Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Isra Mikraj dan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Romdani. • Senin, 19 Januari 2026 | 06:35 WIB
Amir Hady
Amir Hady

 

Oleh:

Amir Hady

Sekretaris PWM Kaltim

 

KALTIMPOST.ID-Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW selalu hadir sebagai momentum spiritual yang agung bagi umat Islam.

Namun lebih dari sekadar mengenang sebuah peristiwa luar biasa, Isra Mikraj sejatinya adalah peristiwa ujian iman yang paling berat dalam sejarah awal Islam. Ti

dak sedikit orang yang goyah imannya, bahkan ada yang berpaling, ketika peristiwa ini disampaikan Rasulullah SAW kepada masyarakat Quraisy.

Peristiwa Isra Mikraj menantang cara berpikir manusia. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, dan kembali dalam satu malam, jelas berada di luar jangkauan logika empiris, maka wajar jika reaksi yang muncul kala itu adalah ejekan, penolakan, dan keraguan. Akan tetapi, justru di sinilah kualitas iman seseorang diuji.

Di tengah kegaduhan itu, tampil sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dengan sikap yang amat tenang dan tegas.

Ketika kabar Isra Mikraj disampaikan kepadanya, Abu Bakar tidak terjebak dalam perdebatan teknis, jarak, waktu, atau kemungkinan-kemungkinan rasional semata.

Ia hanya menyampaikan satu kalimat sederhana namun sangat dalam maknanya: “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar.”

Ungkapan itu sering dipahami sebagai bentuk iman yang mendahulukan keyakinan tanpa akal. Padahal, jika dicermati secara jernih, sikap Abu Bakar justru mencerminkan penggunaan akal yang sangat matang dan jujur.

Abu Bakar tidak menanggalkan rasionalitas, tetapi menggunakan seluruh data empirik yang ia miliki tentang pribadi Nabi Muhammad SAW.

Selama puluhan tahun mengenal Rasulullah SAW, Abu Bakar menyaksikan langsung integritas beliau.

Nabi tidak pernah berdusta, tidak pernah berkhianat, tidak pernah memanipulasi kebenaran, bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul.

Gelar al-Amīn bukanlah predikat simbolik, melainkan kesaksian sosial yang diakui kawan dan lawan.

Maka bagi Abu Bakar, secara rasional tidak masuk akal jika pribadi sejujur itu tiba-tiba berdusta atas nama Allah.

Dengan demikian, iman Abu Bakar adalah iman yang lahir dari penilaian rasional terhadap kredibilitas sumber.

Dalam bahasa sederhana, Abu Bakar menimbang: jika sumber informasi ini paling terpercaya, maka keterbatasan akalku memahami peristiwanya tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak kebenarannya. Inilah iman yang dewasa, iman yang tidak emosional, dan iman yang tidak anti-akal.

Perbedaan Abu Bakar dengan kaum Quraisy bukan terletak pada ada atau tidaknya akal, melainkan pada kejujuran dalam menggunakan akal.

Kaum Quraisy menutup mata terhadap fakta empirik tentang kejujuran Nabi karena terhalang kepentingan, gengsi, dan kesombongan.

Sementara Abu Bakar membiarkan akalnya tunduk pada kebenaran, meski konsekuensinya berat secara sosial dan politik.

Isra Mikraj dengan demikian mengajarkan bahwa akal memiliki batas, dan wahyu hadir bukan untuk meniadakan akal, melainkan untuk membimbingnya.

Ketika akal sampai pada titik keterbatasannya, ia tidak boleh berubah menjadi kesombongan intelektual.

Justru di sanalah iman mengambil peran, bukan sebagai lawan akal, tetapi sebagai kelanjutan dari akal yang jujur.

Menariknya, buah utama dari peristiwa Isra Mikraj bukanlah kisah perjalanan itu sendiri, melainkan perintah shalat.

Salat menjadi hadiah langsung dari AllahSWT  tanpa perantara, sebagai penanda kualitas iman seorang hamba.

Maka sesungguhnya, sikap kita terhadap shalat hari ini adalah cermin dari bagaimana kita memaknai Isra Mikraj.

Mengagungkan Isra Mikraj tetapi meremehkan shalat adalah kontradiksi iman yang nyata.

Dalam konteks umat Islam kini, Isra Mikraj relevan untuk menjawab tantangan zaman yang sering mengukur kebenaran agama semata-mata dengan standar logika dan sains modern.

Abu Bakar mengajarkan bahwa rasionalitas sejati bukan menolak wahyu, tetapi mengakui otoritas kebenaran ketika sumbernya terbukti jujur dan amanah.

Peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi ajakan untuk menata kembali iman kita: apakah iman kita masih bersandar pada integritas Rasulullah SAW atau justru goyah karena keterbatasan nalar kita sendiri.

Pada akhirnya, iman yang kokoh adalah iman yang berani berkata seperti Abu Bakar: aku percaya, bukan karena aku memahami segalanya, tetapi karena aku mengenal siapa yang menyampaikannya.

Semoga peringatan Isra Mikraj tidak berhenti pada seremoni, melainkan melahirkan iman yang rasional, rendah hati, dan berbuah dalam ketaatan, terutama dalam menjaga shalat sebagai tiang agama dan tanda kedekatan kita kepada Allah SWT. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #Isra Mi raj #ibu kota nusantara #Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas ud #Kutai Barat