Oleh:
Nuzula Elfa Rahma
Mahasiswa Doktoral Perodi Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya
KALTIMPOST.ID-Hari itu, saya meminta adik menemani ke Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar) untuk observasi lapangan dalam rangka penelitian di lingkungan pesisir.
Matahari sudah mulai beranjak tinggi ketika saya memutuskan sudah saatnya pulang. Kami berniat memenuhi pesan ibu agar tidak lupa membeli ikan segar.
Ketika dari jauh kami melihat kios pedagang ikan di pinggir jalan, kami pun menghampirinya. Di kios itu, kami jumpai produk laut seperti kepiting, kerang dara, kerang kapah, dan ikan kering dari berbagai jenis.
Saya bertanya kepada si ibu penjual, darimana ia memperoleh ini semua. “Dari belakang rumah”, jawabnya dengan logat lokal yang cukup kental.
Di sisi jalan, di balik kios itu, terhampar pohon mangrove yang tumbuh di lahan tambak yang sudah terbengkalai.
Masih terlihat sisa-sisa tanggul mengurung genangan air dan lumpur di bawahnya. Lanskap di belakang rumah si penjual seharusnya tidaklah jauh berbeda. Pandangan saya kembali tertuju pada tumpukan kepiting di atas meja.
Seekor kepiting bergerak, hendak melepaskan diri dari ikatan tali rafia yang mengekangnya. Di sampingnya berderet beberapa boks plastik yang penuh dengan kerang dara dan kapah. Hasil tangkapan sebanyak itu didapat hanya dari belakang rumah.
Di sisi jalan ini, sejauh mata memandang adalah area mangrove yang sudah rusak dan mulai ditumbuhi kembali. Mangrove dengan kondisi baik tidak mudah untuk dijelajahi. Untuk melaluinya kita harus melalui medan yang penuh lumpur.
Tentunya bukan hal yang menyenangkan. Dalam kubangan lumpur di Siberia 42.000 tahun yang lalu, seekor bayi mammoth bernama Lyuba terperangkap saat mengikuti kawanannya menyeberangi sungai.
Kawanan itu tidak mampu menolongnya, dan harus meninggalkannya mati tersedak lumpur. Dari zaman pra-sejarah hingga sekarang, lumpur adalah sesuatu yang hanya membuat repot dan memperlambat gerak.
Setitikpun kita tidak sudi jika sampai menodai sepatu kita. Mungkin itu sebabnya hutan mangrove dipandang tidak semenarik lansekap lain. Walhasil dalam praktiknya, mangrove dipandang bernilai ketika ia diubah menjadi peruntukan lainnya.
Di Muara Badak, di mana mangrove merupakan tutupan vegetasi terpenting sebagai bagian dari kawasan Delta Sungai Mahakam, perubahan yang paling umum adalah menjadi tambak. Tambak membuat lumpur menjadi lebih mudah ditangani dan bernilai untuk manusia.
Keberadaan lumpur bisa jadi jauh dari kata estetik. Tapi di balik itu semua ada sesuatu yang tidak terlihat dari tepi jalan.
Mangrove digadang-gadang sebagai benteng terdepan dalam menghadapi ancaman memanasnya bumi, dan ini tidak lepas dari apa yang disimpan oleh lapisan lumpur di bawahnya.
Tidak seperti kepiting dan kerang, hal lain yang tersimpan itu relatif tak kasatmata. Namun dia bisa mengancam keberlangsungan hidup jika terlepas ke udara. Para ilmuwan menyebutnya blue carbon, atau karbon yang tersimpan di lingkungan pesisir seperti mangrove.
Pada karbon yang tetap tersimpan itulah kemampuan mangrove sebagai benteng iklim bertumpu. Dan bagaimana lumpur berperilaku adalah kunci dari mekanisme penyimpanan blue carbon.
Ada sebuah kondisi di mana lumpur dapat berfungsi seperti pengawet. Lumpur yang berada dalam keadaan diam, tidak mengalir ke tempat lain, serta terus tergenang air dapat bersifat anoksik.
Dalam kondisi itu, pertukaran udara sulit terjadi. Oksigen di bawah permukaan lumpur menjadi sangat miskin. Keberadaan oksigen mempercepat pembusukan dan penguraian bahan organik. Namun pada kondisi anoksik, pembusukan melambat drastis atau bahkan berhenti sama sekali.
Pada 8 Mei 1950 di Tollund, Denmark, dua bersaudara yang sedang melakukan penggalian di rawa gambut (bog) malah menemukan jasad seorang pria. Raut wajah jasad itu masih terlihat jelas meski sudah menghitam. Persis seperti orang tertidur.
Awalnya mereka mengira ini adalah korban pembunuhan, sehingga mereka memutuskan untuk memanggil polisi. Di bagian lehernya masih melingkar tali yang tampaknya digunakan untuk mengakhiri hidup pria tersebut.
Namun penelitian menunjukkan bahwa jasad itu sudah terkubur dalam rawa tersebut selama 2400 tahun. Pria itu kemudian lebih dikenal dengan sebutan “The Tollund Man”.
Dalam penyelidikan lebih lanjut, terungkap bahwa jasad pria tersebut kemungkinan dilemparkan ke dalam lumpur sesaat setelah tewas.
Lalu saat tubuh pria itu terpendam, mekanisme anoksik pun bekerja. Proses itu memungkinkan apa yang seharusnya hancur dalam hitungan bulan bisa bertahan dalam ribuan tahun. Raut wajah The Tollund Man adalah bukti nyatanya.
Di sini peran lumpur anoksik tidak berhenti pada pengawetan mayat belaka. Pada lingkungan mangrove, mekanisme itulah yang menjadi benteng pertahanan iklim yang sangat krusial.
Perakaran mangrove mampu menahan sedimen yang mengalir dari wilayah daratan ke pesisir. Sedimen berupa tanah halus, pasir, dan sisa-sisa bahan organik tertahan di antara akar-akar mangrove dan perlahan membentuk lapisan lumpur yang kita kenal.
Baca Juga: Polisi Intensif Buru Pelaku Penikaman di Bujangga, Wakapolres Berau Pastikan Segera Ditangkap
Dedaunan atau serasah yang jatuh ke bawah secara alamiah akan terkubur di dalam lapisan lumpur ini. Serupa seperti jasad The Tollund Man, dalam keadaan terpendam serasah itu akan sulit membusuk.
Ketika hutan mangrove tidak pernah diganggu maka lapisan lumpur akan tetap berada di situ, menyimpan serasah dan bahan organik yang terpendam di dalamnya. Dalam jangka waktu lama, lapisan lumpur ini menjelma menjadi sebuah tabungan jasad organik.
Lalu bagaimana tabungan jasad organik itu bisa menjadi mekanisme pertahanan iklim. Cuaca panas akhir-akhir ini semakin tidak tertahankan, dan itu bukan kebetulan.
Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan karbon dioksida ke udara, yang menahan panas matahari hingga bumi menjadi terlalu panas.
Tumbuhan hijaulah yang bisa membalikkan proses tersebut. Tumbuhan menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi bentuk karbon yang lebih aman, terikat dalam biomassa sebagai daun, batang, dan organ lainnya.
Biomassa itu yang nantinya akan menjadi sumber serasah. Maka di tengah ancaman pemanasan global seperti saat ini, mempertahankan hutan bukan sekadar pilihan, tapi sebuah keharusan.
Sebagai penyerap karbon, hutan mangrove punya satu kelebihan dibandingkan hutan di daratan. Itu ada hubungannya dengan peran lapisan lumpur tadi.
Pada hutan biasa, serasah yang jatuh ke lantai hutan lebih rentan terurai. Sehingga masih memungkinkan adanya pelepasan karbon yang sudah terikat kembali ke udara.
Tidak seperti di mangrove, lantai hutan biasa kurang dapat berfungsi seperti tabungan. Pada hutan biasa, tabungan karbon lebih banyak bertumpu pada tumbuhan dan pepohonan yang masih hidup.
Sebaliknya pada mangrove, ada lapisan lumpur yang memastikan material organik tetap dalam struktur aslinya meski sudah tak lagi hidup.
Tidak mengherankan jika mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon hingga lima kali lebih efisien ketimbang hutan tropis biasa.
Lebih dari itu, karbon yang tersimpan dapat bertahan hingga puluhan ribu tahun. Inilah mengapa blue carbon menjadi begitu penting.
Tentu saja blue carbon bukan satu-satunya jasa yang diberikan oleh mangrove. Kepiting dan kerang di kios si ibu juga didapatkan karena lumpur itu masih terhampar di belakang rumah si ibu.
Jika lumpur menghilang, maka hilang pulalah potensi pendapatan si ibu penjual. Tambak-tambak yang terbengkalai itu adalah saksinya.
Ketika eksistensi lumpur direduksi hanya sebagai sumber pendapatan belaka, ujung-ujungnya kita kehilangan lebih dari yang kita sadari.
Kaltim tercatat pernah memiliki luasan mangrove hingga mencapai 950 ribu hektare di tahun 1970-an. Kini hanya tersisa sekitar 12 persen saja, di mana 15.000 hektare di antaranya ada di Muara Badak.
Manakala lumpur dipisahkan dari pepohonan mangrove yang menjaganya, perlahan ia kehilangan kemampuannya menopang kehidupan.
Lumpur yang tadinya menyimpan kehidupan justru terpencar dan tak lagi mampu menjadi “produktif”. Lantas kawasan itu ditinggalkan begitu saja.
Yang tidak diketahui banyak orang, bukan hanya produktivitas yang hilang tapi juga perlindungan akan bahaya pemanasan global.
Kami tidak bisa menemukan pedagang yang berjualan ikan segar. Akhirnya yang kami bawakan adalah tiga kilogram kapah dan ikan sebelah (Psettodes erumei) yang sudah diasinkan.
Ibu saya cukup takjub dengan ikan sebelah itu, beliau tidak pernah melihat ikan sebelah yang diasinkan sebelumnya. Anehnya lagi, walaupun sudah dalam keadaan diasinkan, entah bagaimana tekstur dagingnya masih mirip ikan segar.
Sepulang perjalanan itu, saya dapati ujung sepatu saya ada noda lumpur yang mengering. Noda itu kemungkinan akibat berpijak pada pinggiran sebuah tambak terbengkalai saat mengambil foto dokumentasi.
Tanpa saya sadari sepatu saya agak melesak, saat mencondongkan badan untuk mendapatkan sudut pengambilan terbaik.
Tak peduli risiko terperosok ke genangan lumpur demi mendapat foto yang saya inginkan. Sudah pasti saya meninggalkan jejak di pinggiran tambak itu.
Saya terbayang jejak lain yang pernah tertinggal di permukaan lumpur puluhan ribu tahun lalu. Seorang perempuan menggendong anaknya berjalan menyusuri tepi danau berlumpur, di tempat yang saat ini adalah sebuah hamparan gurun di New Mexico, Amerika Serikat.
Jejak perjalanan itu tetap terpatri di lumpur yang kemudian memfosil, mencatat perjalanan sepanjang satu kilometer bolak balik. Jejaknya bercerita kalau sesekali ia nyaris terpeleset, dan bahwa si anak digendong dengan posisi bergantian.
Kadang di pinggul sebelah kiri dan lain waktu sebelah kanan. Bahwa terkadang ia mengambil jeda sejenak dan menurunkan si anak dari gendongan. Karena itulah jejak si anak yang berusia balita ikut terpatri dalam serangkaian jejak itu.
Apa tujuan perjalanan mereka tidak diketahui pasti. Namun yang pasti 20.000 tahun yang lalu, demi tujuan tersebut si ibu memilih bersusah payah melintasi tepi danau berlumpur itu.
Lumpur yang menghambat langkah si ibu di New Mexico, secara tidak sengaja mengarsipkan momen perjalanan mereka. Dari jejak itu, kita tahu bahwasanya nenek moyang kita sesungguhnya tidaklah jauh berbeda dengan kita.
Jejak saya di pinggiran tambak itu mungkin sudah hilang. Namun jika jejak itu bisa bercerita, saya harap itu adalah cerita tentang bagaimana senangnya saya melihat lanskap mangrove Muara Badak mulai menggeliat, mengklaim kembali tempat di mana mereka pernah eksis.
Berharap seiring dengan itu, lumpur perlahan kembali mengendap di sela akar. Kembali menunaikan fungsinya sebagai penyimpan blue carbon, hingga ribuan tahun yang akan datang. Sudah saatnya kita belajar membiarkan lumpur tetap menjadi lumpur. (rd)
Editor : Romdani.