Kali pertama bertemu dokter Aulia Rahman Basri itu awal tahun 2022. Waktu itu malam hari di sebuah warung pinggir jalan di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Kanda Aulia—nama sapaannya jika mengikuti tradisi di sebuah organisasi mahasiswa yang saat ini beliau menjadi ketua korps alumninya cabang Kutai Kartanegara—saat itu belum populer di ruang publik. Beliau bukan pejabat daerah, bukan pula pimpinan partai politik. Wacana untuk menjadi bakal calon kepala daerah sama sekali tidak ada kalkulasinya.
Kesan intelektualitas tampak pada personalitas dokter Aulia. Sebagai individu yang lahir dan besar di pedalaman Kabupaten Kukar, tidak tampak gestur feodalisme pada dirinya. Dalam interaksi dan komunikasi, saya tidak menggunakan pendekatan ‘kekanda-dindaan’ atau pendekatan sesama alumni himpunan. Dari responsnya, bisa dibilang dokter Aulia cukup egaliter.
Obrolan kami seputar tradisi kebudayaan dan sejarah Kutai. Rupanya dokter Aulia pingin menyimak paparan sejarah dan budaya Kutai dari perspektif informan atau narasumber yang background sosial politiknya tidak punya track record terlibat di politik praktis. Dengan kualifikasi nonpolitisi itu, narasumber dianggap bisa mengungkap secara jujur dan mengeliminasi potensi tendensius ataupun konflik kepentingan.
Situasi politik berubah sejak 24 Februari 2025 ketika Mahkamah Konstitusi memutuskan diskualifikasi untuk calon bupati Edi Damansyah yang meraih suara terbanyak pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kutai Kartanegara 27 November 2024. Nama Aulia Rahman Basri mulai mencuat sebagai kandidat utama pengganti calon bupati. Pada 10 Maret 2025, Aulia resmi didaftarkan ke KPUD sebagai calon bupati berpasangan dengan Rendi Solihin.
Pada Pemungutan Suara Ulang (PSU) 19 April 2025, pasangan Aulia-Rendi meraih suara mayoritas, unggul atas gabungan suara dua pasangan lainnya. Sejak pelantikan 23 Juni 2025, Aulia Rahman Basri resmi bertugas sebagai Bupati Kutai Kartanegara. Selama proses pra-pemilihan legislatif, pemilihan presiden, hingga pilkada dan pasca-politik elektoral, saya tidak terlibat sebagai tim kampanye kelompok politik mana pun. Pertemuan bersama dokter Aulia 2022 saya anggap sebagai ngopi biasa sesama warga.
Pertemuan kedua terjadi 4 tahun kemudian, alias 10 bulan setelah dokter Aulia menjabat bupati. Senin, 18 Mei 2026 di Atrium Tangga Arung Square, Tenggarong, ada agenda Diskusi Publik bertema kepahlawanan Sultan Aji Muhammad Idris yang menghadirkan Bupati sebagai narasumber. Panitia dari Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kukar juga mengundang saya sebagai narasumber forum momen Hari Buku Nasional (Harbuknas) 17 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei tersebut.
Sebagai narasumber, di event manapun saya tidak minta diperlakukan secara khusus. Menunggu acara pembukaan dimulai, saya lebih memilih duduk di belakang ketimbang kursi VIP di barisan depan yang diarahkan panitia. Begitu Bupati datang dan menuju posisi kursi di depan, beliau menyapa saya sambil berjabat tangan. "Senang bisa ketemu lagi sama Bang Sarip, ayo duduk di depan," ujar Bupati. "Bilangnya protokol, kursi depan untuk para kepala dinas," saya mencoba menolak. "Kalo Bang Sarip gak duduk di depan, saya gak mau duduk ini."
Tentu saja Bupati cuma bercanda. Tapi panitia yang lain menganjurkan saya untuk mengikuti protokol yang diubah Bupati. Jadilah saya duduk di barisan depan untuk menyaksikan pementasan seni tari tradisi dari anak-anak dan sambutan dari ketua panitia, M Alwi Dahlan. Untuk kepala daerah yang berkenan hadir di forum sejarah sebagai narsum, bukan sekadar opening speech, kami respek. Apalagi Bupati Kukar, Kanda Aulia, berkenan menyimak terlebih dulu presentasi semua narsum. Apresiasi tinggi untuk tiap manusia yang menghargai intelektualitas dan literasi sejarah.
Topik Sultan Aji Muhammad Idris bukan wacana yang muncul tiba-tiba. Tahun lalu, beberapa hari setelah dilantik sebagai bupati, dokter Aulia melakukan ziarah ke makam Sultan Aji Muhammad Idris di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan. Sultan Aji Muhammad Idris memiliki tiga aspek keteladanan sebagai (1) tokoh kultural Kutai, (2) tokoh pejuang Nusantara, dan (3) tokoh intelektual Islam.
Terdapat fakta bahwa Raja ke-14 Kutai Kertanegara itu beristrikan seorang putri yang merupakan cucu dari Sultan Wajo La Madukelleng. Dan kebetulan yang sangat kebetulan, sebelum mengetahui riwayat ini, dokter Aulia telah ditakdirkan beristrikan seorang perempuan dari tanah Wajo.
Karena itu, dapat dipahami bahwa dokter Aulia sangat antusias menjadikan Sultan Aji Muhammad Idris sebagai role model dalam kehidupan personal maupun sebagai pengemban tugas memimpin sebuah kabupaten besar warisan sejarah dari Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martapura. (riz)
Editor : Muhammad Rizki