Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ketika AI Menggantikan Proses Berpikir Mahasiswa

Redaksi KP • Kamis, 23 April 2026 | 19:42 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh:

Syarifah Safeyah

Mahasiswa Universitas Mulawarman

DALAM beberapa tahun terakhir, saya menyadari bahwa Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Di Indonesia, berbagai aplikasi berbasis AI bermunculan dan dapat diakses dengan sangat mudah. Mulai dari chatbot, aplikasi penjelas materi, hingga alat yang dapat membantu menulis, semuanya tersedia hanya dengan beberapa ketikan di layar. Sebagai mahasiswa yang hidup di era digital, saya juga merasakan bagaimana teknologi ini perlahan menjadi salah satu “alat bantu belajar” yang paling sering digunakan.

Menurut pengamatan saya, alasan mahasiswa menggunakan AI sebenarnya cukup sederhana: karena praktis. Kehidupan perkuliahan sering kali dipenuhi dengan tugas, deadline yang berdekatan, dan tuntutan untuk memahami banyak materi dalam waktu singkat. Dalam kondisi seperti itu, AI terasa seperti solusi yang cepat. Ketika kita tidak memahami suatu konsep, kita bisa langsung bertanya dan mendapatkan jawaban dalam hitungan detik. Hal ini tentu sangat membantu, terutama ketika waktu terasa terbatas.

Saya sendiri tidak menolak fakta bahwa AI memiliki banyak manfaat. Dalam beberapa situasi, AI dapat membantu saya mendapatkan gambaran awal tentang suatu topik, merangkum informasi yang panjang, atau membantu menyusun ide ketika menulis. Kadang AI juga memberikan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga materi yang awalnya terasa rumit menjadi lebih mudah dipahami. Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa AI memang dapat menjadi alat bantu belajar yang cukup efektif jika digunakan dengan tepat.

Syarifah Safeyah
Syarifah Safeyah.

Namun, semakin sering saya melihat penggunaan AI di kalangan mahasiswa, saya juga mulai menyadari adanya sisi lain yang cukup mengkhawatirkan. Kemudahan yang ditawarkan AI bisa membuat kita terbiasa mendapatkan jawaban secara instan. Tanpa disadari, kita mungkin menjadi kurang terdorong untuk membaca sumber asli, mencari referensi sendiri, atau mencoba memahami materi secara lebih mendalam. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi membuat proses belajar menjadi lebih dangkal.

Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada cara kita menggunakannya. AI sebenarnya dirancang sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia. Jika mahasiswa mulai mengandalkan AI untuk hampir semua hal mulai dari mencari ide hingga menyelesaikan tugas maka kemampuan berpikir kritis dan kreativitas bisa perlahan berkurang. Hal ini tentu menjadi ironi, karena tujuan pendidikan justru untuk melatih kemampuan berpikir tersebut.

Selain berdampak pada diri sendiri, penggunaan AI yang tidak bijak juga dapat memengaruhi dunia akademik secara lebih luas. Saya sering bertanya-tanya: bagaimana jika semakin banyak mahasiswa yang mengandalkan AI tanpa benar-benar memahami materi yang mereka pelajari? Jika hal itu terjadi, maka kualitas pembelajaran bisa saja menurun. Pendidikan tidak lagi menjadi proses memahami pengetahuan, tetapi hanya sekadar menyelesaikan tugas.

Karena itu, menurut saya penting bagi mahasiswa untuk mulai merefleksikan kembali cara mereka menggunakan AI. Teknologi ini tidak perlu dihindari, tetapi juga tidak seharusnya dijadikan jalan pintas untuk segala hal. AI bisa digunakan untuk membantu memahami konsep atau mencari inspirasi, tetapi proses berpikir dan belajar tetap harus dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri.

Pada akhirnya, saya melihat AI sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memberikan kemudahan yang luar biasa dalam proses belajar. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga bisa membuat kita terlalu bergantung padanya. Bagi saya pribadi, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menggunakan AI, tetapi bagaimana tetap menjadi mahasiswa yang berpikir kritis di tengah kemudahan teknologi yang serba instan.

Sebagai mahasiswa yang hidup di era teknologi, saya merasa penting untuk sesekali berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah saya menggunakan AI sebagai alat bantu belajar, atau justru sudah mulai bergantung padanya? Pertanyaan sederhana ini sebenarnya cukup penting, karena sering kali kita menggunakan teknologi tanpa benar-benar menyadari dampaknya terhadap cara kita berpikir dan belajar.

Bagi saya pribadi, refleksi ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama menjadi mahasiswa bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir, menganalisis, dan memahami berbagai pengetahuan secara mendalam. AI memang dapat membantu memberikan gambaran awal atau menjelaskan konsep yang sulit, tetapi proses memahami dan mengolah informasi tetap harus dilakukan oleh diri kita sendiri.

Refleksi ini juga relevan bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya. Kita mungkin pernah menggunakan AI untuk mencari ide, merangkum materi, atau membantu memahami topik tertentu. Hal tersebut tidak selalu salah, selama kita tetap terlibat aktif dalam proses belajar. Namun, penting bagi kita untuk mulai menyadari batasannya. Jika setiap kesulitan langsung kita serahkan kepada AI tanpa mencoba berpikir terlebih dahulu, maka kita berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir kritis.

Karena itu, saya mengajak diri saya sendiri dan teman-teman mahasiswa untuk mulai menggunakan AI dengan lebih sadar dan bijak. Misalnya dengan menjadikan AI sebagai alat untuk mengecek pemahaman, mencari perspektif tambahan, atau membantu mengorganisasi ide bukan sebagai sumber utama yang menggantikan usaha kita sendiri. Selain itu, kita juga perlu tetap membiasakan diri membaca sumber asli, berdiskusi dengan teman atau dosen, serta mencoba menyelesaikan masalah secara mandiri.

Pada akhirnya, refleksi ini bukan tentang menolak teknologi, tetapi tentang menjaga keseimbangan dalam menggunakannya. AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan secara tepat. Namun, tanggung jawab untuk tetap berpikir, belajar, dan berkembang tetap berada pada diri kita sebagai mahasiswa. Dengan kesadaran tersebut, kita dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan esensi dari proses belajar itu sendiri. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#mahasiswa #chatbot #Universitas Mulawarman #artificial intelligence