KUSTA dulu kerap dianggap sebagai “penyakit kutukan” dan banyak orang mengira penyakit ini sudah tidak ada. Benarkah demikian?
Penyakit kusta (lepra/penyakit hansen) adalah infeksi bakteri mycobacterium leprae yang terutama menyerang kulit dan saraf tepi. Namun juga mengenai mukosa saluran napas, mata, otot dan tulang.
Faktanya, kusta masih ada di dunia. Data WHO tahun 2024 menunjukkan secara global bahwa Indonesia menempati nomor ketiga terbanyak jumlah penderita kusta.
Penularan kusta tidak terjadi dengan mudah. Kusta dapat menular melalui kontak erat dan berlangsung lama atau melalui percikan dari hidung/mulut penderita Kusta yang belum diobati. Kusta tidak menular melalui kontak seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, atau duduk berdekatan.
Gejala khas kusta yang ditemukan adalah munculnya bercak putih atau kemerahan pada kulit yang disertai mati rasa atau kebas. Gejala lain dapat berupa penebalan saraf, kulit terasa kering atau kaku, kelemahan otot, serta rontoknya rambut alis atau bulu mata.
Kabar baiknya, kusta dapat disembuhkan dengan kombinasi obat yang diminum selama 6–12 bulan, tergantung jenis dan tingkat keparahan. Pengobatan dini sangat penting untuk memutus penularan dan mencegah kecacatan permanen.
Kusta umumnya tidak menyebabkan kematian, tetapi dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup hingga kecacatan permanen pada penderitanya, terutama bila terlambat ditangani. Sayangnya, stigma di masyarakat masih sering membuat penderita mengalami tekanan sosial, emosional dan psikologis.
Dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia 2026 yang jatuh pada Minggu terakhir bulan Januari. Tema yang diusung adalah Kusta dapat disembuhkan, tantangan sebenarnya adalah stigma (label negatif). Harapannya, tidak ada lagi stigma maupun diskriminasi terhadap penderita kusta. (adv/kh)
Editor : Sukri Sikki