Catatan:
Romdani
Pemimpin Redaksi
KALTIMPOST.ID-Hari Pendidikan Nasional kembali datang. Lagi-lagi kita bicara soal masa depan. Soal anak-anak. Soal mimpi besar. Tapi ada satu pertanyaan sederhana yang seharusnya kita jawab dulu. Sudahkah ruang belajar mereka layak?
Kaltim sebenarnya tidak kekurangan program. Bahkan bisa dibilang salah satu daerah paling progresif. Gratispol jadi contoh paling nyata. Sekolah gratis. Bantuan perlengkapan. Sampai kuliah pun ditanggung.
Itu langkah berani. Tidak semua daerah mampu. Pemprov Kaltim patut diapresiasi. Tapi persoalan pendidikan memang tidak sesederhana biaya. Ada hal lain yang sering luput. Yakni kondisi fisik sekolah itu sendiri.
Masih banyak sekolah di Kaltim yang kondisinya memprihatinkan. Ada yang atapnya bocor. Dinding retak. Fasilitas minim. Bahkan ada yang kekurangan ruang kelas.
Ini fakta. Bukan asumsi. Lalu pertanyaannya, apakah cukup kita bicara sekolah gratis, sementara ruang belajarnya belum layak? Jawabannya tentu belum.
Gratispol memang menjawab persoalan akses. Tidak ada lagi alasan anak tidak sekolah karena biaya. Tapi kualitas pendidikan tidak berhenti di situ. Kualitas dimulai dari hal paling dasar. Ruang kelas yang aman. Nyaman. Layak.
Kalau anak belajar di ruangan panas, bocor saat hujan, atau fasilitas terbatas. Sulit berharap proses belajar berjalan maksimal. Itu yang harus menjadi perhatian serius.
Pemprov Kaltim sebenarnya tidak diam. Perbaikan infrastruktur pendidikan sudah masuk prioritas. Sejumlah sekolah mulai direhabilitasi. Pembangunan juga dilakukan.
Tapi kita juga harus jujur. Kebutuhannya jauh lebih besar. Kerusakan sekolah tidak terjadi dalam satu tahun. Jadi memperbaikinya juga tidak bisa instan. Butuh waktu. Butuh anggaran. Butuh konsistensi.
Di tengah tekanan fiskal, apalagi transfer pusat yang menurun, itu jadi tantangan berat. Namun justru di sinilah komitmen diuji.
Kalau pendidikan benar-benar jadi prioritas, maka perbaikan sekolah tidak boleh setengah jalan. Tidak boleh berhenti pada awal periode.
Kita sudah sering melihat pola yang sama. Pada awal gebrakan kuat. Program diluncurkan. Tapi pelan-pelan meredup. Jangan sampai itu terjadi lagi.
Di sisi lain, pendidikan tidak hanya soal pemerintah. Ada peran pihak lain yang juga penting. Salah satunya Tanoto Foundation.
Di Kaltim, mereka tidak membangun sekolah. Tapi mereka masuk ke ruang kelas. Melatih guru. Memperbaiki cara mengajar. Menguatkan manajemen sekolah.
Itu langkah yang tidak kalah penting. Karena sekolah bukan hanya soal bangunan. Tapi juga soal proses belajar. Guru yang baik bisa mengubah cara anak memahami dunia. Kepala sekolah yang kuat bisa menggerakkan seluruh sistem di dalamnya.
Tanoto Foundation mengambil peran di sana. Tapi tentu saja, ini tidak bisa berdiri sendiri. Percuma guru sudah dilatih. Metode sudah diperbaiki. Tapi ruang kelasnya tidak mendukung.
Artinya, peran pemerintah dan lembaga seperti Tanoto Foundation harus berjalan beriringan. Gratispol membuka akses. Di samping memang Tanoto Foundation merupakan mitra pemerintah.
Tanoto Foundation memperbaiki kualitas pembelajaran. Pemerintah memperbaiki infrastruktur. Kalau salah satu timpang, hasilnya tidak akan maksimal.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya jadi momentum untuk menyatukan itu semua. Bukan sekadar seremoni. Bukan sekadar pidato. Tapi benar-benar memastikan bahwa setiap anak di Kaltim belajar di ruang yang layak. Dengan guru yang berkualitas. Tanpa terbebani biaya.
Kaltim punya peluang besar. Apalagi dengan status sebagai penyangga IKN. Kita tidak boleh hanya bicara pembangunan fisik besar. Jalan tol. Kawasan industri. Proyek strategis.
Karena fondasi sesungguhnya ada di pendidikan. Kalau sekolahnya masih bocor. Kalau ruang kelasnya masih kurang. Maka mimpi besar itu akan timpang sejak awal.
Semoga Hari Pendidikan Nasional tahun ini tidak hanya jadi pengingat. Tapi juga jadi titik balik. Bahwa pendidikan bukan hanya gratis. Tapi juga berkualitas dan layak untuk semua. (rd)
Editor : Romdani.