Catatan Rusdiansyah Aras
KALTIMPOST.ID - Gempita Piala Dunia selalu menjadi panggung yang seksi. Bukan hanya bagi para seniman lapangan hijau yang berebut trofi, melainkan juga bagi industri media yang bertarung memperebutkan perhatian publik. Di era ketika informasi bergerak secepat kedipan mata, sebuah pertanyaan klasik kembali mengusik: masihkah media konvensional seperti koran cetak punya taji di tengah kepungan media sosial?
Jawabannya: masih, sangat bisa, asalkan tidak gagap dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Menghadapi momentum akbar sekelas Piala Dunia, ego sektoral antarlini harus diruntuhkan. Media konvensional dan media sosial tidak boleh saling menegasikan, melainkan harus saling “dikawinkan” dalam satu bingkai bernama konvergensi media. Tujuannya jelas, menciptakan efek bola salju. Media konvensional bertugas mendongkrak kredibilitas, kedalaman, dan ruang kontemplasi, sementara media sosial bergerak lincah mengejar keterlibatan real-time (real-time engagement) sekaligus memperluas ceruk pasar.
Baca Juga: Jude Bellingham Jadi Alasan Della Yakin Inggris Juara Piala Dunia 2026
Merawat Fisik, Menjual Sensasi Eksklusif
Mari jujur. Saat ini, tidak ada lagi orang yang membeli koran pada pagi hari hanya untuk mengetahui skor pertandingan yang selesai dini hari. Jika itu yang dijual, tamatlah riwayat media cetak. Skor dan pencetak gol sudah basi dalam hitungan detik setelah peluit panjang berbunyi.
Lalu, apa yang dicari pembaca dari selembar koran? Eksklusivitas, visual premium, dan nilai koleksi (collectible item). Pembaca membeli fisik demi kepuasan memegang lembaran infografis yang megah, analisis taktis yang tajam, serta visual yang nyaman dipandang.
Untuk mendongkrak oplah dan sirkulasi, strategi harus disiapkan matang sejak sebelum kick-off dimulai:
• Magnet Pra-Turnamen
Suplemen khusus setebal 16–24 halaman yang berisi jadwal lengkap, peta kekuatan grup, hingga profil para bintang wajib diterbitkan satu pekan sebelum laga pembuka. Ini adalah umpan pertama untuk menjaring pelanggan.
• Sentuhan “Daging” di Tiap Edisi
Sepanjang turnamen, halaman tengah (centerfold) berisi poster glossy berukuran besar dari para bintang seperti Kylian Mbappé atau Jude Bellingham dapat memicu keinginan publik untuk mengoleksinya.
Baca Juga: Fans Berat Cristiano Ronaldo, Ketua Hipmi Balikpapan Dukung Portugal di Piala Dunia 2026
• Kedalaman Analisis
Ruang tajuk dan opini harus diisi ulasan taktis dari mantan pemain atau pengamat senior. Fokusnya bukan lagi sekadar siapa yang menang, melainkan mengapa strategi sebuah tim runtuh pada babak kedua.
Melesatkan Engagement Lewat Emosi Digital
Jika koran cetak adalah jangkar kredibilitas, media sosial merupakan motor penggerak massa. Karakter media sosial adalah kecepatan, emosi, dan keterlibatan langsung audiens melalui format video pendek seperti Reels atau TikTok.
Untuk mendongkrak jumlah pengikut (followers) dan interaksi, ruang digital harus dibuat seliar sekaligus seinteraktif mungkin:
• Kecepatan Grafis
Begitu peluit panjang berbunyi, tim grafis redaksi digital harus langsung merilis flash infographic berisi skor akhir dan statistik kunci.
• Humanisme di Luar Lapangan
Jangan hanya membahas taktik. Tangisan suporter, keunikan kuliner sekitar stadion, hingga selebrasi ikonik justru menjadi konten yang paling mudah viral dan dibagikan.
• Interaksi Organik
Program tebak skor berhadiah jersi orisinal dengan syarat mengikuti akun, menyukai, membagikan, dan menandai teman merupakan cara efektif untuk melipatgandakan jumlah pengikut. Ditambah ruang diskusi seperti X Space atau YouTube Live setelah pertandingan, audiens akan merasa memiliki wadah untuk menyalurkan emosi sepak bola mereka.
Jembatan Konvergensi: Strategi Dua Arah
Kunci keberhasilan terletak pada jembatan yang solid antara ruang cetak dan ruang digital. Keduanya harus saling memberi umpan.
Koran cetak dapat memasang QR Code di akhir artikel analisis dengan kalimat pemantik: “Punya pendapat berbeda dengan jurnalis kami? Pindai QR Code ini dan suarakan argumen Anda di kolom komentar Instagram.”
Sebaliknya, setiap pukul 21.00 atau 22.00, media sosial dapat mengunggah video singkat berupa teaser halaman depan koran edisi berikutnya. Misalnya: “Besok kami mengulas tuntas skandal taktik di balik tersingkirnya raksasa Eropa. Dapatkan korannya di agen terdekat atau klik tautan di bio untuk versi e-paper.”
Lebih jauh, media juga bisa memberi panggung kepada pembaca digital melalui User Generated Content (UGC). Foto-foto keseruan nonton bareng yang diunggah dengan tagar khusus dapat dipilih untuk dimuat di halaman komunitas koran edisi berikutnya. Ada kebanggaan psikologis tersendiri ketika wajah seorang netizen tampil di media cetak yang kredibel.
Ukur Target, Jaga Ritme
Kerja besar ini harus memiliki parameter yang terukur. Kita tidak sedang meraba-raba dalam gelap. Target indikator kinerja utama (Key Performance Indicator/KPI) harus ditetapkan sejak awal.
Untuk lini konvensional, target kenaikan oplah rata-rata 15–25 persen selama turnamen layak dibidik, terutama pada edisi akhir pekan dan fase gugur. Sementara itu, pada lini digital, pertumbuhan pengikut minimal 30 persen dengan tingkat keterlibatan (engagement rate) di atas 5 persen harus menjadi sasaran utama.
Piala Dunia memang sebuah momentum. Namun, konvergensi yang lahir dari momentum tersebut adalah masa depan media itu sendiri. Ketika cetak dan media sosial saling menguatkan, kita tidak hanya mempertahankan eksistensi media, tetapi juga merayakan cara baru menikmati jurnalisme olahraga.
Selamat bertanding di ruang redaksi! (*)
(Penulis adalah jurnalis senior dan tokoh pers di Kaltim)
Editor : Ery Supriyadi