Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sensus Ekonomi 2026 Kaltim: Akankah Nasib UMKM Benar-Benar Berubah?

Redaksi KP • Kamis, 16 April 2026 | 14:20 WIB
Riyawan S Hut, Anggota Forum Ayah Kukar.
 

Oleh : Riyawan S.Hut
Pemerhati Sosial & Budaya

DI balik gemerlap industri tambang dan geliat pembangunan di Kalimantan Timur (Kaltim), ada satu fakta yang sering luput dari perhatian yakni ribuan usaha kecil masih belum terdata secara optimal. Mulai dari warung kelontong di gang sempit Samarinda, usaha laundry rumahan di Balikpapan, hingga bengkel sederhana di Bontang semuanya punya peran besar dalam menggerakkan ekonomi daerah.

Inilah yang membuat Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi momentum krusial. Bukan sekadar agenda rutin 10 tahunan, tapi peluang besar untuk “menghitung ulang” kekuatan ekonomi Kaltim secara menyeluruh. Pertanyaannya, apakah sensus ini akan benar-benar membawa perubahan, atau hanya berakhir sebagai tumpukan data di meja birokrasi?

Kenapa Sensus Ekonomi 2026 Jadi Momen Penting untuk Kaltim?

Kalau bicara soal ekonomi Kaltim, satu sektor yang selalu jadi sorotan adalah pertambangan. Data terbaru menunjukkan bahwa hingga triwulan III-2025, sektor ini masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Nilainya fantastis, tapi ada sisi lain yang jarang dibahas.

Di balik dominasi perusahaan besar, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) justru menjadi tulang punggung dalam hal penyerapan tenaga kerja. Secara nasional, lebih dari 98 persen unit usaha berasal dari sektor mikro dan kecil, dan kondisi ini juga tercermin di Kaltim.

Masalahnya, banyak dari usaha kecil ini belum terdata secara maksimal. Ada yang lokasinya sulit dijangkau, ada juga pelaku usaha yang masih ragu memberikan informasi karena takut berkaitan dengan pajak atau regulasi lainnya. Akibatnya, terjadi “kesenjangan data” yang cukup serius. Pemerintah punya data lengkap tentang perusahaan besar, tapi minim informasi detail soal usaha kecil. Padahal, justru sektor inilah yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan paling rentan terhadap perubahan ekonomi.

Di sinilah peran Sensus Ekonomi 2026 menjadi sangat penting. Sensus ini akan mendata seluruh usaha non-pertanian, dari skala paling kecil hingga yang terbesar. Artinya, semua pelaku usaha punya kesempatan yang sama untuk “terlihat” dalam peta ekonomi nasional.

Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya akan menghitung jumlah usaha, tetapi juga mendata angkatan kerja. Dengan adanya data tersebut, kita bisa mengetahui secara jelas sektor mana yang paling banyak menyerap tenaga kerja, misalnya apakah pertanian masih menjadi tulang punggung atau justru UMKM yang kini lebih dominan. Hasil sensus ini penting agar kebijakan pengembangan lapangan kerja ke depan lebih tepat sasaran dan berbasis bukti, bukan sekadar perkiraan.

Masalah Klasik: Data Ada, Tapi Realitas Berbeda

Pernah merasa data ekonomi yang muncul di media terasa jauh dari kehidupan sehari-hari? Misalnya, angka pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi di lapangan banyak usaha kecil yang masih struggling. Ini bukan kebetulan. Salah satu penyebabnya adalah data yang belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi riil. Banyak usaha kecil yang tidak masuk dalam sistem pendataan. Akibatnya, kebijakan yang dibuat seringkali tidak tepat sasaran.

Contohnya program bantuan UMKM. Secara teori, program ini dirancang untuk membantu usaha kecil berkembang. Tapi dalam praktiknya, yang sering mendapatkan manfaat justru pelaku usaha yang sudah punya administrasi rapi dan akses informasi yang baik. Sementara itu, pedagang kaki lima, pemilik warung kecil, atau usaha rumahan sering tertinggal karena tidak terdaftar dalam sistem.

Selain itu, perkembangan ekonomi digital juga menambah kompleksitas. Di kota-kota besar, banyak usaha sudah menggunakan QRIS, marketplace, hingga media sosial sebagai alat pemasaran. Tapi di daerah yang lebih terpencil, adopsi teknologi masih terbatas.

Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi alat penting untuk memetakan kesenjangan ini. Berapa banyak usaha yang sudah go digital? Berapa yang masih konvensional? Data ini akan sangat berguna untuk merancang program digitalisasi yang lebih tepat sasaran. Tanpa data yang akurat, pemerintah hanya “menebak-nebak” kebutuhan pelaku usaha. Dan seperti yang bisa ditebak, hasilnya sering tidak maksimal.

Kolaborasi dan Harapan: Dari Data ke Aksi Nyata

Salah satu hal menarik dari persiapan SE2026 di Kaltim adalah pendekatan kolaboratif yang mulai dibangun. Berbagai pihak dilibatkan, mulai dari pemerintah daerah, asosiasi pengusaha, pengelola pusat perbelanjaan, hingga pelaku industri besar. Langkah ini penting, karena pendataan skala besar tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan sinergi agar semua lapisan usaha benar-benar terjangkau, termasuk yang selama ini “tidak terlihat”.

Kegiatan diskusi kelompok (FGD) yang digelar menjelang sensus menjadi bukti bahwa ada kesadaran baru berupa data yang berkualitas hanya bisa dihasilkan melalui kerja sama. Namun, tantangan sebenarnya justru ada setelah sensus selesai. Data yang terkumpul harus diolah dan dimanfaatkan dengan maksimal. Jangan sampai hanya menjadi laporan formal tanpa dampak nyata. Bayangkan jika data dari SE2026 benar-benar digunakan secara optimal:

Pemerintah bisa mengetahui sektor usaha mana yang paling berkembang di setiap daerah. Program bantuan bisa disesuaikan dengan kebutuhan riil pelaku usaha. Pelatihan dan pendampingan bisa lebih tepat sasaran. Investor bisa melihat potensi daerah yang sebelumnya tidak terlihat.

Misalnya di Balikpapan, jika data menunjukkan tingginya jumlah usaha jasa seperti laundry dan bengkel, maka pemerintah bisa fokus mengembangkan ekosistem pendukung di sektor tersebut. Di daerah seperti Penajam Paser Utara atau Kutai Kartanegara, data bisa membantu mengidentifikasi potensi ekonomi baru yang selama ini belum tergarap maksimal.

Lebih jauh lagi, data ini juga bisa menjadi dasar dalam mendorong transformasi ekonomi Kaltim. Dari yang sebelumnya bergantung pada sumber daya alam, menuju ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Peran Pelaku Usaha: Jangan Takut untuk Didata

Sukses atau tidaknya Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya bergantung pada pemerintah atau petugas lapangan. Peran pelaku usaha juga sangat menentukan. Masih banyak yang merasa khawatir saat didata. Takut datanya digunakan untuk pajak, atau bahkan merasa tidak penting untuk ikut sensus. Padahal, semua data yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik.

Justru dengan ikut sensus, pelaku usaha punya peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah. Data yang akurat akan membantu menentukan kebijakan yang benar-benar sesuai kebutuhan. Jadi, ketika petugas sensus datang nanti, sebaiknya disambut dengan terbuka. Berikan informasi yang jujur dan lengkap. Karena dari situlah masa depan kebijakan ekonomi akan dibentuk.

Saatnya Kaltim Naik Level dengan Data yang Kuat

Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar formalitas. Ini adalah kesempatan besar untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan inklusif di Kalimantan Timur. Dengan data yang lengkap dan akurat, pemerintah bisa membuat kebijakan yang lebih tepat sasaran. Pelaku usaha bisa mendapatkan dukungan yang benar-benar dibutuhkan. Dan masyarakat secara keseluruhan bisa merasakan dampak pembangunan yang lebih merata.

Dari warung kelontong hingga perusahaan besar, semua punya peran dalam membentuk peta ekonomi Kaltim. Dan melalui SE2026, semua suara itu akan dihitung. Sekarang pertanyaannya sederhana, “Siapkah kita menjadi bagian dari perubahan ini?” Karena pada akhirnya, masa depan ekonomi Kaltim tidak hanya ditentukan oleh angka-angka besar, tapi juga oleh data kecil yang jujur dari setiap pelaku usaha di lapangan. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Sensus Ekonomi 2026 #UMKM Kaltim #Ekonomi Kaltim