Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jangan Hanya Fokus Membentuk Pemain, tetapi Juga Membentuk Pribadi

Redaksi • Rabu, 22 April 2026 | 09:07 WIB
Jacksen F Tiago belum tertarik kembali melatih klub sepak bola profesional.
Jacksen F Tiago.

Catatan:

Jacksen F Tiago

Direktur Akademi Borneo FC Samarinda, Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challange

 

KALTIMPOST.ID - Saya ingin mengajak kita semua melihat kejadian di laga Elite Pro Academy (EPA) 2026 antara Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United FC U-20 ini bukan cuma sebagai insiden pertandingan biasa.

Jujur, setelah kami (para pelatih akademi) pulang dari Spanyol, ada banyak hal yang bikin kami berpikir ulang. Di sana, sepak bola itu terasa sangat hidup, tapi juga sangat teratur. Penuh rasa hormat, sportivitas, dan jadi hiburan yang menyatukan orang. Bahkan saat melihat atmosfer di markas FC Barcelona, kita bisa merasakan itu jelas sekali.

Tapi begitu kembali ke sini, kadang muncul pertanyaan sederhana: apakah kita sedang memainkan olahraga yang sama?

Baca Juga: Mencari Pemimpin Sekolah di Ujung Negeri: Antara IKN dan Krisis Kepala Sekolah di Kalimantan Timur

Bukan berarti tidak ada perkembangan ya. Justru kalau jujur, saya lihat musim ini ada banyak kemajuan. Mulai dari sistem, kurikulum, sampai konsep kepelatihan. Itu harus kita akui dan apresiasi.

Tapi ada satu hal yang menurut saya belum cukup kita sentuh serius, yaitu soal manusia di dalamnya.

Karena sepak bola itu dimainkan oleh manusia, maka yang harus dibangun bukan cuma teknik dan taktik. Tapi juga psikologi, karakter, cara berpikir, bahkan kemampuan komunikasi. Termasuk bahasa asing kalau perlu. Kita ini bukan cuma lagi bikin pemain, tapi juga membentuk pribadi.

Saya pribadi merasa ke depan kita perlu lebih serius lagi soal psikologi olahraga. Mungkin lewat kerja sama dengan ahli atau lembaga yang memang paham bidang ini. Supaya arah pembinaan kita tidak berhenti di performa, tapi benar-benar menyentuh pembangunan manusia secara utuh.

Sekarang ini, tantangannya juga makin besar. Media sosial, dunia digital, semuanya cepat sekali memengaruhi anak-anak muda. Kalau tidak ada pendampingan yang tepat, kita bisa kehilangan mereka bukan karena tidak berbakat, tapi karena tidak punya arah dan karakter.

Baca Juga: Hitung-hitungan Juara Liga Inggris: Manchester City-Arsenal Bisa Ditentukan Pekan Terakhir

Soal insiden kemarin, saya juga melihat banyak yang minta hukuman berat. Dan ya, kita semua sepakat, itu sudah keluar dari batas olahraga yang wajar.

Tapi kalau saya bicara dari sudut pandang pembina, bahkan sebagai seorang ayah, saya merasa mereka sebenarnya sudah sedang menerima tekanan yang berat juga. Jadi saya pribadi tidak mau hanya fokus ke soal hukuman.

Yang lebih penting menurut saya adalah bagaimana kita belajar dari ini. Bagaimana kita membangun sistem yang bisa bikin pemain jadi lebih matang, lebih dewasa, dan lebih bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan cuma mengangkat trofi. Piala itu bisa berkarat. Tapi karakter itu akan tinggal seumur hidup.

Saya berharap kejadian ini tidak jadi sumber perpecahan. Jangan sampai juga ujungnya hanya saling menyalahkan atau bahkan sampai pemutusan hubungan kerja. Lebih baik ini jadi momen untuk memperbaiki diri bersama.

Baca Juga: Viral Tendangan Brutal di EPA U-20, Jacksen Soroti Krisis Pembinaan

Dan satu hal yang perlu kita sadari, ini bukan cuma soal dua tim. Ini adalah cerminan sistem pembinaan kita secara keseluruhan. Jadi ya, ini tanggung jawab kita bersama.

Saya minta maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Saya memang bukan orang sini, tapi saya bagian dari sepak bola dan bagian dari ekosistem EPA ini. Semua ini saya sampaikan karena saya benar-benar ingin kita berkembang ke arah yang lebih baik. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#EPA U-20 #Jacksen Thiago #sepak bola usia muda #pembinaan karakter