Oleh:
Indah Noviariesta
Aktivis Organisasi Gema Nusa
KARYA-karya Hafis Azhari menempatkan rumah tangga bukan sekadar latar, melainkan sebagai semesta kecil yang menyimpan sejarah, konflik, dan getaran psikologis manusia Indonesia. Dalam cerpen dan novel-novelnya, ruang domestik tidak pernah hadir sebagai ruang netral. Halaman rumah bukan hanya halaman, dapur bukan sekadar tempat menanak nasi, dan kamar bukan semata ruang istirahat.
Setiap sudut menjadi medan tafsir, tempat pertengkaran, kesunyian, rahasia, kelembutan terselubung, hingga aroma pengkhianatan berkelindan dengan ingatan lintas generasi. Dari ruang-ruang yang tampak biasa itulah Hafis membangun estetika yang membuat rumah tangga sekaligus menjadi tempat berlindung dan medan pertempuran.
Dalam novel Pikiran Orang Indonesia (POI), Hafis seperti melakukan kerja psiko-historis: menyelami ingatan keluarga, kebiasaan domestik, dan koreografi tugas yang menyatukan keluarga dengan kebudayaan Nusantara dan Asia. Bagi pembaca awam, corak ini mungkin tampak acak atau absurd.
Namun, jika dibaca lebih saksama, POI justru menyerupai catatan sejarah rumah tangga Indonesia yang tidak tercatat dalam buku-buku resmi. Di sana, masa lalu tokoh, pengalaman pendidikan, hingga religiositas bertemu dengan gejolak generasi baru yang menggugat nalar, akal sehat, dan rezim yang sekaligus melindungi dan mencekik kepentingan rakyat.
Gagasan tentang rumah tangga sebagai ruang yang menyimpan rahasia dan ketegangan juga muncul kuat dalam cerpen-cerpen Hafis. Dalam Maesa Utami, ia melukiskan pernikahan yang menyembunyikan hasrat terlarang dan pengabaian emosional. Interior rumah menjadi semacam panggung bagi sensualitas dan subversi yang tak terucapkan.
Dalam Konsultasi Kesehatan, rumah tangga bahkan berubah menjadi ruang politik: seorang psikiater yang tak sanggup menyembuhkan pasiennya sebelum berdamai dengan penyakitnya sendiri. Pintu-pintu yang setengah tertutup, ruang-ruang yang sunyi, dan gestur kecil menjadi penanda suhu emosional pernikahan, sekaligus dislokasi kehidupan seorang profesional yang mengalami semacam kelelahan pascakekuasaan.
Dalam Perasaan Orang Banten (POB), Hafis merajut potret rumah tangga kampung dan pedesaan menjadi miniatur kebantenan dan keindonesiaan. Ia memperlihatkan masyarakat religius yang justru kerap tidak menjiwai ajaran agamanya, dan lebih percaya pada mistisisme leluhur.
Jimat, mantra, dan pusaka berbahasa Arab yang diperdagangkan di pasar menghadirkan ironi: kesalehan yang bercampur dengan takhayul dan kepentingan. Rumah-rumah tangga di sini menjadi simpul tempat agama, tradisi, dan hasrat kekuasaan saling bertemu.
Melalui POI, Hafis juga menegaskan bahwa rumah tangga tidak pernah netral kelas. Yang tampak wajar di permukaan sering kali menyimpan lapisan ketidakadilan dan kesewenangan. Rumah bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga ruang potensial bagi masuknya disiplin, dogma, dan bahkan militerisme melalui celah-celah paling privat.
Anak-anak belajar kepatuhan di meja makan dan ruang doa, lalu nilai-nilai itu dengan mudah direproduksi dalam sistem pendidikan yang tampak indah, namun sarat kepentingan politik. Dalam POB, perubahan aspirasi kelas tampak jelas: dari ambisi pengusaha kampung, politisi lokal yang tak pernah belajar politik modern, hingga para jongos yang bermimpi naik kelas sosial. Semua itu dipentaskan dalam “teater sehari-hari” di dalam empat dinding rumah.
Tema cinta dalam karya Hafis pun tidak pernah terpisah dari tekanan sosial. Dalam Cinta Itu Buta, rumah tangga menjadi ruang pengawasan: kegagalan tokoh menggapai cintanya dipantau oleh bisik-bisik kerabat di dapur dan pengajian. Cinta bukan urusan pribadi semata, melainkan bagian dari ritual sosial yang sering kali tidak manusiawi.
Dalam Detik Terakhir Kematian Seorang Jenderal Tua, kehidupan keluarga seorang militer dibingkai oleh memori, rasa malu, dan warisan Orde Baru. Makanan, garis keturunan, dan lelucon tentang karma leluhur menyatu dengan bayang-bayang kekuasaan, menjadikan dapur dan ruang makan sebagai mitos kecil yang terus direproduksi.
POB juga memperluas ruang domestik ke wilayah liminal: pertigaan kampung, warung kopi, kios pangkas rambut, pesantren, masjid, hingga pasar kaki lima. Ruang-ruang ini tidak sepenuhnya privat, tidak pula sepenuhnya publik. Di sanalah gosip, rahasia, dan konflik tumbuh.
Hubungan Yosef dan Jamilah, dengan kehadiran Tohir sang marbot masjid, menjelma menjadi semesta cinta yang rapuh di tengah tekanan sosial dan ekonomi. Hafis menyingkap kekerasan para politisi kampung, ambisi pengusaha lokal, cinta yang bertepuk sebelah tangan, hingga hasrat seksual yang terpendam, yang semuanya menyala di gang-gang sempit dan halaman belakang rumah.
Salah satu kekuatan Hafis adalah keberaniannya menyingkap kekerasan dalam rumah tangga tanpa ornamen romantik. Ia membuka mitos, pamali, dan karma leluhur yang selama ini menutup rapat pintu-pintu sejarah keluarga.
Dalam cerpen Menanam Pohon Sebelum Kiamat, rumah tangga diposisikan sebagai semesta mikro yang sakral: sekolah pertama bagi anak-anak untuk belajar tentang kepatuhan, perbedaan, rasa takut, dan kelembutan. Rumah adalah tempat hal-hal yang tak terucapkan tumbuh, sekaligus ruang pembentukan kesiapan moral menghadapi prahara batin.
Bagi Hafis, rumah dan keluarga ibarat kapal yang membawa beban sejarah. Ia menyimpan kisah lebih setia daripada buku teks. Resep, ritual, pusaka, dan kepentingan politik sering kali lebih awet di ruang pribadi ketimbang di monumen yang dipolitisasi penguasa. Karena itu, rumah tangga dalam karyanya bukan hanya bangunan, melainkan arsip hidup yang menyimpan memori, negosiasi, dan mitos lintas generasi.
Dalam banyak cerpen, Hafis juga menjadikan rumah diaspora sebagai arena negosiasi antar generasi. Dialog menggunakan dialek Jakarta yang berakar dari Melayu Pasar, sementara narasi tetap bertumpu pada bahasa tulis yang terus berkembang.
Dengan cara ini, ia seolah menantang pembakuan bahasa dan pendangkalan makna yang diwariskan politik militerisme. Membaca karya-karyanya tentang hal-hal domestik serupa bercermin pada diri sendiri: pada halaman rumah, kursi usang leluhur, kamar anak-cucu, dan karakter tersembunyi manusia Indonesia.
Pada akhirnya, karya Hafis Azhari mengingatkan bahwa ruang terkecil pun layak dihargai, karena di sanalah seluruh benua pengalaman manusia bisa berdiam. Rumah tangga menjadi semesta mikro yang harus dibangun oleh kasih sayang, diterangi harapan, dan didewasakan oleh sejarah. Bagi mereka yang telah meninggalkan rumah, karya-karya ini menjelma atlas emosional: peta untuk kembali, membuka pintu-pintu lama, dan menemukan kemungkinan transformasi spiritual yang lebih jujur dan manusiawi. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan