Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menjaga Marwah Indonesia

Muhammad Aufal Fresky • Sabtu, 28 Februari 2026 | 04:43 WIB

Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura.
Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura.
KALTIMPOST.ID, Mungkin Dwi Sasetyaningtyas tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa apa yang dia unggah di laman medsosnya akan menjadi buah bibir masyarakat dan berbuntut panjang.

Medsosnya dibanjiri hujatan netizen oleh sebab salah satu kontennya dinilai menghina negara. “Cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan,” ujarnya dalam video yang menggemparkan publik itu. Terkesan merendahkan martabat Indonesia.

Seolah menjadi WNI adalah aib yang harus ditutup rapat-rapat. Seolah menjadi WNI merupakan mimpi buruk bagi masa depan anak-anaknya kelak. Sebegitu takut dan khawatirnya dia akan realitas negerinya saat ini, yang mungkin dinilai tidak memberikan jaminan bagi tumbuh kembang anak-anaknya. Entahlah. Jelasnya, pernyataan tersebut terlanjur viral; menyebar ke mana-mana.

Tidak butuh waktu lama, warganet berbondong-bondong menyerbu akun medsosnya. Dia memanen makian yang bertubi-tubi. Bahkan, kehidupan pribadinya dikuak hingga ke akar-akarnya. Hingga terungkaplah sebuah fakta yang mungkin membuat kita geleng-geleng kepala.

Yakni bahwa Tyas dan suaminya ternyata adalah penerima beasiswa LPDP jenjang doktoral di luar negeri. Estimasi biaya yang dikeluarkan negara untuk mereka diperkirakan hingga miliaran rupiah. Mulai dari biaya pendidikan hingga biaya hidup ditanggung oleh negara.

Berlakulah sebuah pepatah, “Ibarat kacang lupa pada kulitnya”. Yang artinya, dalam konteks kasus tersebut, Tyas dicap sebagai sosok yang “tidak tahu diri” atau barangkali “lupa diri” bahwa kesempatan yang diperolehnya dalam mengenyam pendidikan tinggi sampai ke mancanegara oleh sebab kontribusi besar negara; dan di dalamnya ada uang rakyat lewat pajak yang dibayarkan kepada negara. Bahkan, pembiayaan pendidikannya tersebut juga bisa jadi berasal dari utang negara. Sehingga patutlah jika ada beban moral dan tanggung jawab besar di pundak Tyas untuk mengabdi pada bangsa dan negara.

Kendatipun telah melontarkan permohonan maaf, publik terlanjur kecewa dan geram. Bahkan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa pun sampai kebakaran jenggot atas ulahnya itu. Dengan tegas Purbaya mem-blacklist-nya, juga suaminya, dari instansi pemerintahan dan meminta uang beasiswa yang mereka gunakan dikembalikan ke negara beserta bunganya.

Begitulah imbas dari lisan yang tak terkendali. Kejadian tersebut juga menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa di era digital sekarang, apa yang kita upload ke medsos, entah itu dalam bentuk teks, grafik, gambar, ataupun video, dalam hitungan menit atau bahkan detik, bisa dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru tanah air.

Berpikir secara matang dan jernih sebelum menyampaikan sebuah pernyataan, apalagi yang dilontarkan ke muka umum lewat medsos. Kita tahu sendiri, jangankan pernyataan yang buruk atau salah, bahkan pernyataan yang baik dan benar pun bisa dipelintir ke mana-mana. Ditambah lagi, saat ini, ada beragam aplikasi untuk mengedit dan memanipulasi sedemikian rupa. Artinya, memang kita wajib ekstra waspada dalam berinteraksi atau berselancar di jagad medsos.

Kembali lagi terkait Tyas, saya berpendapat bahwa mungkin dirinya betul-betul kecewa dengan kondisi dan situasi di Indonesia saat ini. Sungguh-sungguh kecewa dengan tata kelola pemerintahan di negeri ini, termasuk terhadap para pejabat dan pemimpinnya.

Apalagi kita tahu, hampir setiap hari kita disuguhi oleh perilaku culas dan korup sebagian pejabat di republik ini. Mulai dari konstitusi yang dikangkangi, hukum yang dipolitisasi, kebijakan dan program yang kurang atau bahkan tidak pro-rakyat, dan semacamnya. Bisa jadi pernyataan tersebut keluar dari akumulasi kekecewaannya selama ini terhadap penyelenggara negara.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, apa yang dilontarkan Tyas tidak bisa dibenarkan, apalagi didukung. Kita harus mengakui betul bahwa pernyataannya keliru. Saya pribadi menafsirkan dan menyimpulkan bahwa apa yang diungkapkan tersebut adalah penghinaan secara terang-terangan pada Indonesia.

Semacam menginjak martabat bangsa. Padahal, Indonesia adalah bangsa dan negara besar yang merdeka sebab tetesan keringat dan darah para patriot di masa silam. Sepertinya Dwi mesti mengingat dan merenung kembali bahwa perjuangan dan pengorbanan pahlawan di masa silam sangat besar untuk bangsa ini.

Pejuang-pejuang tersebut rela dipenjara dan diasingkan ke pulau terpencil hanya karena tetap konsisten memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hanya karena tetap istikamah mengangkat harkat dan martabat bangsanya.

Nasionalisme dan patriotisme mereka tak usah dan tak perlu diragukan lagi. Kecintaan mereka terhadap tanah airnya begitu membara dan berkobar-kobar. Bersedia melakukan apa pun dan bahkan rela mempersembahkan nyawanya demi Ibu Pertiwi.

Lantas, puluhan tahun kemudian, setelah kita sama-sama menikmati kemerdekaan berkat jerih payah pendahulu, dengan mudahnya ada anak bangsa yang terdidik, yang difasilitasi duit negara, yang menginjak-nginjak kehormatan negaranya sendiri.

Saya pun tidak habis pikir dan kehabisan kata-kata, sejauh apa penderitaan Tyas, sebesar apa pengorbanan Tyas, untuk negeri ini? Apakah sudah menyamai atau bahkan melampaui pendahulunya? Entahlah.

Dari kasus Dwi tersebut, ada tiga hal yang bisa dipetik. Pertama, untuk seluruh penerima beasiswa dari pemerintah, yaitu bahwa sudah semestinya menjaga ucapan dan tindakannya; lebih-lebih di dunia maya. Jangan sampai karena ego dan kecewa terhadap pribadi, golongan, atau bahkan negaranya sendiri, ucapan dan tindakannya menyalahi nilai dan norma yang berlaku.

Ada amanah dan tanggung jawab besar yang diemban oleh setiap penerima beasiswa. Amanah dan tanggung jawab untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Amanah dan tanggung jawab untuk menjaga marwah dan kehormatan Indonesia kapan pun dan di mana pun mereka berada.

Kedua, pelajaran bagi kita semua, bahwa setiap ucapan dan tindakan kita tidak luput dari penilaian orang lain. Dan setiap ucapan yang terlontar, akan sukar ditarik lagi. Ibarat panah yang telah meluncur cepat dari busurnya. Sulit untuk dihentikan lajunya.

Artinya, kita harus menggunakan otak dan hati kita sebelum berbicara. Tentu agar lebih bijaksana dalam berkomunikasi, lebih bijaksana dalam bermedsos. Ketiga, bagi pemerintah, alangkah lebih baiknya juga mengoreksi dan mengevaluasi diri. Sebab, bukan berdasarkan pengakuan Tyas, apa yang dilontarkannya tersebut bermula dari rasa kesalnya terhadap beragam persoalan di negeri ini.

Selaku penulis, saya sebenarnya saya masih tidak percaya seratus persen bahwa Tyas benci atau bahkan muak terhadap negeri ini hingga dia kebablasan. Mungkin karena dia kebingungan atau kehabisan akal untuk mendapatkan perhatian pemerintah yang dinilai kurang begitu memperhatikan warganya. Atau mungkin dia “terlalu cinta” dengan negeri ini sehingga muncullah pernyataan seperti itu. Tapi pastinya publik tidak peduli apa alasan yang melatarbelakanginya.

Publik menafsirkan apa yang dilihat, didengar, dan dirasa. Jika sudah dinilai melenceng dari nilai dan norma, sudah pasti akan heboh. Apalagi ini menyangkut harkat dan martabat bangsa. Menyangkut rasa cinta tanah air. Bagi kita, nasionalisme tidak bisa ditawar-tawar lagi. NKRI harga mati. Begitulah kira-kira.

Lagi pula, Indonesia ini adalah rumah kita bersama. Dengan segala keindahan alamnya, keragaman suku dan budayanya, keunikan warganya, dan “kelucuan” pejabatnya, harusnya kita bersyukur dan bangga menjadi warga Indonesia. Artinya, seperti apa pun situasi dan persoalan di Indonesia, kita mesti menerimanya dengan penuh kearifan.

Mestinya, tidak ada alasan untuk tidak menjaga dan merawatnya. Harusnya tidak ada alasan untuk menginjak-nginjaknya. Mana ada rasa cinta itu dengan cara melukai dan menyakiti. Sepengetahuan dan sepemahaman saya, rasa cinta itu dibuktikan dengan perjuangan dan pengorbanan tiada habisnya.

Dan dari kasus Tyas, mari kita belajar untuk lebih mencintai Indonesia. Belajar untuk lebih nasionalis. Setidaknya diwujudkan dengan menjaga marwah Indonesia di mana pun kita berada.

*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

Editor : Almasrifah
#Purbaya #marwah #Dwi Sasetyaningtyas #indonesia #wni #beasiswa lpdp