Oleh:
Elis Susiana
Kepala SMK Negeri 3 Samarinda
DI tengah perubahan cepat dunia pendidikan, perhatian terhadap kualitas guru sering kali masih terfokus pada aspek akademik, kurikulum, dan teknologi pembelajaran. Padahal, ada aspek mendasar yang tidak kalah penting, yakni kesiapan mental dan fisik para pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). Tanpa fondasi ini, berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan berisiko tidak berjalan optimal.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan budi pekerti. Dalam konteks kekinian, hal tersebut dapat dimaknai bahwa guru sebagai pendidik harus terlebih dahulu memiliki ketahanan karakter yang kuat sebelum menanamkannya kepada peserta didik.
Sebagai kepala sekolah, saya memandang bahwa penguatan mental dan fisik PTK merupakan kebutuhan nyata, bukan sekadar pelengkap. Tantangan yang dihadapi guru saat ini semakin kompleks mulai dari tuntutan administrasi, perubahan kebijakan, hingga dinamika karakter peserta didik yang terus berkembang. Dalam situasi seperti ini, kompetensi akademik saja tidak cukup. Diperlukan ketahanan mental, kedisiplinan, dan kondisi fisik yang prima.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, SMK Negeri 3 Samarinda melaksanakan pembinaan mental dan fisik (BINTALSIK) sebagai bagian dari strategi penguatan kapasitas sumber daya manusia pendidikan. Program ini tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam kegiatan In House Training (IHT) peningkatan kapabilitas PTK SMK Negeri 3 Samarinda, yang mencakup seminar karya inovatif, penguatan pembelajaran mendalam (deep learning), serta BINTALSIK sebagai salah satu pilar pembentukan karakter.
Langkah ini sejalan dengan dorongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur yang mendukung pelatihan mental bagi tenaga pendidik untuk diterapkan secara lebih luas. Bahkan, program ini juga mendapat apresiasi dari Armin plt Kadisdikbud Kaltim yang menilai bahwa penguatan mental dan sikap guru merupakan bagian penting dalam meningkatkan kesiapan pendidik menghadapi tantangan pendidikan ke depan. Selain itu, penguatan kapasitas dan profesionalisme guru juga memiliki landasan regulatif melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 11 Tahun 2025 yang menekankan pentingnya pemenuhan beban kerja guru secara profesional dan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi, termasuk aspek mental dan kesiapan kerja, merupakan bagian integral dari tugas profesi guru.
Pelaksanaan BINTALSIK di SMK Negeri 3 Samarinda didampingi oleh Jasmil (Jasmani Militer) TNI AD Korem 091/Aji Surya Natakesuma yang menghadirkan pendekatan pembinaan yang disiplin dan terstruktur. Melalui kegiatan ini, para PTK tidak hanya dilatih secara fisik, tetapi juga dibentuk sikap mentalnya mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama tim, hingga kepemimpinan.
Kami meyakini bahwa karakter tidak cukup dibangun melalui teori. Ia harus dilatih secara langsung melalui pengalaman. Dalam BINTALSIK, peserta diajak keluar dari rutinitas, menghadapi tantangan fisik, serta mengelola tekanan secara nyata. Proses ini menjadi sarana efektif untuk membangun ketahanan diri, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperkuat solidaritas antarpegawai.
Sebagai bagian dari IHT, kegiatan ini diarahkan untuk menghasilkan output yang terukur bagi PTK, antara lain: peningkatan kedisiplinan, peningkatan mutu kependidikan, serta terbentuknya sumber daya manusia yang unggul. Hasil ini bukan sekadar konsep, tetapi mulai terlihat dalam praktik keseharian di sekolah.
Secara konkret, perubahan dapat diamati dari meningkatnya kedisiplinan kehadiran PTK yang datang ke sekolah tepat waktu. Selain itu, sangat sedikit ditemukan kelas kosong pada saat jam pembelajaran berlangsung. Layanan terhadap peserta didik juga menunjukkan peningkatan yang signifikan, ditandai dengan interaksi yang lebih positif dan responsif.
Dari sisi tanggung jawab profesional, PTK menunjukkan komitmen yang lebih optimal dalam menjalankan tugas. Salah satu indikator yang dapat diukur adalah meningkatnya jumlah guru yang melakukan pembaruan perangkat pembelajaran. Berdasarkan data internal, sebanyak 94,5 persen dari 73 guru telah melakukan upgrade perangkat pembelajaran sesuai dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning). Angka ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Lebih jauh, kegiatan BINTALSIK PTK di SMK Negeri 3 Samarinda juga menjadi pionir bagi satuan pendidikan di berbagai jenjang di Kalimantan Timur. Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan rujukan dalam upaya penguatan karakter tenaga pendidik secara lebih luas. Dengan pendekatan yang terstruktur dan terintegrasi, BINTALSIK tidak hanya menjadi program internal sekolah, tetapi juga berpotensi menjadi model pengembangan SDM pendidikan di daerah khususnya Kalimantan Timur.
Untuk menjaga keberlanjutan dan dampaknya, BINTALSIK PTK ditetapkan sebagai agenda rutin sekolah yang diselenggarakan minimal satu kali dalam setahun. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan sekaligus penyegaran karakter bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan, sehingga semangat dan kualitas kinerja dapat terus terjaga.
Tidak hanya bagi PTK, penguatan mental dan karakter juga diberikan kepada peserta didik. SMK Negeri 3 Samarinda melaksanakan BINTALSIK bagi siswa kelas XI yang dirutinkan setiap tahun. Kegiatan ini dirancang sebagai persiapan awal dalam membentuk mental dan sikap siswa sebelum mereka menghadapi kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di kelas XII. Dengan bekal mental yang kuat dan sikap yang baik, diharapkan siswa mampu beradaptasi dengan dunia kerja secara lebih siap dan profesional.
Dampak dari keseluruhan program ini tentu tidak hanya dirasakan oleh PTK, tetapi juga oleh peserta didik sebagai penerima layanan pendidikan. Lingkungan belajar menjadi lebih kondusif, proses pembelajaran lebih terarah, dan kualitas interaksi antara guru dan siswa semakin baik. Pada akhirnya, hal ini akan berkontribusi pada peningkatan kualitas lulusan.
Pembinaan mental dan fisik seperti BINTALSIK sejatinya merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk capaian instan, tetapi akan terasa dalam perubahan budaya kerja, etos pelayanan, dan karakter institusi pendidikan itu sendiri. Apa yang dilakukan SMK Negeri 3 Samarinda merupakan langkah nyata dalam membangun pendidikan yang berkualitas dari dalam. Kami percaya bahwa pendidikan yang baik selalu dimulai dari pendidik yang siap tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara mental dan fisik.
Dengan guru yang kuat, disiplin, dan berintegritas, kita tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga menyiapkan generasi masa depan yang lebih tangguh. Dan dari ruang-ruang kelas itulah, masa depan daerah ini sedang dibentuk. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan