Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sarjana Sujana

Muhammad Aufal Fresky • Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:50 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, Setiap tahunnya, ratusan hingga ribuan sarjana anyar lahir. Perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, melahirkan kaum terdidik baru yang kiprah dan kontribusinya dinantikan oleh masyarakat. Alih-alih menjadi tulang punggung masyarakat ataupun problem solver, sebagian sarjana kita justru kebingungan atau bahkan hampir putus asa mencari dan mendapatkan pekerjaan.

Salah satu alasannya adalah ketidaksinkronan jurusan waktu kuliah dengan kebutuhan industri. Kita pun menjadi waswas dan sedikit khawatir bonus demografi bakal menjadi petaka demografi.

Pemuda, yang mestinya menjadi inisiator, konseptor, dan aktor perubahan dan perbaikan justru menjadi beban tersendiri. Kita semakin ditampar oleh suatu kenyataan yang sukar dibantah bahwa gelar dan selembar ijazah bukan penentu atau jaminan keberhasilan seseorang mengarungi bahtera hidup yang tantangannya kian banyak dan beragam.

Persoalan semakin runyam manakala sebagian sarjana kita kehilangan jati diri, kehilangan arah, dan mengalami krisis identitas. Masalah akan semakin melebar ke mana-mana ketika sarjana hari ini justru semakin apatis dengan persoalan di sekitarnya.

Yang ada dalam tempurung kepalanya hanya bagaimana memperoleh pekerjaan yang mapan, memperkaya diri, dan mendapatkan status sosial yang mentereng. Tak jarang, norma agama, hukum, dan sosial dilabrak begitu saja hanya untuk memenuhi ambisinya yang membabi buta.

Padahal, kita sedang menantikan kehadiran Sarjana Sujana, yakni kaum terdidik yang berbudi luhur, berhati mulia, dan bijaksana. Sebab, sekali lagi, bangsa ini tidak sekadar membutuhkan generasi muda yang cerdas, tapi juga berintegritas. Tidak hanya memerlukan sarjana yang pintar, tapi juga benar. Kerapuhan karakter sebagian sarjana kita menjadi perhatian tersendiri bagi penulis.

Tentu ini bukan tuduhan yang sembarangan. Bukan berarti saya pribadi menyimpulkan suatu persoalan secara serampangan. Pandangan saya ini tentu saja berangkat dari suatu fakta bahwa tidak sedikit orang-orang pintar jebolan perguruan tinggi mentereng tapi dari segi kepribadian membuat kita mengelus dada. Tengok saja, sebagian pejabat publik hari ini yang doyan menyelewengkan kekuasaan dan wewenangnya. Bukankah sebagian dari mereka memiliki gelar yang berderet-deret?

Saya pun jadi beranggapan bahwa persoalan lainnya adalah barangkali terlalu menggantungkan diri pada kebijakan, regulasi, atau bahkan belas kasihan pemangku kekuasaan. Utamanya terkait penyediaan lapangan pekerjaan. Peran dan tanggung jawab sarjana sebagai pemikir inovator seakan dikerdilkan sebatas menjadi pekerja yang menghamba pada kepentingan industri.

Celakanya lagi, sebagian sarjana kita mengamini pemahaman macam itu. Bangku kuliah sebatas dijadikan batu loncatan untuk menjadi orang yang berkualifikasi dan profesional. Terkait perannya di tengah masyarakat, mungkin belum atau sama sekali tidak ada di dalam benaknya.

Menjadi sarjana sujana hanya akan menjadi wacana jika perguruan tinggi hari ini disibukkan dengan urusan-urusan administratif, seperti halnya mengejar nilai akreditasi dan peringkat. Setiap universitas seolah-olah berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, terhebat, terdepan, dan terunggul di semua sisinya. Saya kira hal semacam itu adalah sah-sah saja.

Tidak perlu diperdebatkan panjang lebar. Hanya saja yang menjadi catatan saya adalah ketika kampus justru hanya fokus untuk memperoleh nilai terbaik tapi menanggalkan kewajibannya untuk mencetak calon pemimpin masa depan, bukankah itu suatu hal yang disayangkan? Sebab, perguruan tinggi bukan sebatas lahan untuk mempersiapkan tenaga-tenaga terampil dan profesional di bidangnya masing-masing.

Lebih dari itu, perguruan tinggi, hemat saya, memikul tanggung jawab untuk mencetak sebanyak-banyaknya sarjana sujana. Yakni sarjana yang pintar, terampil, dan berkepribadian luhur. Saya pun memaknai sarjana sujana sebagai sarjana yang memiliki otak brilian tapi juga watak mulia.

Sarjana yang siap mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negaranya. Sarjana yang mampu berpikir kritis, holistik, dan sekaligus memiliki empati dan simpati yang tinggi terhadap nasib wong cilik.

Apalagi, menjadi sarjana bukanlah akhir dari perjuangan akademik, apalagi garis finis dari perjuangan hidup. Gelar sarjana adalah gerbang awal atau pintu pembuka untuk melangkah dan mengarungi perjalanan hidup yang curam dan berduri.

Oleh sebab itulah, melalui catatan ini, ingin rasanya saya kembali menegaskan bahwa persoalan sarjana hari ini bukan sebatas memperoleh pekerjaan mapan dengan tunjangan dan gaji menjanjikan. Perspektifnya, menurut saya, mesti diperluas.

Apakah keberadaan kita selaku sarjana sebenarnya bisa membawa dampak positif bagi kemajuan bangsa ini. Tinggal direnungkan dan dipikir secara mendalam apa yang bisa kita persembahkan untuk Ibu Pertiwi. Entah itu lewat tenaga, harta, ilmu, keterampilan, dan semacamnya. Saya rasa, setiap sarjana kita memiliki potensi yang luar biasa yang mana bisa didayagunakan untuk kemaslahatan umat.

Dan yang terakhir, kita sebagai sarjana, atau orang yang pernah berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, dituntut untuk memiliki keberanian yang tinggi untuk keluar dari zona nyaman. Dituntut untuk berani mendobrak beragam ketidakmungkinan dan keterbatasan yang barangkali menjadi pemasung kita selama ini. Artinya, jangan menunggu mapan dulu untuk berkontribusi.

Sebab, berbagi itu bisa lewat ilmu dan pengetahuan dengan mengajar atau mendidik misalnya. Atau lewat tulisan-tulisan yang kita hasilkan di berbagai media massa misalnya. Intinya, sarjana sujana itu tidak berpangku tangan, terus bergerak, senantiasa mengambil bagian dalam menjadi agen pencerahan di tengah masyarakat.

Batinnya akan gelisah dan pikirannya akan terusik manakala dia diam atau bahkan berkompromi dengan segala jenis kemunafikan. Jadi, sarjana sujana adalah orang-orang yang dengan nyawanya bahkan rela dipertaruhkan untuk mempertahankan idealismenya. Sarjana sujana adalah nasionalis sejati. Gerak hidupnya bernapaskan Pancasila. (*)

*) Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

Editor : Almasrifah
#perguruan tinggi #Krisis Identitas #profesional #sarjana