Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mempersiapkan Generasi Unggul

Muhammad Aufal Fresky • Senin, 19 Januari 2026 | 09:34 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, Beberapa hari lalu, jagat maya digegerkan oleh beredarnya video pengeroyokan sejumlah murid terhadap seorang guru. Usut punya usut, peristiwa tersebut terjadi di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Sementara guru yang dikeroyok bernama Agus Surnaryo. Selaku penulis, saya pun penasaran dan menelusuri duduk perkara kasus tersebut di sejumlah portal media daring.

Ternyata, hal itu bermula saat Agus mendengar lontaran kata-kata kasar atau tidak pantas dari seorang siswa. Sontak, Agus menampar siswa tersebut. Masalah kian runyam ketika sejumlah siswa tidak terima dan menganggap Agus melontarkan kata-kata bernada penghinaan. Hingga timbullah aksi pengeroyokan di lingkungan sekolah tersebut.

Tentu saja kita tidak ingin peristiwa serupa terulang lagi. Alasannya agar tidak menjadi preseden buruk dalam dunia pendidikan kita di waktu-waktu mendatang. Bagaimanapun juga, saya berpandangan tidak ada guru yang memiliki iktikad buruk untuk mencelakai anak didiknya. Tidak ada guru yang memiliki maksud jahat kepada siswa-siswinya.

Dalam lubuk hati saya, masih tersimpan prasangka positif kepada seluruh guru di negeri ini, bahwa mereka pasti mendambakan anak didiknya sukses dan berhasil di masa depan. Maka dari itu, tindakan pendisiplinan dan penertiban yang dilakukan guru kepada siswa, alangkah lebih eloknya dipandang sebagai sebuah ikhtiar membangun mentalitas dan karakter siswa.

Sebab, di negeri ini, kita sudah mafhum bahwa yang namanya adab, tata krama, dan akhlak sudah mulai tergerus atau bahkan hilang sama sekali. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, anak-anak sekarang cenderung sukar diatur dan dibina.

Sebagian gampang tersinggung dan tersulut amarahnya ketika diberikan teguran dan arahan oleh guru-gurunya. Padahal, guru bukanlah musuh bagi mereka. Guru adalah pengganti orang tua ketika di sekolah.

Jika dipikir-pikir lagi, betapa beratnya tugas dan tanggung jawab guru-guru kita hari ini. Selain direpotkan urusan administrasi dan mengajar, para guru memikul beban dalam mendidik moralitas generasi penerus bangsa.

Terkait hal tersebut, pastinya bukanlah hal yang relatif mudah. Sebab, yang dihadapi guru bukanlah benda mati, melainkan makhluk hidup yang memiliki emosi yang sewaktu-waktu bisa meledak dan tak terkendali.

Apalagi para pelajar tersebut biasanya labil dan gampang terombang-ambing oleh lingkungan. Pelajar kita, sebenarnya, butuh pijakan kuat dan panutan sebagai teladan (role model). Kadang, mereka sendiri tidak bisa mendeteksi luapan emosi yang bergejolak dalam hatinya.

Mereka acapkali sukar mengontrol tindakan-tindakannya. Apakah hal semacam itu menjadi cerminan bahwa dunia pendidikan kita gagal melahirkan generasi unggul, yakni generasi yang cerdas dan berkepribadian mulia? Entahlah.

Yang jelas, apa pun alasannya, pengeroyokan murid terhadap guru tidak bisa dibenarkan. Aksi kekerasan tersebut sungguh menyayat hati kita. Betapa barbarnya sebagian generasi harapan bangsa. Betapa anjloknya rasa hormat murid terhadap gurunya.

Padahal, jika kita merujuk pada pemikiran Imam az-Zarnuji melalui kitab Ta’lim Muta’allim, seorang penuntut ilmu harus betul-betul menghormati dan menghargai gurunya lewat tindakan dan tutur kata.

Seperti tidak lewat di depan gurunya kecuali memang tidak ada jalan lain yang bisa dilewati, tidak duduk di tempat yang biasa ditempati gurunya, serta tidak berkata kepada gurunya kecuali atas izin darinya. Adab semacam itu biasa dipelajari di pesantren atau madrasah-madrasah.

Sepertinya kita semua mesti berkaca pada pesantren, terutama terkait bagaimana penerapan adab atau etika seorang murid terhadap gurunya. Bukan berarti mengkultuskan seorang guru atau menyanjung-nyanjung sedemikian rupa hingga kebablasan, tetapi lebih pada bagaimana agar ilmu yang dipelajari di bangku sekolah membawa keberkahan dan kebermanfaatan dengan cara menghormati guru.

Kembali lagi terkait kasus di Jambi kemarin, mari kita jadikan hal itu sebagai pelajaran sekaligus koreksi bagi kita semua. Bagaimanapun juga, sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman untuk proses belajar mengajar.

Mengenai penindakan tegas guru terhadap murid yang kurang beradab, alangkah lebih bijaksananya dipandang sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang guru terhadap muridnya.

Penamparan Agus terhadap muridnya mungkin terjadi karena murid tersebut sudah keterlaluan dan melampaui batas. Mungkin sebagian menilai Agus melakukan kekerasan fisik. Silakan saja berpandangan semacam itu, sah-sah saja.

Namun, dari kacamata saya, justru akan semakin memprihatinkan apabila Agus pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak peduli terhadap sikap siswa yang kurang ajar tersebut. Bisa jadi, tamparan itu merupakan wujud kepedulian dan perhatian seorang guru terhadap anak didiknya.

Apalagi kita semua sedang berkemas menuju Indonesia Emas 2045. Pastinya dibutuhkan generasi unggul yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Generasi yang beradab dan berkarakter.

Generasi yang memuliakan guru-gurunya, bukan generasi yang setiap waktu melukai hati gurunya. Apalagi sampai lantang berkata kasar, bahkan memukul gurunya tanpa rasa takut dan rasa bersalah. Sungguh, generasi seperti itu tidak kita dambakan.

Kita membutuhkan generasi yang tahu caranya berterima kasih kepada guru. Kita memerlukan lebih banyak pemuda yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga berakhlakul karimah. Terutama dalam hal menjaga marwah dan martabat gurunya sendiri, bukan sebaliknya, mengacak-acak atau bahkan menghancurkannya.

Dengan begitu, pekerjaan rumah kita salah satunya adalah mempersiapkan generasi unggul dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik—generasi yang dapat diandalkan dan tahu diri.

*) Muhammad Aufal Fresky, esais asal Madura

Editor : Almasrifah
#Lingkungan sekolah #tanjung jabung timur #pengeroyokan #generasi unggul #smk