KALTIMPOST.ID – Angka pengangguran kaltim terus menyusut secara berkelanjutan dan menunjukkan sinyal positif pasar kerja regional. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2026 sebesar 5,27 persen, turun 0,06 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka ini melanjutkan tren penurunan yang konsisten sejak Februari 2022, ketika TPT masih berada di level 6,77 persen. Penurunan pengangguran ini menjadi catatan positif bagi pemerintah daerah, mengingat jumlah pengangguran secara absolut berkurang sebanyak 2.074 orang dalam setahun terakhir.
Yang lebih optimistis, struktur tenaga kerja kita mulai bergeser ke arah yang lebih berkualitas. Jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal meningkat signifikan menjadi 55,45 persen, atau naik 2,37 persen poin dibandingkan Februari 2025. Ini menandakan kepastian kerja dan perlindungan sosial bagi warga Kaltim semakin membaik.
Secara makro, ekonomi Kaltim pada Triwulan I-2026 tumbuh positif sebesar 2,99 persen secara year on year (yoy). Meskipun angka ini melandai jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya yang sering mencapai di atas 5 persen, pertumbuhan ini tetap mencerminkan resiliensi di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi harga komoditas.
Menariknya, sektor non-tambang justru tampil sebagai pahlawan pertumbuhan. Sektor Perdagangan tumbuh melesat sebesar 14,97 persen, sementara sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 15,94 persen. Dinamika ini didorong oleh geliat aktivitas masyarakat selama momen Ramadan, serta dampak positif dari kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus menggerakkan konsumsi domestik.
Meski terkesan kecil, penurunan ini menyimpan makna besar. Dalam empat tahun terakhir, Kaltim berhasil memangkas angka pengangguran hampir 1,5 persen poin, sebuah pencapaian yang mencerminkan ketahanan dan daya adaptasi ekonomi provinsi di tengah berbagai tekanan global maupun transisi struktural akibat kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).
Baca Juga: Sewa Mobil untuk Camat dan Lurah di Samarinda Berlanjut, Pemkot Klaim Unit Baru Lebih Efisien
Tantangan nyata memang terlihat pada sektor Pertambangan dan Penggalian yang mengalami kontraksi sebesar 1,19 persen pada triwulan ini. Penurunan produksi gas alam dan batu bara, ditambah dengan penataan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga, menjadi faktor utama melambatnya sektor ini.
Secara teori, kontraksi di sektor padat modal seperti pertambangan biasanya memberi tekanan pada angka pengangguran. Namun, yang terjadi di Kaltim justru sebaliknya. Penyerapan tenaga kerja berhasil dikompensasi oleh sektor-sektor padat karya. Sektor Pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 19,57 persen, disusul oleh Perdagangan sebesar 16,96 persen.
Ini adalah sinyal positif bahwa ketergantungan Kaltim terhadap "emas hitam" mulai bertransformasi menuju diversifikasi ekonomi yang lebih sehat. Pembangunan infrastruktur IKN yang masih terus berjalan masif juga menjadi bantalan (buffer) yang kuat bagi sektor konstruksi, yang tetap tumbuh 3,57 persen.
Melihat data ini, kita punya alasan kuat untuk tetap optimis. Penurunan pengangguran di tengah kontraksi sektor unggulan membuktikan bahwa struktur ekonomi Kaltim semakin adaptif. Peningkatan jumlah ASN yang signifikan serta penyaluran bantuan pendidikan melalui program "Gratispol" juga memperkuat daya beli dan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Ke depan, tantangan transformasi ekonomi memang belum usai. Namun, dengan pengangguran yang terus melandai dan sektor jasa yang semakin bergairah, Kalimantan Timur sedang melangkah pasti menuju era ekonomi yang lebih mandiri, inklusif, dan tidak lagi hanya bergantung pada kekayaan perut bumi. Kaltim bukan sekadar lumbung energi nasional, tapi kini bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan baru yang menjanjikan masa depan cerah bagi seluruh warganya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo