Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mendambakan Politisi yang Berjiwa Kesatria

Muhammad Aufal Fresky • Selasa, 27 Januari 2026 | 10:30 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, Ada sebuah anggapan bahwa semua hal yang terlontar dari mulut politisi tidak boleh ditelan mentah-mentah. Lebih-lebih politisi yang memang kerjanya main “olah”. Tidak sejalan antara perkataan dan perbuatan. Jika mereka menyebut warna merah, bisa jadi yang dimaksud adalah hijau. Apabila mereka berkata arah Barat, bisa jadi yang sebenarnya adalah Timur.

Bagi politisi, tiga kali tiga tidak sama dengan sembilan. Bisa jadi sembilan puluh, bisa juga sembilan ratus, dan semacamnya sesuai selera mereka mau menaruh berapa angka tersebut. Topeng yang dipakai politisi macam itu berlapis-lapis. Sangat cekatan memainkan sandiwara.

Sikap dan kepribadiannya mendadak berubah saat kontestasi politik. Ada tabiatnya berubah secepat kilat seolah menjadi “Juru Selamat”. Kita pun dibuat terheran-heran, bisa-bisa mereka berkali-kali hendak mengelabui kita.

Padahal, sebelumnya kita barangkali sempat atau bahkan berkali-kali terkecoh. Janji yang sebelumnya saja belum dipenuhi, bisa-bisanya dengan tebal muka orang-orang seperti itu berani mencalonkan diri lagi. Dipikirnya rakyat begitu lugu dan dungu hingga bisa dimanipulasi sedemikian rupa.

Padahal, sebagian dari kita paham betul mengenai rekam jejak dan sepak terjang karier politiknya. Bagi yang tertipu, siapa tahu tergoda tawaran-tawaran amplop yang menggiurkan. Apalagi, politik uang masih tumbuh subur di negeri ini. Sebagian kontestan yang kebelet menjadi penguasa/legislator akan menggunakan segala macam cara untuk memuluskan langkahnya.

Politisi yang sedari awal menggadaikan dan bahkan menjual idealismenya, jangan ditanyakan perihal perjuangan dan pengorbanan. Sebab, yang ada dalam tempurung kepalanya hanyalah bagaimana memperoleh dan mempertahankan tahta.

Sebab, yang dipikirkan hanyalah perihal bagaimana menumpuk kekayaan sebanyak mungkin selama berkuasa. Tidak cukup sampai di situ. Kadang sanak keluarganya pun dilibatkan dalam setiap proyek pemerintah kendatipun tidak memiliki kapasitas yang mumpuni dalam mengelola proyek-proyek yang bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Begitu juga dengan kawan sejawatnya ataupun donaturnya semasa kampanye, kerap kali dilibatkan tanpa pertimbangan yang masuk akal. Alasannya sederhana, yakni karena hendak balas budi.

Politisi macam itu, ketika menerima mandat dari rakyat, entah sebagai kepala daerah ataupun legislator daerah, biasanya akan mudah tersandera oleh kepentingan oligarki atau lingkaran orang-orang yang sebelumnya mendukungnya lewat pendanaan yang besar.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita menerima kenyataan pahit tersebut. Bahwa demokrasi kita memang betul disandera atau bahkan dibajak oleh segelintir elite. Kepentingan kita dipinggirkan. Mereka hanya fokus membahas apa yang menguntungkan bagi golongannya sendiri. Bagi-bagi kue lah istilahnya.

Tidak peduli melanggar regulasi atau tidak. Masa bodoh dengan norma agama atau norma sosial. Asalkan dompet mereka semakin tebal, semua nilai dan norma itu urusan belakangan. Begitulah kira-kira prinsip politisi sontoloyo dan elite-elite yang menjadi bandit negara itu.

Kehadiran politisi-politisi ataupun pemimpin-pemimpin yang tidak berintegritas, baik di level lokal maupun nasional, menjadi koreksi tersendiri bagi proses demokrasi kita. Bisa jadi keberadaan pemimpin-pemimpin doyan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) itu, ada kontribusi besar kita di dalamnya dalam memilih. Atau mungkin proses rekrutmen dan kaderisasi di tubuh setiap partai politik (parpol) sedang mengalami yang namanya kemunduran.

Artinya, parpol kita sendiri boleh dikatakan tidak mampu atau mungkin tidak mau untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Karena nyatanya, hanya mereka yang masyhur dan berharta yang memiliki potensi besar untuk dicalonkan sebagai pemimpin/legislator. Parpol menganggap orang-orang macam itu memiliki modal berupa kekuatan finansial dan keterkenalan untuk meraup suara sebesar-besarnya dan sekaligus mendongkrak elektabilitas parpol.

Padahal, jam terbang dan pengalamannya masih sedikit. Masih sikap dan karakternya belum teruji. Padahal, orang-orang kaya dan terkenal itu sedang memakai topeng berlapis-lapis untuk mempersuasi petinggi parpol dan juga rakyat selaku pemilih.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar semakin banyak lahir politisi-politisi visioner dan berjiwa kesatria? Bagaimana agar semakin banyak lagi di tengah-tengah kita pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab? Bagaimana melepaskan topeng yang berlapis-lapis yang kerap digunakan oleh politisi?

Mungkinkah hal itu dilakukan? Selain itu, masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang masih mengusik alam pikiran saya mengenai realitas dan harapan terkait dunia politik dan kehidupan demokrasi kita hari ini.

Hemat saya, untuk pemimpin besar itu tidak lahir dari proses yang instan. Pemimpin hebat itu tidak lahir secara simsalabim abrakadabra. Mereka dilahirkan dari proses yang berdarah-darah yang memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Kadang harus melewati ragam penderitaan untuk menjadi pribadi-pribadi hebat dan bermartabat. Kadang harus melalui pengorbanan luar biasa untuk lebih mengerti dan mengenali diri dan esensi hidup. Sehingga ketika berkuasa, tidak semena-mena, tidak menindas, dan berupaya untuk bersikap adil.

Terkait hal itu. Parpol memiliki tugas dan tanggung jawab besar untuk mengevaluasi besar-besaran proses kaderisasi dan rekrutmen selama ini. Jangan-jangan hanya asal comot anggota/kader. Sebagai pemilih, kita pun, sebisa mungkin, jangan mudah terbujuk politik uang. Pilihlah mereka yang menurut hati kita bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Maka dari itu, catatan ini akan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bangsa dan negara ini, betul-betul membutuhkan dan mendambakan politisi dan pemimpin yang siap mendharmabaktikan dirinya untuk kemaslahatan umat. Siap menyerahkan jiwa dan raganya untuk rakyat.

Sebab, ketika seseorang siap menjadi pemimpin, secara otomatis harusnya mereka siap pula untuk tersita sebagian waktunya, terkuras pikiran dan tenaganya. Memimpin adalah menderita, begitulah yang pernah dikatakan oleh Haji Agus Salim, salah satu pahlawan nasional kita.

Sekali lagi, kita semua masih terus-menerus menantikan semakin banyak lagi politisi dan pemimpin yang berintegritas dan memiliki empati dan simpati yang tinggi terhadap nasib dan segenap persoalan wong cilik. (*)

*) Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura.

Editor : Almasrifah
#parpol #politisi #demokrasi #kkn