Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sosok Nabi Ibrahim “Yang Terlupakan” di Tengah Gempuran Zaman Digital

Redaksi KP • Rabu, 27 Mei 2026 | 19:01 WIB
Delly Akbar Lahay
Delly Akbar Lahay

 

Oleh:

Delly Akbar Lahay
Aktivis dan Praktisi Pendidikan Samarinda

DI TENGAH derasnya perkembangan teknologi abad ke-21, manusia menghadapi sebuah paradoks besar. Semakin mudah memperoleh pengetahuan, semakin sulit menemukan kebijaksanaan. Dunia digital menghadirkan kemudahan yang belum pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Informasi bergerak dalam hitungan detik, kecerdasan buatan membantu pekerjaan manusia, media sosial menghubungkan lintas negara, dan teknologi perlahan menggantikan berbagai aktivitas manusia. Namun di balik kemajuan itu, muncul kegelisahan yang tidak kalah besar: krisis karakter, menurunnya kemampuan refleksi diri, serta memudarnya orientasi moral.

Manusia modern hidup dalam limpahan informasi, tetapi sekaligus mengalami kekeringan makna. Kita mengetahui banyak hal, tetapi sering kehilangan pemahaman tentang untuk apa pengetahuan itu digunakan. Dalam konteks inilah keteladanan Nabi Ibrahim terasa relevan untuk dibaca ulang, bukan hanya dalam perspektif agama, tetapi juga pendidikan, psikologi, sosiologi, filsafat ilmu, budaya digital, dan spiritualitas.

Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang berani berpikir melampaui kebiasaan sosial pada zamannya. Ketika masyarakat menerima penyembahan berhala sebagai tradisi, Ibrahim justru mempertanyakannya. Ia tidak tunduk pada arus mayoritas hanya karena diwariskan turun-temurun. Dalam perspektif filsafat ilmu, tindakan Ibrahim mencerminkan karakter pencari kebenaran: berani bertanya, menguji asumsi, dan tidak menerima sesuatu secara mentah sebelum dianalisis secara rasional.

Sikap kritis itu bahkan membuat Ibrahim menghadapi ancaman hukuman dari Raja Nebukadnezar. Ia dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup karena mempertahankan keyakinannya. Namun kisah tersebut justru menunjukkan keberanian moral yang luar biasa: berpikir kritis bukan sekadar soal kecerdasan, tetapi juga keberanian mempertahankan kebenaran.

Keteladanan semacam ini menjadi semakin penting di era digital. Hari ini manusia menghadapi banjir informasi yang sering kali tidak disertai kemampuan memilah dan memilih. Hoaks, propaganda digital, manipulasi opini, hingga budaya sensasional berkembang sangat cepat. Banyak orang lebih cepat bereaksi daripada berpikir jernih. Algoritma media sosial bahkan menciptakan ruang gema, di mana seseorang hanya mendengar hal-hal yang sesuai dengan keyakinannya sendiri hingga perlahan kehilangan kemampuan berdialog secara sehat.

Di titik inilah keteladanan Ibrahim memberi pelajaran penting. Berpikir kritis harus disertai keberanian moral dan integritas. Ilmu tanpa kejujuran mudah berubah menjadi alat manipulasi. Dalam dunia digital yang serba cepat, manusia membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa kebenaran, dan tidak mudah terseret arus emosi.

Dalam perspektif sosiologi, masyarakat modern juga mengalami perubahan karakter yang sangat drastis. Media sosial melahirkan budaya pencitraan. Banyak orang lebih sibuk terlihat baik daripada benar-benar menjadi baik. Validasi sosial sering diukur dari jumlah pengikut, tanda suka, atau popularitas digital. Bahkan fenomena playing victim dan viral kerap dimanfaatkan sebagai alat politik maupun pencarian perhatian publik.

Kehidupan yang tampak ramai di layar sering kali menyimpan kesepian di ruang batin. Budaya instan memperparah keadaan. Segala sesuatu ingin diperoleh cepat: sukses cepat, kaya cepat, terkenal cepat, bahkan dianggap bijak secara instan. Padahal pembentukan karakter selalu membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan ketekunan.

Dari sudut psikologi, perubahan ini melahirkan generasi yang mudah lelah secara emosional. Paparan informasi tanpa henti membuat banyak orang mengalami kecemasan, sulit fokus, dan kehilangan kedalaman berpikir. Otak terus dipaksa berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain tanpa ruang refleksi. Manusia modern menjadi sibuk, tetapi tidak selalu tenang. Terhubung dengan banyak orang, tetapi tidak selalu merasa dekat.

Keteladanan Nabi Ibrahim justru menunjukkan pengendalian diri yang kuat. Dalam berbagai ujian hidup, ia digambarkan memiliki keteguhan, kesabaran, dan kejernihan berpikir. Ibrahim tidak mudah dikuasai tekanan sosial maupun emosi. Dalam bahasa psikologi modern, ia menunjukkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Sikap ini terasa sangat penting di era digital yang cenderung reaktif. Satu komentar media sosial dapat memicu pertengkaran panjang. Satu informasi yang belum tentu benar bisa langsung memancing kemarahan. Perbedaan pandangan sering berakhir pada penghakiman. Kita hidup di zaman yang cepat bereaksi, tetapi lambat merenung.

Persoalan serupa juga tampak dalam dunia pendidikan. Sekolah dan lembaga pendidikan sering berhasil mencetak peserta didik dengan kemampuan akademik tinggi, tetapi belum tentu membangun kedewasaan moral. Nilai angka menjadi ukuran utama, sementara empati, karakter, dan kebijaksanaan sering terpinggirkan. Pendidikan modern terlalu sibuk mengejar keterampilan teknis tanpa cukup ruang bagi pembentukan makna hidup.

Padahal ilmu tanpa fondasi etik dapat menghasilkan dampak yang berbahaya. Teknologi mampu membantu manusia menyembuhkan penyakit, tetapi juga dapat menciptakan alat penghancur massal. Kecerdasan buatan dapat mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga dipakai untuk manipulasi data, penyebaran hoaks, dan pengawasan yang melampaui batas kemanusiaan.

Karena itu, pertanyaan penting hari ini bukan lagi sekadar “apa yang bisa dilakukan teknologi,” tetapi “untuk tujuan apa teknologi digunakan.” Perspektif Islam memberi jawaban melalui konsep tauhid. Tauhid tidak hanya dimaknai sebagai pengakuan atas keesaan Tuhan, tetapi juga sebagai orientasi moral manusia. Kesadaran tauhid membuat manusia tidak mudah diperbudak oleh kekuasaan, materi, popularitas, maupun hawa nafsu.

Dalam konteks digital, tauhid dapat dipahami sebagai kompas moral agar manusia tidak kehilangan arah ketika teknologi berkembang terlalu cepat. Di sisi lain, tasawuf menawarkan pendekatan yang lebih mendalam melalui pengelolaan jiwa. Tradisi sufistik mengajarkan bahwa problem terbesar manusia bukan semata kurangnya ilmu, melainkan hati yang kehilangan kejernihan.

Ambisi tanpa batas, iri hati, kesombongan, kemarahan, dan kecanduan pengakuan sosial membuat manusia jauh dari ketenangan. Dalam dunia yang bising oleh notifikasi dan arus informasi, tasawuf mengajarkan pentingnya menjaga ruang sunyi dalam diri untuk merenung dan mengevaluasi hidup.

Keteladanan Ibrahim memperlihatkan keseimbangan antara kecerdasan berpikir dan kejernihan spiritual. Ia tidak anti terhadap pencarian rasional, tetapi juga tidak tercerabut dari kesadaran transenden. Manusia modern sering mengenal dunia luar lebih baik daripada dirinya sendiri. Kita mengetahui tren global, teknologi terbaru, bahkan kehidupan orang lain di media sosial, tetapi kesulitan memahami isi hati sendiri.

Kita memiliki banyak jawaban, tetapi kehilangan pertanyaan yang paling mendasar: siapa diri kita dan untuk apa pengetahuan digunakan. Di sinilah keteladanan Nabi Ibrahim menemukan relevansinya. Ibrahim mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama kebijaksanaan. Keberanian berpikir harus disertai tanggung jawab moral. Kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.

Masa depan ilmu pengetahuan tidak ditentukan semata oleh kecanggihan mesin, melainkan oleh kualitas jiwa manusia yang mengendalikannya. Dan di tengah dunia digital yang semakin gaduh, manusia abad ke-21 perlu belajar kembali dari Ibrahim tentang bagaimana tetap berpikir jernih, hidup sederhana, dan menjaga nurani ketika zaman berubah terlalu cepat.

Momentum Iduladha juga mengingatkan kita pada pengorbanan dan ketabahan Nabi Ibrahim. Secara logika manusia, sangat sulit membayangkan bagaimana seorang ayah rela menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan putranya, Ismail. Namun dengan iman, ilmu, dan keyakinan yang teguh, Ibrahim dan Ismail tetap menjalankan perintah tersebut tanpa keraguan.

Saat pengorbanan itu hendak dilaksanakan, Allah menggantinya dengan seekor domba melalui perantara Malaikat Jibril. Peristiwa itu kemudian menjadi simbol pengorbanan, ketulusan, dan kepatuhan yang terus dikenang hingga sekarang melalui Iduladha.

Di tengah dunia yang semakin materialistis dan serba instan, kisah Ibrahim mengajarkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi, tetapi juga keteguhan iman, kejernihan hati, dan keberanian moral. Sebab pada akhirnya, manusia modern bukan hanya membutuhkan informasi, tetapi juga hikmah agar tidak kehilangan jati dirinya di tengah gempuran zaman digital.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Iduladha. Mohon maaf lahir dan batin. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#ilmu pengetahuan #Nabi Ibrahim #playing victim #Malaikat Jibril #dunia digital