Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menyikapi Ujian Kesempitan dan Kelapangan 

Redaksi KP • Minggu, 15 Februari 2026 | 18:44 WIB
Mu’min Roup
Mu’min Roup

Oleh:
Mu’min Roup

Peneliti dan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

BANYAK orang yang bersabar dan bangkit dari keterpurukan setelah menghadapi ujian kesempitan dan kemalangan. Namun, sedikit sekali orang yang mampu banyak bersyukur ketika menghadapi ujian kemakmuran, hingga mereka terjerumus kembali ke jurang penderitaan.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia).

Setelah Perang Badar, Rasulullah mengkritik sikap sebagian sahabat yang cenderung mengalami euforia setelah meraih kemenangan. Beliau justru menyampaikan pesan yang mendalam bahwa kesuksesan sejati tidak diraih dengan membesarkan ego, melainkan dengan menyingkirkannya. Secara eksplisit, Rasulullah menyatakan bahwa hakikat kemenangan dapat dicapai ketika manusia sanggup mengesampingkan ego dan hawa nafsunya.

Dengan demikian, Rasulullah mengungkapkan pesan bermakna bahwa musuh terbesar dari pencapaian adalah ego dan keangkuhan itu sendiri. Ego membuat seseorang merasa lebih penting dari kenyataan, menolak masukan, dan pada akhirnya gagal melakukan muhasabah serta introspeksi diri. Sepanjang sejarah, betapa banyak orang gagal bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena terlalu sibuk bersaing dan menonjolkan diri. Padahal, orang yang sanggup menyingkirkan egonya akan lebih terbuka terhadap perbaikan, refleksi, dan strategi baru yang lebih efektif.

Setahun setelah kemenangan Badar, sebagian sahabat tidak mengindahkan peringatan Rasulullah. Serangan berikutnya kembali dilancarkan oleh pasukan musyrikin Quraisy. Pasukan pemanah di Bukit Uhud terprovokasi oleh iming-iming harta rampasan (ghanimah) yang dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Meskipun pada awalnya memihak Rasulullah, anak buah Abdullah bin Ubay tampaknya tidak berjuang atas dasar panggilan hati nurani, melainkan terdorong oleh keinginan meraih keuntungan materi.

Akibatnya, mereka tidak menyadari bahwa ego dan hawa nafsu telah menjadi penghalang kerja sama dan kolaborasi. Para pemanah tidak lagi mengindahkan keputusan Rasulullah selaku pemimpin. Mereka lebih mendahulukan kepentingan diri, sehingga persepsi tentang kemenangan bergeser menjadi ambisi untuk unggul sendiri atau sekadar membanggakan kelompok kecilnya.

Pada akhirnya, kepentingan komunitas yang lebih besar pun terabaikan. Padahal, keberhasilan individu hanya mungkin diraih berkat kerja sama, empati, dan kerendahan hati.

Kelompok pimpinan Abdullah bin Ubay kemudian mengalami serangan balik di Bukit Uhud karena tidak memiliki ketahanan mental yang kuat. Mereka tergiur pada kesuksesan yang cepat dan instan. Padahal, ketahanan mental jauh lebih penting daripada keberhasilan sesaat.

Meski demikian, kekalahan dalam Perang Uhud justru menorehkan hikmah dan pelajaran berharga: bahwa kehidupan manusia memang sarat dengan ujian dan cobaan. Cara terbaik menghadapinya bukanlah dengan meniadakan hambatan, melainkan dengan meningkatkan kecakapan mental dan kualitas diri untuk menyikapi berbagai kemungkinan. Artinya, manusia harus siap menghadapi kemenangan dan kekalahan, kaya dan miskin, sehat dan sakit, berada di atas maupun di bawah.

Kita tidak mungkin memperpanjang waktu siang untuk menolak datangnya malam, karena kodrat kehidupan memang bergerak dalam pergiliran. Karena itu, fokuslah pada hal-hal yang bisa dikendalikan dan jangan larut dalam persoalan yang berada di luar kendali kita. Rasulullah menegaskan, “Beruntunglah orang yang kuat imannya, karena ia memiliki kesiapan mental untuk tetap tenang menghadapi berbagai kemungkinan. Ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan kesabaran itu menjadi kebaikan baginya. Ketika mendapat kelapangan, ia bersyukur, dan syukur itu pun menjadi kebaikan baginya.”

Prinsip inilah yang menjadi fondasi penting hingga mengantarkan umat Islam pada peristiwa Fathu Makkah. Setelah terbangun kekuatan mental, baik secara individu maupun komunal, legitimasi kekuasaan pun berada di tangan Rasulullah dan para pengikutnya. Mereka mampu merespons berbagai keadaan dengan ketenangan dan kebajikan. Sikap ini sangat bertolak belakang dengan budaya hiper-modern hari ini, ketika banyak orang tergopoh-gopoh, bahkan terobsesi pada kecepatan dan kemenangan yang tidak selalu fair dan elegan.

Di berbagai belahan dunia, kita menyaksikan manusia berlomba mengejar kesuksesan secepat mungkin—baik melalui bisnis, karier, maupun jabatan kekuasaan. Banyak yang tidak menyadari bahwa pola pikir semacam ini berbahaya karena membuat mereka mudah limbung saat menghadapi cobaan. Setiap kesuksesan yang dibangun hanya atas dasar kecepatan akan rentan mengalami “kick back” yang justru mencelakakan diri sendiri. Sebaliknya, mereka yang membangun fondasi dengan ketahanan mental akan lebih siap menghadapi rintangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam kemenangan Fathu Makkah pada tahun ke-8 Hijriah (630 M), Rasulullah memberi teladan bahwa setiap hambatan justru bisa menjadi peluang menuju kekuatan baru yang lebih mencerahkan. Prinsip ini sejalan dengan ajaran spiritualitas mana pun yang mengutamakan nilai sabar dan syukur. Bagi para sahabat, penderitaan dan tantangan adalah bagian alami dari kehidupan, dan justru dari sanalah ketangguhan mental ditempa.

Pola pikir ini juga relevan dengan kehidupan para pengusaha dan pebisnis yang mampu bangkit setelah kegagalan dan menjadikannya sebagai pelajaran. Mereka tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk menyerah. Mereka terampil menjadikan kesabaran dan ketenangan sebagai kekuatan sejati, bukan sebagai kelemahan atau kepasrahan. Dengan kepala dingin, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan tidak terjebak dalam emosi sesaat.

Jika kita menengok kembali perjalanan Rasulullah dan para sahabat—dari kemenangan Badar, kekalahan Uhud, hingga akhirnya meraih kemenangan Fathu Makkah—semua itu membentuk prinsip hidup yang mendalam. Keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang atau sebuah komunitas mencapai target, melainkan dari bagaimana mereka ditempa agar sanggup berkontribusi dan tetap tegar di tengah badai persoalan.

Karena itu, ketahanan mental bangsa Indonesia adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih berharga daripada pencapaian instan. Bangsa ini akan bermartabat jika mampu mengendalikan ego, menghargai proses, dan tetap rendah hati meski telah meraih banyak hal. Teladan Fathu Makkah yang dijalani dengan kerendahan hati tetap relevan, termasuk bagi generasi milenial di tengah arus keangkuhan digitalisasi.

Media sosial kerap mendorong orang untuk memamerkan kesuksesan secepat mungkin, tetapi lupa membangun ketangguhan mental. Dengan kekuatan sabar dan syukur, generasi muda dapat menyeimbangkan ambisi dengan ketenangan batin, serta lebih fokus pada proses, bukan sekadar hasil cepat yang belum tentu bertahan lama.

Memang, kesuksesan cepat bisa diraih oleh siapa saja. Namun, hanya mereka yang memiliki kekuatan mental yang mampu menjaga pencapaian itu tetap kokoh dalam jangka panjang. Teladan hidup Rasulullah mengingatkan kita bahwa kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang tercepat, melainkan perjalanan panjang yang menuntut ketangguhan, kesabaran, dan rasa syukur—hingga pada akhirnya keadilan sosial benar-benar dapat terwujud. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#umat islam #perang badar #rasulullah #fathu makkah