Oleh:
Noveranus Duma Saro
Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Paser
PERKEMBANGAN teknologi digital, otomatisasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tengah mengubah wajah dunia kerja secara fundamental. Berbagai jenis pekerjaan mulai tergantikan oleh mesin dan sistem digital, sementara profesi-profesi baru terus bermunculan seiring kemajuan teknologi. Perubahan ini menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan yang tidak ringan bagi tenaga kerja, termasuk di Kalimantan Timur.
Bagi pekerja yang mampu beradaptasi, perkembangan teknologi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan. Namun bagi mereka yang tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, transformasi digital berpotensi menimbulkan risiko kehilangan pekerjaan dan meningkatnya angka pengangguran.
Kondisi tersebut patut menjadi perhatian. Data menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di Kalimantan Timur pada 2025 mencapai 5,18 persen, sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,14 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa tantangan ketenagakerjaan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
Yang menarik, jika ditinjau berdasarkan tingkat pendidikan, pengangguran di Kalimantan Timur justru didominasi oleh lulusan SMA sebesar 34,17 persen, lulusan SMK sebesar 26,41 persen, dan lulusan diploma ke atas sebesar 19,65 persen. Dengan kata lain, lebih dari setengah pengangguran berasal dari kelompok yang telah menyelesaikan pendidikan menengah hingga perguruan tinggi.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa pendidikan formal belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Di sisi lain, penduduk yang bekerja masih banyak berasal dari kelompok berpendidikan SMP ke bawah, yakni sebesar 36,49 persen. Kelompok ini juga menjadi salah satu yang paling rentan terdampak otomatisasi dan perkembangan teknologi karena keterbatasan akses terhadap peningkatan keterampilan.
Apabila kondisi tersebut tidak diantisipasi sejak dini, maka disrupsi digital berpotensi memperlebar kesenjangan antara kebutuhan industri dan kualitas tenaga kerja yang tersedia. Akibatnya, pengangguran dapat terus meningkat meskipun lapangan kerja baru sebenarnya bermunculan.
Di tengah tantangan tersebut, Kalimantan Timur sesungguhnya memiliki modal yang cukup kuat. Struktur angkatan kerja didominasi kelompok usia produktif. Penduduk berusia 25–29 tahun mencapai 13,95 persen dari total angkatan kerja, sedangkan kelompok usia 30–34 tahun mencapai 12,72 persen. Dominasi kelompok usia muda ini merupakan potensi besar karena mereka umumnya lebih cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dibanding kelompok usia yang lebih tua.
Potensi tersebut semakin terlihat dari perkembangan Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Kalimantan Timur yang meningkat dari 6,66 pada 2023 menjadi 6,73 pada 2024. Peningkatan terjadi pada aspek penggunaan teknologi informasi dan komunikasi serta keahlian digital masyarakat.
Data tersebut menunjukkan bahwa sumber daya manusia Kalimantan Timur memiliki kapasitas yang cukup baik untuk menghadapi transformasi digital. Namun demikian, masih terdapat tantangan pada aspek akses dan infrastruktur yang justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapan sumber daya manusia belum sepenuhnya didukung oleh pemerataan sarana dan prasarana digital.
Karena itu, perkembangan teknologi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, transformasi digital juga membuka berbagai peluang ekonomi baru. Saat ini masyarakat dapat memasarkan produk dan jasa melalui platform digital tanpa dibatasi wilayah geografis. Pelaku usaha kecil yang sebelumnya hanya melayani pasar lokal kini memiliki kesempatan menjangkau konsumen nasional bahkan internasional.
Teknologi juga melahirkan berbagai jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak dikenal, mulai dari pengembang aplikasi, analis data, kreator konten, digital marketer, hingga berbagai profesi yang berbasis ekonomi digital. Peluang tersebut dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi apabila didukung oleh tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang sesuai.
Di sinilah pentingnya sinergi antara dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemerintah. Kurikulum pendidikan perlu terus diperbarui agar selaras dengan kebutuhan industri. Pendidikan vokasi dan pelatihan kerja harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Tingginya angka pengangguran lulusan SMK menjadi salah satu indikator bahwa masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Padahal, pendidikan vokasi dirancang untuk mencetak tenaga kerja yang siap terjun ke lapangan. Kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan.
Pada akhirnya, perubahan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Pilihannya hanya dua: beradaptasi atau tertinggal. Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk menjadikan transformasi digital sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila kualitas sumber daya manusia terus ditingkatkan dan didukung oleh infrastruktur yang memadai.
Disrupsi digital bukan semata ancaman. Dengan kesiapan yang tepat, ia justru dapat menjadi jalan menuju masa depan dunia kerja yang lebih produktif, inovatif, dan berdaya saing. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan