Oleh:
Reza Mahendra
Mahasiswa Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
KETIKA kita melihat rekaman amatir tentang perang kartel di Meksiko yang beredar di media sosial, banyak orang dibuat terheran-heran. Pertanyaan yang kerap muncul adalah: bagaimana mungkin sebuah kartel narkoba memiliki peralatan tempur yang sangat canggih dan kemampuan melakukan retaliasi besar terhadap pemerintah?
Rekaman yang beredar memperlihatkan berbagai aksi kekerasan, mulai dari pembakaran mobil secara acak, konvoi bersenjata di tengah kota, hingga upaya kartel memutus jalan raya penghubung antardaerah menggunakan ekskavator. Bagi masyarakat luar, pemandangan tersebut terasa mengejutkan. Namun bagi sebagian warga Meksiko, situasi seperti ini telah menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Penculikan, jasad yang digantung di jembatan, hingga berbagai bentuk teror lainnya telah lama menghantui kehidupan masyarakat.
Konflik antara pemerintah dan kartel narkoba kembali memanas ketika militer Meksiko berupaya menangkap Nemesio Rubén “El Mencho” Oseguera Cervantes, pemimpin Kartel Jalisco New Generation (CJNG), salah satu organisasi kriminal paling kuat dan berpengaruh di negara tersebut.
El Mencho dianggap sebagai bos kartel narkoba terbesar dan terkuat, terutama setelah penangkapan serta ekstradisi Joaquín “El Chapo” Guzmán, yang sebelumnya dikenal sebagai pemimpin Kartel Sinaloa dan figur paling berpengaruh dalam dunia narkotika Meksiko. Dengan kekayaan yang diperkirakan mencapai sekitar 1 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp15 triliun, El Mencho mampu membangun jaringan bisnis yang luas sekaligus menyuap berbagai pihak untuk melindungi dirinya dan operasional kartelnya.
Besarnya pengaruh tersebut membuat pemerintah Amerika Serikat menempatkan El Mencho sebagai salah satu buronan paling dicari. Pada Desember 2024, pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah sebesar 15 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi akurat mengenai keberadaan El Mencho.
Dalam operasi yang dikenal sebagai “Operasi Jalisco 2026”, pemerintah Meksiko, dengan dukungan intelijen dari Amerika Serikat, berupaya menangkap El Mencho hidup-hidup untuk kemudian diadili di Meksiko atau bahkan diekstradisi ke Amerika Serikat. Pemerintah Meksiko menyadari bahwa operasi ini memiliki risiko besar, sehingga penangkapan menjadi prioritas utama guna meminimalkan kemungkinan terjadinya serangan balasan dari kartel CJNG.
Namun dalam proses penangkapan tersebut, El Mencho yang dikawal oleh pasukan bersenjata melakukan perlawanan sengit. Baku tembak pun tidak dapat dihindari. Dalam situasi yang semakin terdesak, prinsip operasi “capture if possible, terminate if necessary” menjadi pilihan terakhir bagi militer Meksiko. Akhirnya, El Mencho tewas dalam baku tembak.
Kematian El Mencho memicu reaksi cepat dari kartelnya. Dalam waktu kurang dari dua jam setelah peristiwa tersebut, kelompok bersenjata CJNG dilaporkan melakukan konvoi di berbagai kota dengan persenjataan lengkap dan melancarkan serangan balasan terhadap aparat militer dan kepolisian.
Perang kartel di Meksiko sebenarnya merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan sejarah kebijakan politik, strategi keamanan, serta jaringan kekuasaan yang dibangun oleh organisasi kriminal tersebut.
Dalam pandangan penulis, terdapat dua faktor utama yang dapat membantu memahami dinamika perang kartel di Meksiko.
Pertama adalah faktor koneksi. Kartel membangun kekuatannya melalui jaringan relasi yang luas. Salah satu metode yang terkenal dalam dunia kartel adalah konsep “Plata o Plomo”, yang berarti “perak atau peluru”. Secara sederhana, konsep ini mengandung pesan: terima uang suap atau menghadapi ancaman kematian.
Metode ini pertama kali populer di kalangan kartel Kolombia, namun kemudian menyebar luas di Amerika Latin, termasuk Meksiko. Dengan pendekatan tersebut, para kartel mampu memaksa politisi maupun aparat penegak hukum untuk bekerja sama atau setidaknya menutup mata terhadap aktivitas mereka.
Faktor kedua adalah strategi pemerintah Meksiko dan Amerika Serikat dalam memerangi kartel narkoba. Salah satu strategi yang paling sering digunakan adalah kingpin strategy. Strategi ini berangkat dari asumsi sederhana: jika pemimpin utama kartel ditangkap atau dilumpuhkan, maka organisasi kartel akan runtuh dengan sendirinya.
Namun dalam praktiknya, strategi ini justru menuai banyak kritik. Struktur kartel di Meksiko saat ini telah berkembang jauh berbeda dibandingkan dengan kartel Kolombia pada masa awal kampanye War on Drugs pada dekade 1970-an.
Kartel di Kolombia cenderung memiliki struktur kekuasaan yang sangat terpusat pada satu pemimpin. Sementara itu, kartel di Meksiko berkembang dengan sistem yang lebih terdesentralisasi atau modular. Setiap kartel memang memiliki pemimpin utama, tetapi operasional di berbagai wilayah dikendalikan oleh para “plaza boss” atau letnan yang memimpin daerah masing-masing.
Dengan sistem ini, bisnis narkotika dapat terus berjalan meskipun pimpinan tertinggi ditangkap. Bahkan, penangkapan seorang bos kartel sering kali justru memicu perpecahan internal yang melahirkan kelompok-kelompok kartel baru.
Sejarah menunjukkan hal tersebut. Ketika Miguel Ángel Félix Gallardo, pemimpin Kartel Guadalajara, ditangkap oleh pemerintah Meksiko, para letnannya kemudian memisahkan diri dan membentuk kartel masing-masing. Dari perpecahan tersebut lahirlah tiga kartel besar yang kemudian mendominasi perdagangan narkoba di Meksiko, yakni Kartel Juárez, Kartel Sinaloa, dan Kartel Tijuana.
Artinya, penangkapan seorang pemimpin kartel memang dapat melemahkan organisasi tertentu, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi memunculkan kelompok-kelompok baru yang bahkan lebih agresif dan luas jaringannya.
Kondisi ini membuat sebagian pakar menilai bahwa kingpin strategy tidak selalu efektif dalam jangka panjang. Bagi sebagian kalangan, strategi tersebut bahkan dianggap lebih bersifat politis karena berita tentang “penangkapan bos kartel” mudah menarik perhatian publik serta meningkatkan popularitas pemerintah.
Padahal, akar persoalan yang sebenarnya jauh lebih kompleks, mulai dari tingginya permintaan narkotika, ketimpangan ekonomi, hingga kemiskinan yang mendorong banyak anak muda bergabung dengan kartel demi bertahan hidup.
Selama faktor-faktor struktural tersebut belum terselesaikan, perang kartel di Meksiko kemungkinan akan terus berlangsung, bahkan dengan pola kekerasan yang semakin kompleks dan meluas hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan