Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ketika Keraguan Membelenggu Kreativitas

Muhammad Aufal Fresky • Kamis, 9 April 2026 | 10:17 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

KALTIMPOST.ID, Salah satu tantangan utama yang dihadapi penulis adalah bagaimana bisa mengatasi pikiran-pikiran negatif yang sewaktu-waktu bisa memasung kreativitasnya. Lebih-lebih penulis pemula yang jam terbangnya sedikit atau minim pengalaman.

Tidak dipungkiri lagi beberapa hal yang acapkali menghantui alam pikiran penulis yaitu keraguan untuk memulai. Seolah-olah setiap tulisan yang diciptakannya harus sempurna, tanpa cela sedikit pun.

Belum lagi rasa tidak percaya diri alias minder sebab sebelumnya tidak berpengalaman dalam memahat kata demi kata. Belum lagi ketakutan hasil tulisannya akan dicemooh, disepelekan, dan atau bahkan dihina oleh pembaca.

Perasaan negatif macam itu, hemat saya akan menjadi penjara dalam pikiran yang menjerat kita untuk tidak berbuat apa-apa. Hanya sibuk menatap layar laptop tanpa sepatah kata yang ditulis.

Rasa takut dan khawatir memang harus dibuang jauh-jauh. Pun demikian dengan keinginan untuk menyajikan karya sempurna tanpa cacat, rasa ini perlu ditangkal terlebih dahulu.

Terutama bagi penulis pemula yang rentan merasa minder manakala tulisan-tulisannya dikomentari sebagai tulisan sampah. Umpan balik semacam itu, tidak perlu ditelan mentah-mentah sampai-sampai kita melamun overthinking.

Merasa tidak memiliki bakat, kemampuan, dan potensi dalam dunia tulis menulis. Padahal, menulis adalah keterampilan yang mana setiap orang sebenarnya bisa mempelajari dan menekuninya. Persoalannya sejauh mana kemauan dan kesetiaan kita dalam mengarungi dunia tersebut.

Apakah mentalitas kita akan rapuh ketika tulisan-tulisan kita dicibir habis-habisan? Apakah semangat kita akan mengendor ketika karya-karya kita tidak mendapatkan apresiasi dari pembaca?

Apakah kita harus berjalan mundur saat menulis tidak memberikan dampak finansial dan kemasyhuran dalam hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan itu, harus segera ditemukan jawabannya.

Sebab, akan menentukan gerak dan langkah kita ke depannya. Menentukan sejauh mana komitmen, kesungguhan, dan konsistensi kita dalam menulis. Dalam hal ini, saya rasa, setiap penulis mesti melontarkan pertanyaan dengan jujur pada dirinya sendiri terkait tujuan dan motivasinya dalam menulis. Sebenarnya apa yang hendak dicari dan apa yang akan dituju?

Motivasi internal itu akan membangkitkan spirit menulis dalam jiwa. Khususnya bagi penulis yang awalnya hanya sekadar ikut-ikutan, sebatas iseng. Sebab, jika demikian adanya, keistikamahan itu tidak akan berlangsung lama.

Apalagi di era sekarang, kita mudah terdistraksi oleh banyak hal yang kadang sukar dikendalikan. Seperti halnya berlama-lama scrolling media sosial (medsos), main game online, dan semacamnya.

Belum lagi ketika ada teman yang tiba-tiba mengirimkan pesan dan mengajak nongkrong. Bukankah itu semacam godaan yang mesti dihadapi. Belum lagi godaan internal dalam diri untuk bermalas-malasan dan menunda untuk menulis.

Memang betul, setiap penulis idealnya mesti berani untuk keluar dari zona nyaman, senantiasa berpikir kreatif, dan inovatif. Menciptakan hal-hal yang baru, berbeda, unik, dan menarik.

Dalam hal ini dalam bisa dalam bentuk tulisan-tulisan fiksi seperti halnya cerita pendek (cerpen), puisi, dan novel atau juga tulisan nonfiksi seperti halnya esai populer, esai ilmiah, opini, features, dan semacamnya. Kemampuan mencipta itu tidak datang secara instan. Perlu dilatih dan diasah terus menerus.

Salah satu caranya adalah mendesain jadwal harian untuk berkarya. Tidak hanya itu, jadwal yang telah disusun itu harus dieksekusi. Merencanakan harus selaras dengan melaksanakan. Mimpi tanpa aksi hanya akan menjadi ilusi.

Artinya, kita tidak akan pernah menjadi penulis produktif tanpa kesediaan untuk menggarap apa yang telah kita jadwalkan sebelumnya. Sebab, kreativitas itu menuntut kesungguhan dan komitmen.

Ada pikiran yang mesti diperas, ada waktu yang kita habiskan, ada tenaga yang kita peras, dan bahkan ada biaya yang harus kita keluarkan. Sebab, menulis sendiri merupakan aktivitas yang mencakup tiga hal yakni raga, rasa, logika.

Kemudian, apabila dalam proses kreatif mengalami kebuntuan, jangan putus asa dulu. Atau beranggapan semua harus diakhiri dan merasa diri tak berbakat sama sekali. Jangan berpikiran semacam itu. Bisa jadi memang, otak kita membutuhkan asupan ide/gagasan yang lebih banyak lagi.

Dengan begitu, caranya yaitu membaca lebih banyak lagi. Membaca buku, majalah, koran, alam, fenomena sosial, manusia, dan lain sebagainya. Setiap penulis memang mesti membaca teks dan konteks dengan konsisten. Lalu, cobalah terapkan teknik brainstorming yakni menuliskan semua ide yang terlintas dalam pikiran tanpa pembatasan.

Atau cobalah implementasikan freewriting, yakni menulis secara bebas apa pun yang ada dalam benak. Bisa juga menggunakan keduanya sekaligus untuk mengatasi kebuntuan dalam menulis atau writer’s block.

Dee Lestari, novelis terkemuka tanah air, dalam workshop di FISIP UGM, seperti yang dilansir laman ugm.ac.id (11/9/2024), mengemukakan bahwa ada dua kiat untuk konsisten dalam menulis.

Yaitu disiplin ide dan disiplin karya. Dee berpandangan bahwa semua penulis harus percaya terhadap ide karena ide merupakan dasar untuk melangkah ketika menulis karya apa pun, baik itu novel, buku, artikel jurnalistik, ataupun skrip film.

Kemudian perihal disiplin karya, menurutnya setiap penulis mesti menghargai waktu menulisnya, menciptakan ritual dan menghormati ritual tersebut kendatipun hanya 30 menit tanpa dicampur atau diselingi aktivitas lainnya. Dari pendapat Dee tersebut, saya beranggapan bahwa intinya setiap penulis mesti sregep alias tekun dalam menggali dan mengeksekusi ide menjadi karya.

Di balik itu, untuk memungkasi catatan ini, seperti yang telah digambarkan di paragraf pembuka tadi, bahwa kunci untuk menjadi produktif dan kreatif dalam menulis intinya yaitu berani untuk memulai dan merampungkan apa yang telah dimulai.

Dan semua itu, membutuhkan kerja keras dan keistikamahan. Bukan sebatas inspirasi dan imajinasi. Lebih dari itu kerja keras. Ditambah pikiran positif, optimistis, dan terbuka terhadap segala saran dan masukan. Satu lagi, berani untuk melangkah setapak demi setapak, sedikit demi sedikit untuk menelurkan karya yang berkualitas.

Terakhir dan hemat saya menjadi poin utama dari tulisan ini yakni bahwa belenggu-belenggu pikiran negatif. Ketika ketakutan, keraguan, dan kekhawatiran itu kembali datang membayangi, maka segeralah sadar dan usir jauh-jauh dengan tetap percaya diri dan optimistis dengan diri sendiri.

Hal ini memang perlu dilatih dan dibiasakan agar kepercayaan diri kian meningkat dan matang. Merdekakan diri kita menulis. Tulis saja apa pun, kapan pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun. Bukankah yang terpenting itu adalah karya kita? Jadi, jangan sekali pun melewatkan hari tanpa berkarya, kendatipun hanya beberapa kalimat.

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi, Esais asal Madura

Editor : Almasrifah
#pikiran negatif #saran dan masukan #overthinking #kepercayaan diri #kreativitas