Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dekonstruksi Narasi Wisata Ibu Kota Nusantara

Romdani. • Selasa, 14 April 2026 | 09:35 WIB
Renaldi Manurung
Renaldi Manurung

Oleh:

Renaldi Manurung

Penata Ruang Ahli Pertama Otorita IKN

 

KALTIMPOST.ID-Lanskap Ibu Kota Nusantara (IKN) belakangan ini menyajikan pemandangan yang tidak biasa.

Gegap gempita euforia memadati Plaza Seremoni, Taman Kusuma Bangsa, hingga area glamping di kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP), menyedot ratusan ribu pasang mata pada puncak musim libur nasional tahun ini.

Data resmi Otorita IKN mencatat angka fantastis, yaitu sebanyak 352.102 pengunjung membanjiri IKN hanya dalam kurun waktu 12 hari saat momentum libur Lebaran pada Maret 2026.

Yang kemudian disusul 59.676 pengunjung dalam waktu tiga hari saat libur Paskah pada April 2026.  Namun, di balik statistik memukau tersebut, timbul kegaduhan di ruang digital; sebuah narasi seragam menjamur di kolom komentar media sosial.

Baca Juga: Polres Kubar Ungkap 14 Kasus Narkoba pada Awal 2026, dengan Mengamankan 19 Tersangka dan Menyita 305 Gram Sabu-Sabu

Fenomena membeludaknya massa ini seolah mengukuhkan narasi tunggal yang memosisikan IKN sekadar sebagai magnet wisata baru di tengah hamparan hutan Kalimantan.

Tentunya, antusiasme masif pengunjung untuk menyambangi Nusantara adalah sinyal positif bagi penerimaan publik terhadap kehadiran kota ini.

Namun, membiarkan persepsi publik yang mulai menyempitkan makna IKN dalam nalar ”destinasi wisata baru” adalah sebuah alarm bagi identitas kota.

Seolah-olah, ratusan triliun rupiah yang digelontorkan untuk pembangunan raga kota ini hanyalah demi menciptakan panggung spektakel atau etalase visual raksasa untuk memuaskan dahaga swafoto para pelancong musiman.

Sebagai entitas dengan visi besar, menyederhanakan IKN menjadi sekadar objek pelesiran adalah kekeliruan yang mengerdilkan arah transformasi peradaban baru yang sedang diupayakan.

Urgensi untuk mendekonstruksi nalar ini menjadi kian krusial. Sebab, jika kota ini terus-menerus dibingkai dalam narasi ”Wisata Ibu Kota Nusantara”, maka visi besar ”Kota Dunia untuk Semua” terancam redup dan terdistorsi menjadi identitas kota yang dangkal.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Jatam Kaltim Kritik Penertiban di Tahura Bukit Soeharto Kukar, Soroti Masih Ada Tambang Ilegal Belum Tersentuh Otorita IKN

Sejatinya, apa yang hari ini dinarasikan publik sebagai objek wisata sebenarnya adalah manifestasi strategi mewujudkan kota yang layak huni sekaligus dicintai (livable and lovable city).

Dalam kerangka perencanaan IKN, terdapat distingsi tegas namun komplementer antara raga dan jiwa kota.

Konsep kelayakhunian (livability) berfokus pada penyediaan infrastruktur dasar dan layanan publik yang memadai sebagai ambang batas minimum ruang hidup warga kota.

Namun, Nusantara melangkah lebih jauh dengan mengadopsi konsep kecintaan (lovability); sebuah tingkatan emosional yang bertujuan memupuk hubungan mendalam dan rasa memiliki (sense of belonging) antara manusia dengan ruang hidupnya.

Dualitas kelayakhunian dan kecintaan inilah yang menempatkan Nusantara sebagai kota yang berpusat pada manusia (people-centric) dan autentik.

Maka, lovability adalah titik masuk (entry point) sebagai pendekatan baru dalam pengembangan IKN.

Dengan mengintegrasikan aspek kecintaan ke dalam kanal perencanaan, desain, hingga keputusan investasi, dimensi emosional ini akan membentuk dan memberikan nilai tambah pada kelayakhunian dan manajemen perkotaan.

Dalam ”Kajian Usulan Proyek untuk Menciptakan IKN yang Layak Huni dan Dicintai” yang dilakukan atas kerja sama antara Otorita IKN dan Asian Development Bank (ADB) serta didukung Pemerintah Spanyol pada 2024, telah dirumuskan tujuh proyek prioritas berdasarkan analisis dasar, keterlibatan, dan analisis multi kriteria.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: DPRD Kaltim Soroti Penutupan RM Tahu Sumedang di Tahura Bukit Soeharto, Minta Otorita IKN Bertindak Adil dan Siapkan Solusi bagi Warga

Ketujuh proyek tersebut mencakup Taman Pancasila, pusat kuliner, rehabilitasi hutan dan kebun raya, pusat kebudayaan, ekowisata Nusantara, hingga Jaringan Desa Cerdas Nusantara.

Dalam perkembangannya, pusat kebudayaan misalnya menjadi salah satu proyek yang telah memasuki tahapan desain melalui proses kompetisi.

Otorita IKN telah menyelenggarakan Sayembara Desain Pusat Kebudayaan yang dimenangkan oleh rancangan ”Cerlang Nusantara”.

Desain itu nantinya akan menjadi acuan dalam menciptakan ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian identitas dan budaya, tetapi juga sebagai elemen fundamental dalam mewujudkan keterikatan emosional warga kota.

Ukuran kota layak huni telah mapan dibahas dalam berbagai literatur perencanaan kota. Indikator seperti Global Livability Index oleh The Economist Intelligence Unit hingga Most Livable City Index (MLCI) oleh Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota Indonesia mayoritas masih berfokus pada pemenuhan aspek fisik dan layanan dasar.

Namun, diskursus mengenai apa yang membuat sebuah kota ”dicintai” (lovable) masih sangat terbatas dan jarang dibahas secara spesifik.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Otorita IKN Tegaskan Penutupan RM Tahu Sumedang di Tahura Bukit Soeharto Sesuai Aturan, Penertiban Kawasan Hutan Picu Pro-Kontra

Ketimpangan literatur inilah yang memicu urgensi untuk mendefinisikan kembali ukuran kota yang dicintai.

Dalam kerangka ini, variabel lovability dapat berakar pada lima dimensi, seperti: daya tarik perkotaan (sense of attraction), keterikatan emosional (sense of attachment), keterlibatan dan kebebasan warga (sense of inclusion and freedom), keterhubungan dengan kota (sense of connection), serta rasa kendali warga terhadap kotanya (sense of agency).

Apa yang hari ini dinarasikan publik sebagai objek wisata, sejatinya adalah manifestasi dari dimensi-dimensi lovability yang mulai tumbuh secara organik.

Dimensi daya tarik perkotaan (sense of attraction), misalnya, terejawantah melalui keberagaman layanan komersial dan hiburan di Plaza Seremoni.

Kehadiran Nusantara Park, yang lengkap dengan panggung musik, tarian, hingga deretan kurasi UMKM kuliner, menjadi instrumen yang memberikan warga kedaulatan serta kendali atas cara mereka menikmati waktu di ruang kota.

Harus dipahami bahwa tanpa adanya daya tarik yang mengundang massa, maka keterikatan emosional jangka panjang (sense of attachment) mustahil dapat tumbuh di kota yang baru lahir ini.

Baca Juga: Mau Bergabung ke Program Tanoto Foundation Fellowship 2026? Ini Syarat, Jadwal Pendaftaran dan Seleksi hingga Benefit yang Didapat Para Peserta

Akses seni dan budaya terpancar nyata ketika area amphitheater di depan Sentra Massa bertransformasi menjadi ruang interaksi aktif melalui permainan tradisional seperti engrang, bakiak, dan gobak sodor.

Sementara itu, akses ruang hijau dan rekreasi tercermin melalui jembatan kaca di area glamping yang menawarkan panorama cakrawala Nusantara dari puncak bukit.

Suasana syahdu di Embung MBH pun melengkapi fragmen ini dan menjadi tempat yang baik untuk membangun keterikatan emosional antara manusia dengan alam sekitarnya.

Dimensi rasa kendali terhadap kota (sense of agency) bisa direfleksikan melalui tumbuhnya kepercayaan publik pada tata kelola kota.

Dalam konteks ini, Sentra Massa sebagai pusat informasi Nusantara telah menghadirkan berbagai sarana edukatif bagi pengunjung selama libur panjang Maret—April 2026.

Kehadiran teater mini, maket pembangunan, Pusat Kendali Mini IKN, dan fasilitas interaktif lainnya memberikan gambaran perkembangan IKN secara komprehensif.

Pengalaman tersebut juga diperkuat dengan adanya keterlibatan aksi lingkungan, seperti program menanam pohon bagi masyarakat di Miniatur Hutan Hujan Tropis.

Baca Juga: Bakesbangpol Kubar Buka Pendaftaran Paskibraka 2026 Secara Online, Ratusan Pelajar Antusias Ikuti Sosialisasi di 16 Kecamatan

Maka, sudah semestinya kita mendekonstruksi narasi ”Wisata Ibu Kota Nusantara” yang lahir dari keramaian pengunjung dan argumentasi dangkal di ruang digital.  Secara dialektis, fenomena ini harus dibaca sebagai fase krusial dalam pembentukan identitas kota yang dapat dicintai secara organik. IKN tidak boleh terjebak menjadi sekadar destinasi wisata di jantung hutan Kalimantan; ia harus diposisikan sebagai ruang inkubasi memori kolektif bangsa yang menjadi saksi sejarah atas pembangunan sebuah peradaban baru. Seperti kota-kota besar dunia lainnya, daya tarik wisata seharusnya menjadi konsekuensi logis dari sebuah peradaban kota yang berfungsi dengan baik, bukan tujuan utama yang mendominasi identitasnya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #ibu kota nusantara #GUBERNUR KALTIM H RUDY MAS UD #Kutai Barat #Bupati PPU Mudyat Noor