Oleh:
Linda Apriani Buntutiboyong (Analis Kebijakan Ahli Muda OIKN)
Hendro Kuswoyo (Adyatama Kepariwisataan Ahli Pertman OIKN)
PERHATIAN masyarakat terhadap Ibu Kota Nusantara (IKN) dimulai pada tahun 2019, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi mengumumkan rencana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Nusantara di Kalimantan Timur, dan sejak diundangkan melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara.
Sejak saat itu, perhatian masyarakat terpusat pada narasi pembangunan fisik dan belanja pemerintah terhadap pembangunan IKN. Namun, seiring berjalannya pembangunan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), kemegahan gedung-gedung menjadi daya tarik masyarakat sebagai salah satu alternatif kunjungan wisata di Kalimantan Timur, terlebih pada masa libur nasional.
Hal ini terbukti pada momen liburan Natal dan Tahun Baru (NATARU) yang menghadirkan perspektif berbeda, di mana kehadiran ratusan ribu orang (crowd) mampu menciptakan peluang perputaran ekonomi lokal yang secara nyata terkonversi menjadi aliran uang (cash flow).
Landasan Data dan Profil Pengeluaran Wisatawan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur dalam Dokumen Statistik Wisatawan Nusantara, pengeluaran wisatawan domestik di Wilayah Nusantara menunjukkan karakteristik rata-rata belanja wisatawan per perjalanan mencapai Rp3.656.000. Dengan lama tinggal rata-rata 5 (lima) malam, wisatawan mengeluarkan belanja harian sekitar Rp711.000 (tujuh ratus sebelas ribu rupiah). Namun, karakteristik pengunjung IKN saat ini didominasi oleh excursionist atau pengunjung satu hari yang tidak menginap di kawasan KIPP atau wilayah Sepaku. Oleh karena itu, pendekatan analisis yang digunakan bukan total belanja perjalanan, melainkan real spending on site, yakni pengeluaran riil pada saat kunjungan.
Perputaran Ekonomi
Dari 100 responden terkait pengeluaran riil/real spending on site pada saat kunjungan di KIPP, dirata-ratakan antara Rp100.000 sampai dengan Rp150.000 untuk kebutuhan dasar seperti makan-minum ringan serta parkir atau transportasi lokal. Jika angka rupiah tersebut dikalikan dengan jumlah pengunjung berdasarkan data statistik pengunjung selama periode libur Nataru, tercatat kurang lebih 299.679 pengunjung, sehingga tercipta perputaran uang langsung sekitar Rp37 miliar dalam periode libur yang relatif singkat.
Efek Berganda UMKM hingga ke Dapur Masyarakat
Aktivitas ekonomi yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak berhenti pada transaksi jual beli semata. Setiap rupiah yang beredar di sektor ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mengalir dan dirasakan secara luas hingga ke tingkat rumah tangga masyarakat. Dalam konteks aktivitas ekonomi di kawasan KIPP, efek berganda tersebut bekerja melalui tiga lapisan, yakni:
1. Dampak langsung (direct effect)
Dampak ini muncul ketika pengeluaran pengunjung secara langsung diterima oleh pelaku ekonomi di garis depan. Mereka antara lain adalah pedagang UMKM kuliner (food and beverage) di sekitar kawasan KIPP, penjual kaos dan suvenir bertema IKN, serta penyedia jasa parkir dan transportasi lokal berbasis masyarakat. Transaksi yang terjadi pada tahap ini secara langsung meningkatkan omzet dan pendapatan harian para pelaku usaha kecil dan pekerja informal.
2. Dampak tidak langsung (indirect effect)
Meningkatnya permintaan akibat lonjakan aktivitas ekonomi mendorong pelaku usaha untuk melakukan pengisian ulang stok (restocking). Warung makan, misalnya, membutuhkan tambahan pasokan beras, sayur-mayur, ikan, dan bahan baku lainnya yang diperoleh dari petani dan nelayan lokal. Demikian pula produsen suvenir harus membeli kain, jasa sablon, dan berbagai material pendukung dari pemasok regional. Proses ini menciptakan peningkatan permintaan di sektor usaha lain, sehingga dampak ekonomi meluas melampaui lokasi utama kegiatan.
3. Dampak induksi (induced effect)
Pendapatan tambahan yang diterima pedagang, pekerja informal, juru parkir, dan tenaga musiman kemudian dibelanjakan kembali untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, seperti pangan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Pada tahap inilah mekanisme ekonomi kerakyatan bekerja secara alami. Perputaran uang di tingkat lokal semakin menguatkan daya beli masyarakat dan menopang keberlanjutan ekonomi keluarga.
Secara keseluruhan, efek berganda UMKM menunjukkan bahwa penguatan ekonomi lokal tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga menjalar hingga ke “dapur masyarakat”. Dengan demikian, keberadaan dan pemberdayaan UMKM menjadi salah satu pilar penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Rekomendasi Strategis: Mengoptimalkan Tangkapan Ekonomi
Agar dampak ekonomi dari keramaian dapat dimaksimalkan pada event besar seperti Lebaran, HUT RI, dan libur nasional lainnya, beberapa langkah strategis dapat dilakukan.
Pertama, sentralisasi titik belanja melalui pop-up market atau sentra UMKM di titik drop-off utama, sehingga arus pengunjung langsung terkoneksi dengan aktivitas ekonomi.
Kedua, pengembangan paket wisata resmi “One Day Tour IKN” oleh agen lokal, dengan harga terukur (misalnya Rp500.000 per orang termasuk makan siang dan pemandu), guna meningkatkan spending per capita.
Ketiga, penguatan branding serta ketersediaan suvenir resmi IKN/Nusantara menjadi fokus penting, mengingat belanja oleh-oleh merupakan salah satu komponen pengeluaran terbesar wisatawan domestik. Dengan demikian, pengembangan suvenir berkualitas, berciri khas lokal, dan berlabel resmi diharapkan mampu meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat sekitar.
Keempat, penguatan kompetensi masyarakat lokal dalam bidang pariwisata dilakukan melalui pelatihan terpadu yang mencakup peningkatan keterampilan pemandu wisata, pelayanan dan hospitality, pengelolaan homestay, serta pengembangan UMKM pariwisata berbasis potensi lokal. Kegiatan ini dilengkapi dengan literasi digital untuk promosi destinasi, peningkatan kualitas produk dan layanan, serta penguatan kelembagaan seperti Pokdarwis agar mampu mengelola destinasi secara profesional, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Melalui penguatan kapasitas tersebut, masyarakat lokal diharapkan menjadi pelaku utama pariwisata yang mampu meningkatkan kualitas pengalaman wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Penutup
Data dan analisis menunjukkan bahwa IKN tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan masa depan, tetapi telah mulai berperan sebagai magnet pertumbuhan ekonomi baru melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Keramaian yang terkelola dengan baik bukanlah beban, melainkan aset ekonomi yang mampu menggerakkan uang, usaha, dan harapan masyarakat di sekitarnya. (adv/ctr/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan