Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mencetak Kader Patriotik

Muhammad Aufal Fresky • Kamis, 15 Januari 2026 | 09:59 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, “Kita di sini benar-benar mencetak kader-kader patriotik. Kader-kader yang cinta Tanah Air. Kader-kader yang bertanggung jawab. Disiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang baik di semua bidang.”

Begitulah pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto ketika meresmikan SMA Taruna Nusantara Terintegrasi di Pagak, Kabupaten Malang, Selasa (13/1) kemarin. Sepertinya langkah dan sepak terjang Presiden dalam mempersiapkan tunas-tunas muda pemimpin bangsa tidak main-main.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menuturkan bahwa dalam pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tidak cukup, namun juga harus disertai dengan pembentukan karakter dan nilai kebangsaan.

Selaku penulis, saya pribadi sepenuhnya setuju terkait apa yang Presiden kita sampaikan. Apalagi, tantangan dan persoalan generasi muda hari ini kian menumpuk dan kompleks. Sebab itu, mentalitas dan kepribadian pemuda hari ini wajib diasah dan dikuatkan.

Gagasan besar Presiden mempersiapkan pemimpin-pemimpin muda masa depan yang cemerlang, kompeten, visioner, nasionalis, dan patriotik lewat pendidikan semi-militer di SMA Taruna Nusantara sepertinya relevan dengan kondisi sebagian besar pemuda hari ini yang memang sedang kehilangan arah, krisis jati diri, krisis nasionalisme, dan juga krisis identitas.

Mudah terombang-ambing oleh arus budaya asing yang destruktif dan berlawanan dengan adat-istiadat serta norma ketimuran. Gagasan mencetak kader patriotik, saya kira perlu diterapkan bukan hanya di SMA Taruna Nusantara. Artinya, sekolah-sekolah lainnya, baik negeri maupun swasta, di pusat-pusat kota ataupun di pelosok desa, mesti berupaya secara sungguh-sungguh untuk mengikuti visi besar Prabowo.

Kendatipun sistem dan kurikulum di dalamnya tidak harus sama persis. Tapi setidaknya, spirit dalam mencetak pemimpin-pemimpin masa depan yang unggul dan berjiwa kesatria dimiliki oleh setiap SMA di seluruh wilayah Indonesia. Terkait hal ini, pasti membutuhkan peran sentral kepala sekolah selaku nakhoda utama dan para guru sebagai motor penggeraknya.

Begitulah yang saya dambakan yakni bagaimana setiap sekolah di negeri ini mampu menelurkan pemimpin-pemimpin yang cerdas dan berintegritas. Pemimpin yang betul-betul cinta terhadap negeri ini. Pemimpin yang siap mendedikasikan sebagian hidupnya untuk bangsa ini.

Jujur saja, tidak cukup kita mengandalkan lulusan dari SMA Taruna Nusantara mengingat populasi penduduk di negeri ini sampai ratusan juta. Belum lagi keragaman agama, budaya, suku, dan adat-istiadat di setiap daerah juga menjadi tantangan sendiri bagi pemimpin-pemimpin masa depan kita.

Lebih lanjut lagi, menyeruaklah sebuah pertanyaan: “Kenapa kita membutuhkan kader patriotik? Kenapa harus dipersiapkan dari sekarang?” “Bagaimana kendala yang nantinya dihadapi dalam proses mencetak kader-kader yang bermutu?” Pertanyaan-pertanyaan itu, sekali lagi, masih berkaitan erat dengan ragam problematika sosial hari ini dan visi kita bersama yakni mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Maksudnya yaitu hari ini kita tidak bisa menepis sebuah fakta bahwa sebagian senior-senior kita atau bahkan ada yang masih usia muda, yang sedang menjabat di eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, di tingkat daerah hingga nasional, yang memang menjadi pengkhianat bangsa, menjadi “bandit” yang doyan merampok uang rakyat.

Menyalahgunakan kekuasaan atau kewenangannya untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Jangan tanyakan perihal cinta tanah air kepada mereka. Sebab, sejak awal yang ada dalam benaknya yaitu untuk meraih takhta dan meraup harta sebanyak mungkin.

Oleh sebab itulah, pemuda sekarang dituntut lebih peka dan jeli dalam membaca dinamika perpolitikan nasional dan perkembangan demokrasi di negeri ini. Sebab, lambat laun, tunas-tunas muda yang akan menggantikan peran strategis pemimpin-pemimpin sekarang.

Mau tidak mau, suka tidak suka, pemuda hari ini, cepat atau lambat, akan dihadapkan pada realitas hidup yang tidak sesempit ruang kelas. Apakah nantinya pemuda kita hanya akan terbawa arus atau menciptakan arus? Menjadi pemimpin yang amanah atau serakah? Itu semua, tentu saja, juga bergantung bagaimana proses menempa diri dari sekarang.

Lebih-lebih, masalah judi online, pergaulan bebas, minuman keras, sabu, narkoba, dan pornografi masih menjadi pekerjaan rumah yang mana terus menerus kita coba untuk mengentaskan atau setidaknya menekan angkanya agar tidak melonjak.

Sebab, persoalan macam itu menghancurkan mental dan karakter generasi muda kita. Sebab, kita semua menginginkan pemuda hari ini tumbuh dan berkembang dengan baik. Entah itu dari sisi jasmani ataupun ruhani. Kita mendambakan pemuda yang menaati norma agama, norma hukum, dan sosial yang berlaku di tengah masyarakat.

Semula, saya pikir dengan memiliki kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik sudah cukup untuk mengarungi bahtera hidup. Tapi nyatanya itu saja masih kurang. Pemuda harus dibekali dengan wawasan kebangsaan yang mumpuni untuk menempa dirinya menjadi kader patriotik.

Termasuk dengan membekali mereka dengan beragam pelajaran terkait sejarah tokoh bangsa di masa silam. Betapa para pendahulu adalah pejuang yang rela tenaga, harta, dan pikirannya terkuras habis demi kemaslahatan umat.

Pahlawan bangsa di masa silam adalah orang-orang yang bersedia dengan setulus-tulusnya berkorban jiwa dan raga untuk bangsa yang amat dicintainya. Sikap dan karakter semacam itu perlu diteladani oleh pemuda hari ini untuk menjadi kader patriot.

Tidak hanya itu, kader patriotik, hemat pandangan saya, adalah orang-orang yang senantiasa berjuang menegakkan nilai-nilai yang bersumber dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI (empat pilar kebangsaan) yang mencakup di antaranya yaitu religiusitas, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, keadilan, cinta tanah air, toleransi, gotong royong, dan sebagainya. Semua implementasi nilai-nilai kebangsaan itu, tujuannya yakni untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.

Memungkas catatan ini, besar harapan saya agar sistem pendidikan kita dievaluasi total. Dikoreksi celah-celahnya. Sebab, bisa jadi output lembaga pendidikan hari ini, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, kurang memperhatikan bagaimana membina dan menempa anak-anak kita, pemuda-pemuda kita, untuk menjadi insan yang nasionalis-religius, menjadi calon pemimpin masa depan yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Unggul bukan hanya dari segi intelektual, tapi juga emosional dan spiritual. Apalagi, kita tahu, saat ini kita semua sedang berkemas-kemas menuju Indonesia yang maju di segala bidangnya. Dan hal itu, pastinya membutuhkan SDM unggul, termasuk kehadiran lebih banyak lagi kader-kader patriotik di tengah-tengah kita. (*)

*) Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

Editor : Almasrifah
#kader #pemimpin #Patriotik #prabowo subianto #sma taruna nusantara #pendidikan