-Cania Citta layak direkomendasikan. Jika ingin mencari motivasi pengembangan diri berpreferensi muslim muda, buku karya Shafa’ Salsabila dapat menjadi salah satu pilihan rekomendasi.
Sebenarnya sangat langka koleksi buku saya yang bergenre self improvement. Saya lebih fokus pada buku-buku berklasifikasi sejarah dan ilmu sosial yang meliputi sosiologi, antropologi, ilmu politik, dan komunikasi.
Kejadian unik pada 2025 saya bisa mengoleksi 2 judul buku genre pengembangan diri atau motivasi. Hal ini karena saya lebih dulu mengetahui kiprah para penulisnya, sehingga saya merasa perlu membaca pemikiran mereka dalam bentuk buku teks.
Buku pertama yang saya koleksi terbit Januari 2025. Judulnya Makanya, Mikir! Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia. Tebal viii + 295 halaman. Penulisnya, Abigail Limuria dan Cania Citta Irlanie, adalah dua influencer edukasi pemikiran rasional dari generasi Y (milenial) angkatan terakhir.
Saya mengikuti dinamika pemikiran Abigail dan Cania sebelum mereka populer terlibat dalam aktivitas Malaka Project. Abigail alias Abby adalah sarjana Cinema and Media Arts lulusan Biola University, Amerika Serikat. Dia membuat platform “Bijak Memilih” untuk panduan rasional dalam memilih pada pemilu 2024.
Karakter vokal suara Abby yang unik dan public speaking dia yang komunikatif membuat delivery materi berat menjadi lebih ringan. Dia juga viral di media sosial ketika mengkritik perjokian skripsi yang dinormalisasi oleh sebagian mahasiswa.
Adapun Cania, Sarjana Ilmu Politik FISIP UI ini lebih dulu tampil di ruang publik dan media digital dengan mengusung ide libertarianisme dan logical thinking. Libertarian menginginkan kedaulatan individu secara maksimal dan peran negara yang minimalis dalam domain privat warganya. Term libertarianisme merupakan peralihan istilah liberal yang sering disalahpahami.
Saya menyaksikan Cania kali pertama di tayangan “Indonesia Lawyers Club” (ILC) TVOne saat dia berusia 22 tahun. Sebagian orang menganggap opini yang dia sampaikan tak populer dan anti-mainstream.
Beredar pula disinformasi yang menyamakan antara liberal dan komunis. Padahal liberalisme dan komunisme adalah dua ideologi yang sangat bertolak belakang dan saling bertentangan. Liberal atau libertarian menekankan kebebasan dan hak pribadi dengan pembatasan peran negara, sedangkan komunis menghapus hak pribadi dan memperkuat peran negara.
Dalam sebuah konten, Cania menolak label feminis untuk dirinya. Dia tidak sepakat dengan kebijakan kuota keterwakilan perempuan dalam jabatan publik. Menurutnya, kesetaraan gender seharusnya berbasis kompetensi, bukan semata tuntutan representasi. Jika kuota diterapkan tanpa mempertimbangkan kemampuan, hal itu berisiko merugikan publik sekaligus memperkuat stigma bahwa perempuan tidak layak menduduki jabatan publik.
Semestinya, kaum perempuan-lah yang harus meningkatkan skill dan kompetensinya sehingga tanpa regulasi angka minimal persentase keterwakilan perempuan, bisa saja kaum perempuan yang mendominasi posisi strategis di ruang publik.
Abby dan Cania saling melengkapi dalam penulisan buku. Cania yang inisiatif menulis naskah dianggap terlalu teoretis. Lalu Abby memperbaiki naskahnya dengan bahasa yang komunikatif disertai contoh studi kasus yang relevan dalam dunia nyata. Layout bukunya sangat dinamis, dilengkapi dengan banyak ilustrasi serta infografik yang menarik dan berwarna.
Buku kedua yang saya koleksi ditulis oleh Shafa’ Salsabila Akbar, terbit Desember 2025. Judulnya The Day After Winning. Ketebalannya xvi + 183 halaman. Shafa’ adalah gen Z alumnus S-1 Komunikasi Penyiaran Islam UINSI yang pada 2024–2026 menempuh studi S-2 Ilmu Komunikasi UNS.
Saya mengenal Shafa’ kali pertama sebagai sesama narasumber dalam sebuah podcast garapan Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur 2022 bertema Hari Pahlawan. Kami juga pernah tampil sepanggung dalam sebuah forum diskusi publik sejarah 2023.
Selain penulis, aktivitas Shafa’ adalah content creator bidang komunikasi dan narasumber kegiatan public speaking. Dia pernah bekerja freelance sebagai presenter Tepian TV dan TVRI Kalimantan Timur. Pernah juga terpilih sebagai peserta Pendidikan Kader Pemimpin Muda Nasional (PKPMN) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI di Jakarta, 14–23 September 2022. Prestasi terbarunya adalah juara lomba presenter live report yang digelar oleh Garuda TV di UNS, 13 November 2025.
Buku Abby-Cania dan Shafa’ sama-sama menawarkan konsep berpikir dan bertindak dalam goal setting. Namun, perbedaannya tentu saja signifikan selain latar penulisnya yang berbeda generasi. Meskipun begitu, saya tidak memperbandingkan dua buku ini dalam posisi yang setara karena keduanya memang tidak apple to apple.
Abby dan Cania berkolaborasi menulis buku Makanya, Mikir! setelah melewati fase overthinking sebagian anak muda saat berusia 25 tahun, yang terjebak dengan tren budaya quarter life crisis. Mereka pernah mengalami trial and error, termasuk juga dinamika konflik dan turbulensi kehidupan. Adapun Shafa’ saat bukunya terbit (2025) dia belum genap 24 tahun. Usia Shafa’ sekitar sewindu lebih muda ketimbang Abby-Cania.
The Day After Winning merupakan buku kedua Shafa’ setelah buku pertamanya yang berjudul Melelahkan, Tapi Harus Diperjuangkan. Buku pertama ini terbit pada 2023. Shafa’ memberikan bukunya langsung kepada saya. Dari beberapa kali pertemuan, Shafa’ bercerita secara personal lebih mendalam mengenai proses dia menulis dan pengalaman lainnya.
Dua buku Shafa’ mendeskripsikan perjalanan dan pelajaran hidup yang dialaminya. Tidak hanya glory yang dia tulis. Tragedi juga diungkapnya secara jujur. Jadi, narasinya bisa dibilang proporsional, bukan glorifikasi absolut dari portofolionya.
Segmen buku Shafa’ menyasar anak muda gen Z, terutama kalangan muslim urban yang modernis. Argumen Shafa’ sering menggunakan pendekatan keimanan agamais. Secara naratif dan kronologis dia menuliskan pengalaman diri sendiri dan tiga adiknya sebagai cara dia berdialog dan mendekatkan diri dengan pembaca.
Buku Abby-Cania dan buku Shafa’ sama-sama menawarkan panduan berpikir dan bertindak. Namun, keduanya berangkat dari fondasi yang berbeda. Satu mengedepankan rasionalitas sekular, sementara yang lain berpijak pada religiositas Islam.
Segmen buku Abby-Cania lebih bersifat universal. Buku Makanya, Mikir! tidak menggunakan pendekatan satu agama tertentu. Abby-Cania mengusung kerangka berpikir ilmiah secara rasional dalam menentukan tujuan hidup, menyusun argumen, mengatur prioritas, menimbang risiko, mengambil keputusan dalam karier dan relationship, memilah pertemanan, dan lain-lain.
Perbedaan dua pendekatan ini bukan sekadar soal gaya penulisan. Di satu sisi, rasionalitas sekular menyajikan kejelasan logika dan kebebasan berpikir. Di sisi lain, pendekatan religius menawarkan rasa aman spiritual bagi yang mengimaninya. Keduanya tumbuh di ruang sosial yang sama, walaupun sering kali saling bersinggungan, bahkan berkompetisi.
Buku-buku pengembangan diri kadang bukan sekadar bacaan motivasi, melainkan refleksi dari kegelisahan generasi muda menghadapi dunia yang serba cepat, kompetitif, dan penuh ketidakpastian. Mereka mencari pegangan, entah berbasis logika atau iman, untuk bertahan dan melangkah.
Pada titik ini, perdebatan sekular atau religius seharusnya tidak berhenti pada urusan benar dan salah. Berpikir logis tetap harus memerhatikan rasa kemanusiaan. Di sisi lain, beragama juga memerlukan sikap kritis dan inklusif agar tidak melahirkan perspektif kaku yang menutup ruang perbedaan.
Pada akhirnya, pilihan cara berpikir adalah hak personal setiap individu. Namun, kebebasan berpikir juga menuntut tanggung jawab intelektual dan empati. (*)
Editor : Muhammad Rizki