
Pemerhati Sosial & Budaya
ADA rasa yang sulit dijelaskan saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia di Jalan Anggana, Kelurahan Panji, Tenggarong. Bukan karena tempatnya menyeramkan, meski sebagian warga sekitar memang sering menyebutnya begitu melainkan karena suasana yang terasa kosong. Bukan kosong secara fisik. Justru sebaliknya.
Yang terlihat adalah rumput liar setinggi pinggang, sampah plastik yang berserakan tanpa arah, dan deretan bangunan replika yang dulu megah kini tampak kusam, mengelupas, bahkan sebagian sudah tidak lagi bisa dikenali bentuk aslinya. Ada yang tinggal rangka, ada yang hanya menyisakan pondasi.
Padahal, tempat ini bukan lahan biasa. Di sinilah dulu ditanam mimpi besar yakni sebuah destinasi wisata edukasi keluarga yang menggabungkan sejarah Nusantara dan ikon dunia dalam satu kawasan.
Bayangkan saja, dalam satu area, pengunjung seharusnya bisa melihat replika Kedaton Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Candi Tikus dari era Majapahit, Candi Mahligai, miniatur Kerajaan Sriwijaya, hingga istana dari Kalimantan seperti Tanjung Palas dan Gunung Tabur. Bahkan, ada juga sentuhan global seperti Menara Eiffel dan Menara Pisa.
Konsepnya jelas, edukatif, rekreatif, dan berpotensi jadi magnet wisata di Kalimantan Timur. Namun kenyataannya sekarang jauh dari harapan.
Lebih dari satu dekade sejak proyek ini dimulai pada 2015, taman tersebut tak pernah benar-benar hidup. Bahkan sebelum sempat berkembang, kondisinya sudah lebih dulu menurun drastis. Dan yang membuat semuanya terasa lebih berat, proyek ini dibangun dengan anggaran Rp23 miliar dari uang rakyat Kutai Kartanegara.
Masalah Utama: Dibangun, Tapi Tidak Dihidupkan
Yang perlu digarisbawahi, masalah taman ini bukan karena proyeknya berhenti di tengah jalan. Tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab mengelola. Tidak ada sistem operasional. Tidak ada petugas tetap. Tidak ada anggaran perawatan berkelanjutan.
Dengan kata lain, proyek selesai di atas kertas, tapi mati di lapangan. Ini bukan sekadar kelalaian kecil. Ini kesalahan mendasar dalam perencanaan.
Dalam banyak kasus pembangunan infrastruktur publik di Indonesia, fokus sering hanya pada tahap “membangun”. Setelah peresmian, semuanya seolah selesai. Padahal justru fase paling penting adalah setelah itu—bagaimana fasilitas tersebut dikelola, dirawat, dan dihidupkan.
Tanpa pengelolaan yang jelas, alam akan mengambil alih. Dan itulah yang terjadi di Tenggarong. Bangunan mulai retak, cat memudar, pagar rusak, dan area terbuka berubah jadi tempat pembuangan sampah. Tanpa penjagaan, risiko kerusakan dan kehilangan aset semakin besar.
Warga sekitar pun merasakan dampaknya secara langsung. Alih-alih menjadi kebanggaan daerah, kawasan ini justru menimbulkan kesan tidak nyaman.
“Rasanya bukan bangga, tapi malah agak seram,” ungkap salah satu warga. Pernyataan itu sederhana, tapi menggambarkan realita yang ada. Aset publik yang tidak dijaga hampir selalu berakhir sama yakni terbengkalai, rusak, lalu dilupakan.
Penyakit Lama Infrastruktur: Proyek Ada, Ekosistem Tidak
Kasus Taman Replika Tenggarong sebenarnya bukan kejadian tunggal. Ini adalah pola lama yang terus berulang di banyak daerah. Kita sering melihat proyek besar dengan anggaran fantastis, taman kota, gedung serbaguna, pusat wisata yang diresmikan dengan meriah, lengkap dengan pita dan dokumentasi.
Namun beberapa tahun kemudian? Sepi, rusak, bahkan berubah fungsi. Masalah utamanya selalu sama, tidak ada ekosistem. Membangun fisik tanpa memikirkan keberlanjutan sama saja seperti membeli mobil mahal tanpa pernah mengisinya dengan bensin. Secara tampilan memang mengesankan, tapi tidak akan pernah bergerak.
Sebuah destinasi wisata tidak hidup hanya dari bangunannya. Ia butuh aktivitas, pengunjung, dan interaksi sosial. Ia butuh suara anak-anak, pedagang lokal, event komunitas, dan rasa memiliki dari masyarakat sekitar. Tanpa itu semua, tempat seindah apapun hanya akan jadi pajangan kosong. Dan di Tenggarong, itu yang sedang terjadi.
Solusi Nyata: Cara Menghidupkan Kembali Taman Replika Tenggarong
Meski kondisinya memprihatinkan, bukan berarti semuanya sudah terlambat. Justru sekarang adalah momen penting untuk memperbaiki arah sebelum semuanya benar-benar hilang. Ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan agar revitalisasi tidak sekadar jadi proyek berulang tanpa hasil.
Pertama, tetapkan pengelola yang jelas. Ini fondasi utama. Harus ada pihak yang bertanggung jawab penuh, baik itu dinas pemerintah, BUMD, atau kerja sama dengan swasta. Yang penting bukan siapa, tapi kejelasan mandat dan adanya anggaran operasional yang realistis. Tanpa itu, perbaikan hanya akan jadi solusi sementara.
Kedua, hidupkan kawasan dengan aktivitas rutin. Taman tidak akan ramai kalau tidak ada alasan untuk datang. Maka perlu dibuat program yang konsisten seperti pasar seni mingguan, festival budaya Kutai, pertunjukan musik lokal, hingga kegiatan edukasi untuk pelajar. Melibatkan komunitas lokal dan pelaku UMKM juga penting. Ketika masyarakat merasa memiliki, mereka akan ikut menjaga.
Ketiga, maksimalkan potensi cerita sejarah. Taman ini punya keunggulan yang tidak dimiliki banyak tempat lain yakni narasi budaya dan sejarah yang kuat. Replika kerajaan Nusantara bisa jadi sarana edukasi yang menarik jika dikemas dengan baik.
Tambahkan papan informasi yang interaktif, pemandu wisata, atau teknologi digital seperti QR code untuk menjelaskan sejarah tiap bangunan. Wisata hari ini bukan cuma soal foto, tapi juga pengalaman.
Keempat, bangun transparansi dan pengawasan publik. Masyarakat berhak tahu perkembangan revitalisasi proyek senilai Rp 23 miliar ini. Laporan rutin, update di media sosial, hingga keterlibatan warga bisa menciptakan kontrol sosial yang sehat. Dengan begitu, proyek tidak berhenti di tengah jalan ketika perhatian publik mulai beralih.
Masih Bisa Diselamatkan, Asal Tidak Setengah Hati. Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia bukan sekadar proyek gagal. Ia adalah pengingat, bahwa membangun itu mudah, tapi menjaga dan menghidupkan jauh lebih sulit. Rp23 miliar itu tidak hilang. Ia masih ada, tertanam dalam bangunan yang kini tertutup semak.
Artinya, harapan masih ada. Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar renovasi fisik. Bukan hanya cat baru atau pembersihan area. Tapi perubahan cara berpikir. Bahwa pembangunan tidak berhenti saat proyek selesai. Justru dimulai dari sana. Butuh keberanian untuk mengambil keputusan yang tepat. Butuh konsistensi untuk menjalankannya. Dan yang paling penting, butuh kolaborasi, antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
Kalau semua itu bisa berjalan, bukan tidak mungkin taman ini kembali hidup. Kembali ramai. Kembali jadi kebanggaan wong Kutai. Karena pada akhirnya, yang menentukan nasib sebuah tempat bukan seberapa besar anggarannya. Tapi seberapa serius kita merawatnya!
Editor : Muhammad Rizki