Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menagih Kontribusi Mahasiswa

Muhammad Aufal Fresky • Minggu, 15 Februari 2026 | 10:30 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, Salah satu yang cukup menarik perhatian saya selama ini adalah dunia mahasiswa. Bagaimana tidak, dunia yang pernah saya ada di dalamnya itu penuh dengan ingar-bingar idealisme, pergerakan, perjuangan, akademik, asmara, dan lain-lain.

Muda-mudi saban hari pulang pergi ke kampus untuk menimba ilmu. Sebagian berproses di organisasi intra dan ekstra kampus. Kampus, sekali lagi, menjadi salah satu hal yang amat sulit untuk dilepaskan dari ingatan saya.

Tidak bisa dipungkiri, di dunia kampuslah, saya betul-betul ditempa sedemikian rupa. Perubahan pola pikir, sifat, sikap, hingga kepribadian lambat laun terjadi, baik itu disadari atau tidak.

Tak cukup rasanya pengalaman selama kuliah dituangkan dalam rentetan aksara. Catatan ini hanya sebagai upaya saya “memanggil” kembali ingatan di masa lampau yang tersimpan rapi di gudang memori. Tentu sebagai bahan refleksi dan koreksi bagi saya, utamanya sebagai penulis. Syukur-syukur bagi Anda semua sebagai pembaca.

Baiklah, pertama-tama, saya akan mencoba mengajak kita semua berpikir agak mendalam. Sebenarnya apa tujuan mahasiswa itu kuliah? Apa yang dicari? Apa yang diharapkan setelah purna dari dunia kampus?

Kemudian, apa dampak yang bisa diberikan untuk masyarakat atas keberadaan para intelektual muda itu? Apa kontribusi yang bisa dipersembahkan untuk keberlangsungan peradaban bangsa? Bersediakah mahasiswa hari ini urun rembuk dan turun tangan untuk menjadi problem solver?

Dan tentunya masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak mungkin saya uraikan semua dalam catatan ini. Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan itu mengusik rasa penasaran dan keingintahuan saya.

Dengan begitu, lewat catatan ini, saya berupaya mencari dan menggalinya. Salah satu alasan kenapa saya termotivasi menulis tentang dunia mahasiswa yakni karena mahasiswa adalah harapan kita semua.

Mereka adalah calon pemimpin-pemimpin bangsa di kemudian hari. Saya masih percaya betul bahwa mahasiswa mampu menjadi pelopor beragam perubahan dan perbaikan di tengah masyarakat.

Melalui gagasan-gagasan brilian dan progresifnya, diharapkan ada percepatan dalam mengembangkan dan memajukan bangsa ini di segala sektor.

Mahasiswa adalah aset bangsa yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah tunas-tunas muda yang nantinya berperan dalam pembangunan bangsa. Baik di bidang politik, sosial, ekonomi, budaya, dan semacamnya. Bukankah sebagian pejabat publik, baik di legislatif, eksekutif, dan yudikatif, di level pusat hingga daerah, pernah mengenyam pendidikan tinggi?

Bahkan sebagian memiliki gelar yang mentereng, alias berderet-deret. Sebagian adalah magister dan doktor. Sebagian jebolan luar negeri. Artinya, kita sendiri tidak begitu kekurangan orang-orang pintar. Kita hanya mengalami krisis pejabat publik yang berintegritas.

Sebab, sebagian dari mereka justru menjadi “Pengkhianat Rakyat”. Legislatornya tak mewakili suara rakyat. Pejabat eksekutifnya tak amanah. Penegak hukumnya kerap “bermain mata”. Kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) masih menjadi penyakit kronis yang menggerogoti sebagian pejabat kita.

Maka dari itu, mahasiswa hari ini memang sudah seharusnya memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap apa yang sedang terjadi di negerinya. Mahasiswa sekarang sebenarnya memikul beban dan tanggung jawab yang cukup besar untuk ikut andil dalam mengawasi dan mengontrol jalannya pemerintahan.

Sebab itulah, sedari awal menginjak kaki di perguruan tinggi, tujuannya harus dimantapkan. Mahasiswa, sekali lagi, memang harus bervisi besar. Bukan hanya ingin kuliah karena disuruh orang tua, hendak mendapatkan ijazah sebagai syarat memperoleh kerja.

Memang tujuan macam itu tidak sepenuhnya salah. Tapi teramat sempit untuk mahasiswa yang perannya dinantikan oleh segenap masyarakat. Salah satunya peran sebagai motor penggerak perubahan.

Memang benar, kecerdasan intelektual itu perlu diasah semasa kuliah. Tapi jangan sampai ketinggalan bahwa kecerdasan emosional dan spiritual mahasiswa juga penting untuk diasah. Sebab, kemampuan akademik yang unggul tanpa diiringi dengan karakter yang kokoh akan menjadi timpang.

Mahasiswa yang pintar dan hanya mementingkan diri sendiri justru berpotensi menjadi pewaris generasi sebelumnya yang bobrok akhlaknya. Kita tidak ingin pemuda kita nir-empati dengan segenap persoalan rakyat. Mahasiswa, saya rasa, harus berani menunjukkan taringnya.

Bahwa keberadaannya bisa memberikan makna. Bahwa peran dan pengabdiannya bisa membuat masyarakat kembali optimistis menyongsong masa depan yang lebih cerah lagi.

Kita membutuhkan mahasiswa yang berjiwa Pancasila. Memiliki watak kesatria. Seperti halnya berani berkata benar di saat yang lainnya terbawa arus kemunafikan.

Maka dari itu, dunia kampus menjadi wadah yang hemat saya cukup efektif untuk melatih diri agar menjadi pribadi yang matang sebelum betul-betul terjun ke masyarakat. Matang dari sisi pola pikir, keilmuan, emosional, dan karakter.

Matang dalam hal ini mengandung arti sudah dalam keadaan siap pakai. Siap berjuang dan berkorban di segala medan nantinya. Pikiran, waktu, materi, dan tenaga siap dikuras habis untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Ibu Pertiwi.

Terus terang saja, sebagai penulis, saya pun berharap penuh agar mahasiswa hari ini menjadi generasi yang siap menaklukkan badai. Menjadi pemuda-pemuda tangguh yang tidak gentar melawan arus kepalsuan. Barangkali mahasiswa kita terlalu lama berada di zona nyaman. Terpisah dan berjarak dengan realitas sosial.

Kedua bola matanya seolah buta, alias tidak mau melihat masalah-masalah yang menerpa masyarakat. Kedua telinganya seakan tuli, alias tidak bersedia untuk mendengarkan uneg-uneg rakyat yang terpinggirkan.

Tak jarang ada yang berseloroh bahwa sebagian mahasiswa kita ini apatis, pragmatis, dan bahkan hedonis. Lantas apa yang bisa diharapkan dari mahasiswa yang dalam tempurung kepalanya hanya bertujuan untuk memperkaya diri dan menaikkan status sosialnya di tengah masyarakat?

Padahal, jika kita sejenak meneropong masa lampau perjalanan bangsa ini, maka akan tampak bahwa segala macam perubahan sosial kemasyarakatan tidak lepas dari sepak terjang mahasiswa.

Sejak pra-kemerdekaan hingga jatuhnya Soeharto, gebrakan mahasiswa terbukti ampuh menciptakan era baru yang kita kenal sebagai Reformasi. Saya pun tidak memanas-manasi mahasiswa sekarang untuk berbondong-bondong menjadi demonstran jalanan.

Poin utamanya adalah kepedulian dan kemauan untuk beraksi. Aksi dalam hal ini bukan hanya lewat mimbar jalanan, tapi bisa lewat banyak saluran. Bisa juga lewat jurnalistik dan pendidikan. Intinya adalah berbuat untuk ikut memecahkan masalah, bukan sebaliknya menjadi pemicu masalah.

Pada akhirnya, saya mesti berkata jujur bahwa memang tantangan yang dihadapi mahasiswa hari ini jauh berbeda dengan mahasiswa di masa lalu. Tapi spirit idealisme, spirit perjuangan, spirit pengabdian yang telah dicontohkan oleh para pendahulu itu agaknya harus terus berkobar dan senantiasa bersemayam dalam jiwa mahasiswa hari ini.

Sebab mereka adalah harapan bangsa ini. Lebih-lebih kita semua sedang berkemas-kemas menyongsong Indonesia Emas 2045. Dan tentunya, dalam hal itu, bangsa dan negara ini mendambakan sepak terjang dan kontribusi mahasiswa. Sekali lagi, peran nyata, bukan sebatas wacana atau retorika. (*)

*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura. 

Editor : Almasrifah
#Intelektual Muda #pancasila #indonesia emas 1945 #mahasiswa #problem solver