Oleh:
Erwin F Syuhada
Aktivis Lingkungan Kutai Timur
“BANGGERIS yang dulu saya naikin waktu umur lima belas tahun masih ada sampai sekarang. Tapi sudah tidak ada madunya lagi.”
Pak Benang mengucapkan kalimat itu tanpa nada marah. Tidak juga dengan nada sedih. Ia hanya memandang jauh ke arah hutan Bengalon, Kutai Timur (Kutim) seolah sedang berbicara kepada sesuatu yang tak lagi bisa dilihat orang lain.
Di hadapannya, pohon-pohon masih berdiri. Di atasnya, langit masih sama. Di peta-peta perusahaan, kawasan itu mungkin masih berwarna hijau.
Tetapi Pak Benang tahu ada sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang tidak tercatat dalam laporan tahunan perusahaan. Sesuatu yang tidak muncul dalam tabel-tabel statistik. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar masuk ke dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).
Lebah, madu, dan kehidupan yang selama ratusan tahun menggantungkan diripada keduanya.
Pak Benang bukan ahli lingkungan. Ia tidak pernah duduk dalam seminar perubahan iklim. Tidak pernah memegang laporan kualitas udara. Tidak pernah menghitung indeks keanekaragaman hayati.
Ia adalah orang Dayak Basap. Lahir bersama rimbunnya hutan, tumbuh di hutan dan menjadi tua bersama hutan.
Dan seperti kebanyakan masyarakat adat, ia memiliki kemampuan yang semakin langka di zaman sekarang yaitu membaca tanda-tanda alam.
Dulu, Tebangan Lembak adalah dunia yang berbeda, hutan bukan sekadar hamparan vegetasi.
Ia adalah dapur, pasar, apotek dan rumah. “Memang kampung kami kampungnya Dayak Basap. Biasanya kami berburu payau, mengambil madu di pohon banggeris.” Ungkapnya pada wawancara yang saya lakukan tiga tahun lalu.
Banggeris adalah raksasa-raksasa tua yang menjulang tinggi di tengah rimba Bengalon. Pohon-pohon besar tempat lebah membuat sarang dan menghasilkan madu yang terkenal hingga ke kampung-kampung sekitar.
Menurut ingatan Pak Benang, satu pohon banggeris bisa menghasilkan empat puluh hingga tujuh puluh liter madu dalam satu musim. Saya ulangi empat puluh liter dan tujuh puluh liter.
Angka yang mungkin terdengar biasa bagi orang kota tetapi bagi keluarga-keluarga Dayak Basap, jumlah itu berarti beras di dapur, biaya sekolah anak, dan kehidupan yang terus berjalan.
Satu pohon bisa menghidupi dua hingga tiga keluarga. Satu pohon. Bayangkan itu. “Waktu pertama kali ambil madu sendiri umur lima belas tahun. Tapi sekitar tahun 2014 sudah tidak ada lagi madunya. Lebahnya tidak ada. Habis sudah.”
Yang menarik, pohon itu tidak mati, terkadang kita masih bisa melihat Banggeris itu berdiri. Batangnya masih kokoh, kalau kita beruntung mungkin akan melihat batang kokoh itu bersama dahanya yang masih menjulang.
Namun yang hilang sekarang justru kehidupan yang dulu datang kepadanya. Yang hilang adalah lebah, yang hilang adalah dengung yang dulu memenuhi udara, yang hilang adalah keseimbangan yang membuat semua itu mungkin terjadi.
PROPER MERAH TERLAMBAT
Beberapa waktu lalu, Kaltim dikejutkan oleh pengumuman Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan atau PROPER. Sebanyak 64 perusahaan memperoleh peringkat merah. Sembilan di antaranya berada di Kutim.
Pertambangan, perkebunan, industri semen, kawasan industri dan masih banyak lainnya. Daftarnya panjang. Reaksi masyarakat pun beragam. Ada yang marah, ada yang membela, dan ada juga yang sibuk mencari kambing hitam.
Tetapi bagi saya, rapor merah hanyalah gejala. Ia bukan penyakitnya. Ia hanya hasil laboratorium yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuh.
Sebab jauh sebelum negara mengeluarkan rapor merah, alam sudah lebih dulu mengeluarkan peringatannya. Peringatan itu tidak dicetak di atas kertas. Tidak memiliki kop kementerian. Tidak ditandatangani pejabat. Ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi.
Madu banggeris yang hilang. Banjir yang datang semakin sering. Orangutan yang berkeliaran di area tambang dan perkebunan. Buaya yang semakin sering bertemu manusia dan sungai yang perlahan kehilangan kemampuannya menjaga keseimbangan.
Pada April 2025, seorang bocah yang masih duduk di sekolah dasar meninggal dunia setelah diserang buaya di sungai dekat ruang bermainya di Kecamatan Bengalon. Tragedi itu tentu tidak bisa disederhanakan menjadi satu sebab.
Tetapi kita juga tidak boleh berhenti hanya pada kesedihan, kita harus berani mengajukan pertanyaan yang lebih sulit.
Apa yang sedang terjadi pada sungai-sungai kita? Apa yang sedang terjadi pada rawa-rawa kita? Apa yang sedang terjadi pada habitat satwa yang selama ini menopang keseimbangan bentang alam Bengalon?
Karena konflik antara manusia dan satwa liar sering kali bukan cerita tentang satwa yang datang, melainkan cerita tentang ruang hidup yang semakin menyempit.
Dalam kenangan Pak Benang, masa kejayaan hutan dan alam Kutai Timur tepatnya di wilayah Bengalon terjadi sekitar tahun 1995 hingga 1997. Sesudah itu, semuanya perlahan berubah.
“Biar ada bunganya itu, mungkin karena dampak tambang ini. Coba lihat kembang mangga dan rambutan. Rontok semua. Lama berbuah. Mana mau lebah hinggap.”
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti keluhan seorang tetua kampung. Tetapi bagi saya, kesaksian semacam itu jauh lebih berharga daripada seribu slide presentasi yang dipenuhi grafik berwarna-warni.
Pak Benang menunjukkan apa yang tumbuh dan apa yang mati secara bersamaan. Mungkin karena itulah perjuangan untuk membuka dokumen lingkungan menjadi begitu penting.
Masyarakat berhak tahu, berhak membaca, berhak memahami, dan berhak menilai. Mengapa demikian tentu saja karena lingkungan bukan milik perusahaan, lingkungan bukan milik pemerintah. Lingkungan adalah ruang hidup bersama. Dan ruang hidup tidak boleh menjadi rahasia.
Sekali lagi yang paling mengkhawatirkan bukanlah rapor merah itu sendiri, yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan bahwa rapor merah itu datang terlambat.
Terlambat setelah lebah pergi. Terlambat setelah madu menghilang. Terlambat setelah sungai berubah. Terlambat setelah konflik satwa dan manusia menjadi berita rutin.
Terlambat setelah masyarakat kehilangan sesuatu yang bahkan tidak mereka sadari sedang hilang. Pak Benang mungkin telah tiada, tetapi pertanyaan yang ia tinggalkan masih menggantung di antara pohon-pohon banggeris Bengalon. Mengapa pohonnya masih berdiri, tetapi madunya sudah tidak ada? Pertanyaan itu terdengar sederhana. Terlalu sederhana, mungkin.
Namun bisa jadi di situlah seluruh persoalan lingkungan Kutim bermula. Dan ketika negara akhirnya mengeluarkan rapor merah, alarm itu sesungguhnya telah dibunyikan jauh lebih dulu.
Oleh lebah yang tak lagi datang, orangutan yang kehilangan rumah, banjir yang datang tanpa diundang dan Sungai Bengalon yang menyimpan terlalu banyak cerita duka. (rd)
Editor : Romdani.