Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Terus Berkemajuan: Belajar dari Keteladanan KH. Siswanto

Redaksi KP • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:05 WIB
Achmad Efendi
Achmad Efendi

Oleh:

Achmad Efendi
Ketua Pemuda Muhammadiyah Samarinda | Dosen Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Ada orang yang hidup untuk dikenang namanya, tetapi ada pula yang memilih menghabiskan hidupnya untuk menanam manfaat. Kelompok terakhir inilah yang jejaknya tidak pernah benar-benar pergi. Seseorang boleh berpulang, tetapi pengabdiannya tetap tinggal menjadi jalan, menjadi cahaya, dan menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya.

Bagi keluarga besar Muhammadiyah di Kalimantan Timur, sosok KH. Siswanto adalah salah satu di antaranya. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang pimpinan organisasi, melainkan kehilangan figur pengayom, penggerak, sekaligus teladan yang selama ini menyalakan semangat dakwah dan pembangunan umat dengan cara yang tenang, tetapi membekas.

Di tengah kehidupan publik yang kerap gaduh oleh pencitraan, almarhum justru hadir dengan kesederhanaan. Beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus lantang terdengar, tetapi cukup nyata dirasakan. Banyak tokoh dikenal karena pidatonya, tetapi tidak semuanya meninggalkan keteladanan yang hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya. KH. Siswanto adalah sosok yang jejak pengabdiannya terasa jauh lebih besar daripada kebisingan tentang dirinya.

Baca Juga: Berita Duka! Ketua PW Muhammadiyah Kaltim KH Siswanto Tutup Usia di Samarinda

Muhammadiyah Kalimantan Timur mengenal beliau sebagai pimpinan yang bekerja dalam diam, namun serius membangun fondasi organisasi. Dalam berbagai dinamika gerakan, beliau tidak hanya menjaga kesinambungan kepemimpinan, tetapi juga menanamkan pentingnya persatuan, penguatan amal usaha, dan perluasan dakwah yang membumi di tengah masyarakat.

Di bawah semangat kepemimpinannya, Muhammadiyah tidak sekadar dipahami sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai kekuatan sosial yang ikut merawat dan membangun pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, hingga pembangunan moral generasi muda.

Para tokoh Muhammadiyah, termasuk mereka yang telah mendahului kita, memahami bahwa persyarikatan ini dibangun dengan napas Surat Ali ‘Imran ayat 104 dan 110, menghadirkan umat yang menyeru kepada kebajikan, menegakkan amar ma’ruf, mencegah kemungkaran, serta menjadi khairu ummah yang memberi manfaat bagi kehidupan.

Semangat inilah yang tampak hidup dalam perjalanan almarhum. Beliau memandang dakwah tidak boleh berhenti di mimbar, tetapi harus menjelma menjadi gerakan sosial yang mampu memberi jawaban atas persoalan masyarakat. Pendidikan harus diperkuat, pelayanan umat harus diperluas, kaderisasi harus dijaga, dan nilai-nilai Islam berkemajuan harus terus dihidupkan di tengah perubahan zaman.

Dalam banyak kesempatan, kita melihat bagaimana beliau menjadi jembatan yang menautkan nilai keislaman dengan pembangunan daerah. Kalimantan Timur saat ini sedang bergerak cepat menghadapi transformasi besar sebagai wilayah penyangga, bahkan pusat masa depan Indonesia melalui pembangunan IKN. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan tokoh-tokoh yang tidak hanya memikirkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia dan akhlak.

KH. Siswanto memahami bahwa perjuangan bukan tentang siapa yang paling sering terlihat. Tidak semua perjuangan tercatat dalam berita. Yang paling penting adalah siapa yang tetap bertahan menghidupkan cita-cita ketika banyak orang memilih berhenti. Barangkali di situlah salah satu warisan penting beliau: Muhammadiyah harus hadir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk umat, daerah, bangsa, dan masa depan.

Sebagai bagian dari generasi muda Muhammadiyah yang hari ini diberi amanah memimpin Pemuda Muhammadiyah di Kota Samarinda, saya memandang bahwa keteladanan seperti inilah yang penting diwariskan kepada generasi penerus. Kita hidup pada masa ketika ruang publik sering dipenuhi ketergesaan, bahkan kompetisi pengaruh yang terkadang justru mengaburkan substansi pengabdian.

Dari almarhum KH. Siswanto, kita belajar bahwa jabatan hanyalah sarana pengabdian, bukan tujuan kebanggaan. Membangun persyarikatan membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kesetiaan pada cita-cita besar Muhammadiyah.

Tentu, setiap manusia memiliki keterbatasan. Barangkali beginilah cara Tuhan memuliakan seorang hamba: mengambil raganya, tetapi membiarkan kebaikannya tetap hidup di hati banyak orang. Sejarah organisasi selalu mencatat orang-orang yang memilih mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kepentingan umat.

Bagi Muhammadiyah Kalimantan Timur, nama KH. Siswanto akan tetap dikenang sebagai bagian dari mata rantai panjang perjuangan itu, mata rantai yang menghubungkan generasi pendahulu dengan generasi penerus. Pada akhirnya, yang paling panjang umur bukan usia manusia, melainkan manfaat yang ditanamkan dengan tulus.

Dalam Islam, kematian bukan akhir dari seluruh cerita. Ada amal yang terus mengalir, ilmu yang diwariskan, dan jejak kebaikan yang tetap hidup di hati orang-orang yang pernah disentuhnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika manusia wafat, terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan.

Kita berharap segala pengabdian almarhum dalam membangun Muhammadiyah, pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial umat menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Beliau mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu harus terlihat, perjuangan tidak selalu harus terdengar, dan keikhlasan tidak pernah meminta untuk dikenang. Namun justru dari kerja-kerja sunyi seperti itulah sebuah gerakan besar dapat tetap hidup.

Kini, tugas kitalah melanjutkan nyala perjuangan itu. Duka tidak boleh berhenti sebagai kesedihan, melainkan harus berubah menjadi tekad untuk meneruskan kerja-kerja pengabdian. Mungkin tubuh seorang pejuang akan beristirahat, tetapi nilai perjuangannya tidak pernah benar-benar wafat.

Sebab, cara terbaik mengenang seorang pejuang bukan hanya dengan air mata, tetapi dengan melanjutkan cita-cita yang pernah diperjuangkannya.

Selamat jalan, KH. Siswanto. Terima kasih atas keteladanan, kesederhanaan, dan pengabdian yang telah ditanamkan untuk Muhammadiyah dan Kalimantan Timur. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, melapangkan kuburnya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.

Editor : Muhammad Ridhuan
#KH Siswanto #Muhammadiyah Kaltim #Tokoh Muhammadiyah #Pemuda Muhammadiyah Samarinda #Islam Berkemajuan