Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Saat Jabatan Menjadi Ujian, Tirakat Hati Menjadi Kunci Kepemimpinan

Redaksi KP • Senin, 12 Januari 2026 | 21:26 WIB

 

Riyawan S.Hut
Riyawan S.Hut

Oleh: Riyawan S.Hut
Pengamat Sosial

DI era media sosial dan politik pencitraan, wajah pejabat publik kerap tampil rapi, santun, dan seolah tanpa cela. Setiap pernyataan disusun oleh tim komunikasi, setiap gerak direkam kamera, dan setiap blusukan dikemas demi konten. Namun ironisnya, di tengah semua itu, kepercayaan publik justru terus menurun.

Rakyat makin sulit membedakan mana ketulusan dan mana akting. Kasus korupsi, skandal asusila, serta perilaku pejabat yang jauh dari etika terus bermunculan. Di sinilah pertanyaan penting muncul “apa yang sebenarnya kurang dari kepemimpinan kita?”

Jawabannya mungkin bukan terletak pada kurangnya aturan, pelatihan, atau strategi komunikasi. Masalahnya lebih dalam yakni krisis batin dan karakter. Di titik inilah konsep tirakat hati yang nyaris dilupakan menjadi relevan kembali

Tirakat Bukan Ritual Kuno, Tapi Disiplin Batin

Bagi sebagian orang, tirakat identik dengan laku asketis seperti puasa ekstrem, menyepi di gunung, atau hidup menjauh dari dunia. Padahal, itu hanya bentuk luarnya. Hakikat tirakat adalah disiplin batin untuk mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan niat.

Dalam tradisi spiritual Nusantara dan Islam, tirakat dipahami sebagai perjalanan batin (thariqah) untuk membentuk manusia yang matang secara moral. Bagi pejabat publik, tirakat sejatinya adalah olahraga mental dan spiritual, sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar pelatihan kepemimpinan berbasis teori. Kekuasaan adalah ujian paling berat bagi karakter manusia.

Kekuasaan, Nafsu, dan Keruntuhan Moral Pejabat

Jabatan ibarat kaca pembesar. Niat baik bisa menjadi amal besar, tetapi niat buruk yang kecil bisa menjelma bencana. Banyak pejabat jatuh bukan karena tidak cerdas, melainkan karena gagal mengelola isi hatinya sendiri.

Contoh keserakahan bisa kita lihat dari praktik korupsi anggaran, proyek fiktif, atau permainan komisi dalam pembangunan. Ada pula kasus asusila, pelecehan, dan penyalahgunaan kekuasaan terhadap pihak yang lemah. Belum lagi perilaku arogan, pamer kekayaan, dan hidup bermewah-mewah di tengah kesulitan rakyat.

Semua itu berakar pada satu hal yakni nafsu yang dibiarkan tanpa kendali. Tanpa tirakat batin, jabatan berubah dari amanah menjadi alat pemuasan diri.

Tirakat Pejabat Modern: Praktik Nyata, Bukan Retorika

Tirakat bagi pejabat hari ini tidak harus menyepi ke gua. Ia justru bisa dijalankan di tengah kesibukan, melalui laku-laku sederhana namun konsisten.

“Tirakat bicara”, misalnya, berarti mengurangi pidato dan memperbanyak mendengar. Mendengar keluhan pedagang pasar, korban kebijakan, dan suara hati nurani sendiri yang sering kalah oleh bisikan kekuasaan.

Ada pula “tirakat tidur”, yakni menyediakan waktu hening untuk refleksi. Bangun lebih pagi bukan untuk rapat atau pencitraan, tetapi untuk bertanya jujur “apakah kebijakan ini benar-benar untuk rakyat, atau untuk kepentingan kelompok tertentu?”

Yang paling berat adalah tirakat terhadap kemewahan. Hidup cukup, tidak silau fasilitas, menolak penyalahgunaan anggaran, dan tidak gengsi tampil sederhana. Setiap rupiah uang rakyat yang tidak dikorupsi adalah bentuk sedekah dan kesadaran moral.

Pencitraan vs Tirakat: Dua Jalan yang Berbeda

Pencitraan bersifat eksternal dan reaktif. Ia diciptakan agar terlihat baik, mengikuti tren opini publik, dan bergantung pada kamera. Sebaliknya, tirakat hati bersifat internal dan proaktif. Ia dilakukan dalam kesunyian, tanpa saksi, untuk membangun karakter yang kokoh.

Hasil pencitraan adalah popularitas sesaat. Hasil tirakat adalah wibawa alami. Popularitas bisa dibeli, tetapi kepercayaan hanya lahir dari konsistensi moral.

Teladan Kepemimpinan Berbasis Tirakat

Bangsa ini punya banyak teladan. Hoegeng Imam Santoso, misalnya, dikenang bukan karena retorika, tetapi karena kesederhanaan dan keberaniannya melawan korupsi hingga akhir hayat. Integritasnya adalah buah dari tirakat melawan keserakahan.

Dari dunia spiritual, Sunan Kalijaga mengajarkan kesabaran dan pengabdian melalui laku hidup, bukan pencitraan. Islam disebarkan lewat keteladanan, bukan propaganda.

Pesan ini dipertegas oleh ulama karismatik KH Maimun Zubair, yang berkata, “Tirakat yang paling joss yaiku tirakat hati yang bersih.” Sebuah kalimat sederhana, tetapi sarat makna kepemimpinan.

Relevansi Gajah Mada Strategic Leadership

Pemikiran ini sejalan dengan konsep Gajah Mada Strategic Leadership yang dibahas dalam artikel di Kompasiana. Kepemimpinan Gajah Mada tidak hanya bertumpu pada strategi dan kekuasaan, tetapi pada pengendalian diri, loyalitas pada tujuan besar, dan kesanggupan menahan ambisi pribadi demi kepentingan negara. Tanpa disiplin batin, strategi sebesar apa pun akan runtuh oleh moral yang rapuh.

Tirakat Juga Tanggung Jawab Rakyat

Tirakat bukan hanya urusan pejabat. Rakyat pun perlu “tirakat ikut-ikutan”, tidak mudah terprovokasi hoaks dan politik kebencian. Ada pula “tirakat pamrih”, tidak selalu berharap imbalan saat memilih pemimpin. Ekosistem politik yang sehat hanya lahir jika pemimpin dan rakyat sama-sama menahan nafsu.

Kepemimpinan Dimulai dari Hati

Membangun negeri tidak cukup dengan kebijakan cerdas dan infrastruktur megah. Ia membutuhkan fondasi karakter yang kuat. Tirakat mengajarkan bahwa sebelum mengubah dunia, seorang pemimpin harus terlebih dahulu menguasai dirinya sendiri. Pertanyaannya kini bukan lagi, “Apa programnya?” tetapi, “Sudah sejauh apa ia membersihkan hatinya?”

Sejarah Nusantara membuktikan, banyak kekuasaan runtuh bukan karena musuh dari luar, melainkan karena keroposnya moral penguasa. Pilihan ada di tangan para pejabat hari ini, terus memperindah topeng pencitraan, atau memulai laku tirakat hati. Pilihan itu akan menentukan arah kepercayaan publik dan masa depan bangsa. (*)

 

 

 

 

Editor : Muhammad Rizki
#kepemimpinan #pencitraan