Rusdiansyah Aras
Tokoh Pers Kaltim
KALTIMPOST.ID - Gelombang aspirasi yang tumpah ke jalanan pada 21 April 2026 menyisakan satu pesan yang sangat jelas: masyarakat Kalimantan Timur peduli pada masa depan daerahnya. Sebagai jurnalis yang telah menyaksikan jatuh bangun pembangunan di Benua Etam selama puluhan tahun, saya memandang peristiwa ini bukan sebagai “kekalahan” bagi pemerintah maupun “kemenangan” bagi para pengunjuk rasa.
Jika dimaknai sebagai kontestasi, kita justru terjebak dalam dikotomi yang tidak produktif. Pasca 21 April, tak semestinya ada pihak yang merasa menang atau kalah. Yang hadir adalah momentum evaluasi besar-besaran untuk menyatukan langkah. Inilah saatnya berhenti saling menyalahkan dan mulai bergerak menuju tujuan bersama: Kalimantan Timur menuju Generasi Emas.
Sinergi, Bukan Konfrontasi
Pemerintah provinsi, DPRD, aparat penegak hukum, hingga masyarakat sipil berada dalam satu perahu yang sama. Ketika saling menyalahkan, kapal besar bernama Kaltim justru kehilangan arah. Sebaliknya, jika kritik diolah menjadi masukan konstruktif dan respons pemerintah diwujudkan dalam aksi nyata yang transparan, fondasi pembangunan yang kokoh sedang dibangun.
Dalam semangat saling melengkapi, ada tiga hal penting yang perlu digarisbawahi.
Baca Juga: Guru Belum Sertifikasi? Lakukan Hal Ini Sebelum 30 April atau Kesempatan Hilang Begitu Saja!
Pertama, evaluasi sebagai ruang belajar. Eksekutif perlu memandang tuntutan masyarakat sebagai “data primer” dari lapangan yang kerap luput dari meja birokrasi. Ini menjadi pengayaan penting agar kebijakan semakin relevan dengan kebutuhan rakyat.
Kedua, DPRD sebagai kanal aspirasi yang hidup. Fungsi pengawasan legislatif harus dijalankan dengan semangat kemitraan yang kritis—bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan setiap rupiah APBD benar-benar menjadi katalisator kesejahteraan, bukan sekadar formalitas administratif.
Ketiga, masyarakat sebagai mitra pembangunan. Publik yang kritis adalah modal sosial yang sangat berharga. Keterlibatan aktif dalam mengawasi pembangunan menjadikan masyarakat sebagai penjaga agar arah pembangunan tetap berada di jalur yang benar.
Membangun Kaltim dengan Semangat “Etam”
Prinsip Etam—yang berarti “kita semua”—harus menjadi roh dalam tata kelola pemerintahan ke depan. Tidak ada pemimpin yang mampu berhasil sendirian, sebagaimana tidak ada rakyat yang dapat sejahtera tanpa kebijakan yang berpihak.
Pasca 21 April, mari jadikan momentum ini sebagai titik balik. Pemerintah membuka ruang dialog lebih luas, DPRD meningkatkan kualitas pengawasan yang edukatif, dan pers terus menjaga nalar publik melalui pemberitaan yang menyejukkan sekaligus tajam.
Baca Juga: Prediksi Persiba vs PSS Sleman 26 April 2026: Ujian Berat Beruang Madu di Stadion Batakan
Sudah saatnya kita meninggalkan narasi perpecahan. Kita tengah mengejar target besar: menyiapkan Kalimantan Timur yang unggul, berdaya saing, dan sejahtera bagi generasi mendatang. Tantangan ke depan jauh lebih berat dibanding sekadar riak perbedaan pendapat hari ini.
Bersama, kita kuatkan yang lemah, lengkapi yang kurang, dan bangun Kaltim dengan tangan yang saling menggenggam—bukan saling menunjuk.
Pada akhirnya, keberhasilan Kalimantan Timur bukan ditentukan oleh siapa yang paling berkuasa, melainkan oleh seberapa bahagia anak cucu kita kelak di tanah yang kita bangun bersama hari ini.
Semangat untuk Kaltim yang lebih baik. (*)
Editor : Ery Supriyadi