KALTIMPOST.ID, Kemarin, tepatnya hari Rabu (11/2) hingga Kamis (12/2), Sentra Batik “Aneka” kedatangan rombongan siswa dari SMPN 1 Pamekasan. Sebagai pengelola Aneka, saya cukup antusias menyambut kedatangan mereka.
Siswa-siswa yang terbagi dalam dua rombongan tersebut hendak belajar membatik di sentra tersebut. Selama dua hari berturut-turut, saya melayani ratusan siswa belajar membatik, tentu dipandu oleh sekitar 8 instruktur (pengrajin batik profesional) dari Aneka.
Dalam acara edukasi dan pelatihan itu, saya menjalani peran sebagai pemateri. Jadi, sebelum praktik membatik, anak-anak mendapatkan materi seputar membatik.
Saya pun bersemangat menjelaskan kepada mereka perihal sejarah masuknya batik ke Pamekasan hingga filosofi beberapa motif batik khas Kampung Batik Klampar. Saya sengaja meringkas pembahasan agar nantinya waktu untuk praktik lebih banyak.
Dalam rombongan tersebut, siswa terbagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari sekitar 4–5 siswa. Ringkas cerita, rombongan dari SMPN 1 Pamekasan tersebut berhasil membuat batik tulis Madura dengan motif yang beragam. Hasilnya, saya kira cukup menawan untuk ukuran pemula. Mereka betul-betul menikmati proses membatik dari awal hingga selesai.
Dan hal ini, sekali lagi, membuat saya semakin optimis bahwa batik, khususnya batik tulis Madura, bakalan tetap lestari, tentu dengan catatan kepedulian dari generasi mudanya semakin meningkat.
Kepedulian dalam arti banyak dimensi, tidak harus terjun menjadi pembatik. Bisa juga dengan cara ikut menjaga agar warisan leluhur tersebut tidak sirna. Hal itu bisa lewat banyak cara, yang mana salah satunya dengan mempromosikan seluas-luasnya di berbagai macam saluran medsos terkait batik tulis Madura.
Rasa bangga terhadap budaya batik harus terus-menerus dimunculkan. Apalagi, seperti yang kita ketahui bersama, budaya batik adalah salah satu identitas atau jati diri kita sebagai sebuah bangsa besar. Alasan tersebut, saya kira, cukup kuat untuk mendorong kita agar tergerak bersama-sama menjaga kekayaan lokal tersebut.
Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana menstimulus pemuda-pemudi kita agar semakin mencintai budaya batik? Bagaimana peran pemerintah daerah dan pusat dalam mensejahterakan para pengrajin dan pelaku UMKM batik? Bukankah mereka memiliki peran penting dalam melestarikan budaya batik?
Pertanyaan lainnya adalah: sejauh mana Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Koperasi dan UMKM, dan kementerian-kementerian terkait lainnya menjalin sinergi dan kolaborasi dalam meningkatkan industri batik?
Strategi bottom up dan top down rasa-rasanya memang harus dipadukan: dari bawah bergerak aktif dan dari atas juga aktif. Pemerintah, pelaku UMKM, dan perajin batik perlu bergerak bersama-sama, terutama agar batik ini semakin lestari atau bahkan semakin mendunia, tidak hanya gaungnya terasa ketika peringatan Hari Batik Nasional, yaitu setiap tanggal 2 Oktober.
Dalam melestarikan budaya batik, rasa-rasanya, dan memang sudah seharusnya, kita semua, terutama generasi muda, harus terlibat. Sebab, jika tidak demikian, bukan tidak mungkin batik akan semakin asing dan bahkan bisa saja tinggal nama dan ceritanya saja jika semua pihak, dan apalagi pemudanya, tidak mengambil bagian untuk melestarikannya.
Kadang anak-anak remaja, para pemuda kita, bukan tidak peduli. Hanya saja, mereka tidak ada yang memberi tahu atau mengedukasi terkait urgensi melestarikan budaya batik sebagai jati diri bangsa. Betapa batik itu bukan sekadar produk yang bisa diperjualbelikan.
Lebih dari itu, batik adalah warisan nenek moyang yang memiliki kandungan nilai estetik, historis, dan filosofis. Artinya, dalam sehelai batik, ada unsur keindahan di dalamnya, ada cerita sejarahnya, dan ada maknanya.
Itulah beberapa alasan yang membuat batik memiliki daya tarik dan pesonanya tersendiri, yang sukar dimiliki produk lain. Belum lagi prosesnya yang membutuhkan daya imajinasi, kecermatan, dan kesabaran tingkat tinggi.
Jujur saja, harapan untuk tetap menjaga warisan agung para pendahulu itu ada pada pundak kita semua selaku generasi muda. Entah itu Gen Milenial, Gen Z, Gen Alpha, ataupun gen yang lainnya, memiliki tanggung jawab yang serupa.
Pemuda sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa di masa depan, di berbagai lini kehidupan, mau tidak mau, suka tidak suka, memang sudah sepantasnya mengambil peran sebagai pelestari budaya lokal, yang dalam hal ini salah satunya adalah budaya batik.
Sebab, dengan lebih mengenali, mengetahui, dan memahami budaya bangsa, diharapkan kita bisa semakin mencintai bangsa ini, semakin menjadi generasi-generasi yang cinta budaya lokal. Cinta yang tidak hanya diungkapkan lewat kata-kata, tetapi diwujudkan dalam laku nyata.
Artinya, melestarikan batik harus dengan tindakan konkret. Apa tindakan kita? Apa yang bisa kita lakukan? Silakan pikir, renungi, dan cari sendiri jawabannya. Kalau sudah menemukan, segera implementasikan.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang tidak mau tahu, tidak mau mengerti, dan tidak mau memahami budaya kita sendiri. Karena jika seperti itu, bukan hal yang tidak mungkin pikiran dan hati kita justru lebih condong mencintai budaya asing yang kadang bersifat destruktif, tidak sesuai dengan adat istiadat ketimuran.
Kadang kita lebih cenderung membesar-besarkan peradaban bangsa asing karena kita sendiri tidak tahu bahwa kita memiliki jejak historis peradaban gemilang di masa silam dan bahkan masih kita rasakan hingga saat ini, yaitu batik. Bukankah batik menjadi warisan agung dan sekaligus jejak peradaban gemilang dari masa lalu?
Dan memungkasi catatan ini, saya kira dalam melestarikan budaya batik, kita bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh rombongan pelajar beserta dewan guru SMPN 1 Pamekasan, yakni berkunjung dan merasakan langsung sensasi membatik di Kampung Batik Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.
Tidak hanya ilmu yang diperoleh, tetapi pengalaman membatik juga sebagai oleh-oleh ke rumah masing-masing. Hal semacam itu, saya kira, perlu juga dilakukan oleh lembaga pendidikan lainnya, baik dari tingkat KB-TK hingga perguruan tinggi. Sebab, generasi hari ini adalah penerus bangsa di masa depan. Kita membutuhkan lebih banyak lagi generasi pelestari budaya lokal!
*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
Editor : Almasrifah