Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Saatnya Samarinda Menanam Masa Depan

Redaksi KP • Selasa, 14 April 2026 | 19:35 WIB
Nurul Puspita Palupi
Nurul Puspita Palupi

Oleh:
Nurul Puspita Palupi
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman

SAMARINDA sedang berbenah. Jalan-jalan diperhatikan, pusat kota dipercantik, dan aktivitas ekonomi bergerak semakin cepat. Sebelum kembali kritis, patut kiranya kita mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Samarinda yang telah bekerja keras membangun wajah kota. Namun, di tengah laju pembangunan tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan bersama: apakah Samarinda juga semakin nyaman untuk ditinggali?

Sebagai kota yang berada di wilayah khatulistiwa, Samarinda menghadapi kondisi iklim yang panas dan lembap sepanjang tahun. Namun, kondisi ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk menerima ketidaknyamanan sebagai hal yang wajar. Justru sebaliknya, inilah alasan paling kuat untuk merancang kota dengan pendekatan yang lebih ramah iklim. Salah satu kunci utamanya adalah menghadirkan vegetasi yang rindang dan terencana.

Berbagai kota di dunia dengan karakter iklim serupa telah membuktikan bahwa kehadiran pohon dalam jumlah besar mampu mengubah wajah kota secara signifikan. Kanopi pepohonan yang menaungi jalan tidak hanya memberikan keteduhan, tetapi juga mampu menurunkan suhu lingkungan secara nyata. Perbedaan beberapa derajat saja sudah cukup mengubah pengalaman berjalan kaki dari yang melelahkan menjadi menyenangkan.

Bayangkan Samarinda dengan koridor jalan utama yang dipenuhi pohon peneduh. Trotoar tidak lagi sekadar jalur sempit yang terabaikan, melainkan ruang publik yang hidup tempat orang berjalan santai, berbincang, bahkan menikmati kota tanpa rasa terik yang menyengat. Ini bukan sekadar angan-angan, melainkan hasil dari keputusan yang tepat dan konsisten.

Di sinilah peran kepemimpinan menjadi sangat penting. Wali Kota Samarinda memiliki peluang besar untuk meninggalkan warisan yang tidak hanya terlihat dalam bentuk beton dan aspal, tetapi juga dalam kualitas hidup warganya. Program penanaman pohon tidak boleh lagi bersifat sporadis atau sekadar simbolis. Ia harus menjadi gerakan kota yang terencana, terukur, dan berkelanjutan.

Langkah konkret dapat dimulai dari hal-hal mendasar. Setiap proyek pembangunan jalan seharusnya mewajibkan penanaman pohon peneduh sebagai bagian integral, bukan sekadar pelengkap. Pembangunan gedung perlu menyertakan minimal 30 persen ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area resapan air sekaligus ruang ekologis. Trotoar harus didesain dengan ruang yang cukup untuk pertumbuhan akar pohon, sehingga tidak merusak infrastruktur di kemudian hari.

Pemilihan jenis tanaman juga perlu diperhatikan secara serius. Pohon yang ditanam harus memiliki daya rindang yang baik, tahan terhadap kondisi lingkungan, mudah dirawat, serta tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Estetika tetap penting, tetapi fungsi ekologis harus menjadi prioritas utama.

Lebih jauh, pemerintah kota perlu menetapkan target yang jelas dan terukur. Misalnya, berapa kilometer jalan yang akan ditanami pohon setiap tahun, atau berapa persen peningkatan tutupan hijau kota dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Target ini penting sebagai tolok ukur keberhasilan sekaligus bentuk komitmen yang dapat diawasi oleh publik.

Namun, gerakan ini tidak bisa berjalan sendiri. Partisipasi masyarakat harus menjadi bagian dari strategi. Warga dapat dilibatkan melalui program adopsi pohon, komunitas berperan dalam perawatan ruang terbuka hijau, dan dunia usaha didorong berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial. Ketika pohon menjadi bagian dari identitas kota, rasa memiliki akan tumbuh secara alami.

Manfaatnya tentu tidak hanya soal estetika. Kota yang rindang terbukti meningkatkan kesehatan fisik dan mental masyarakat. Udara yang lebih bersih, suhu yang lebih nyaman, serta ruang terbuka yang menenangkan mampu mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, hal ini juga berdampak pada produktivitas masyarakat.

Lebih dari itu, kota yang nyaman akan mendorong perubahan gaya hidup. Ketika berjalan kaki menjadi pilihan yang menyenangkan, ketergantungan terhadap kendaraan bermotor akan berkurang. Dampaknya jelas: kemacetan menurun, polusi berkurang, dan interaksi sosial meningkat. Kota menjadi lebih hidup, lebih hangat, dan lebih manusiawi.

Samarinda tidak harus identik dengan kota yang panas dan melelahkan hanya karena letaknya di garis khatulistiwa. Kita memiliki pilihan, dan pilihan itu ada di tangan para pengambil kebijakan hari ini.

Seruan ini sederhana, tetapi mendesak: mari menanam lebih banyak pohon, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Setiap pohon yang ditanam adalah investasi jangka panjang untuk udara yang lebih bersih, kota yang lebih nyaman, dan kehidupan yang lebih berkualitas.

Inilah saatnya menjadikan vegetasi sebagai prioritas utama pembangunan kota. Bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai fondasi. Karena kota yang hebat bukan hanya yang tumbuh pesat, tetapi yang mampu membuat warganya betah tinggal, berjalan, dan hidup di dalamnya.

Dan semua itu bisa dimulai dari langkah sederhana: menanam pohon, merawatnya dengan sungguh-sungguh, serta memastikan keberadaannya tetap terjaga sebagai bagian dari masa depan Samarinda. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#Pemerintah Kota Samarinda #Universitas Mulawarman #Fakultas Pertanian