Oleh:
Ali Kusno
Widyabasa, Kepakaran Linguistik Forensik
RUANG publik Kalimantan Timur kembali riuh. Bukan lagi tentang angket. Bukan. Ini peristiwa pasca-kembalinya figur yang sempat lama menghilang dari panggung utama Bumi Etam, tepatnya pada 12 Juni 2026. Dalam tradisi adat Kutai, juga ada pewayangan. Jejak budayanya terekam jelas di Museum Mulawarman, Tenggarong. Seni pewayangan bukanlah sekadar tontonan. Wayang cermin kehidupan. Menggunakan metafora pewayangan rasanya tepat untuk membedah dinamika sosial-politik Kaltim saat ini.
Dalam perspektif pewayangan, tidak ada peristiwa yang kebetulan. Secara semiotik, setiap tindakan adalah penanda (signifier) yang membawa petanda (signified) atau makna tersembunyi. Peristiwa ini sebuah lakon yang sarat simbol. Pesan tersiratnya melampaui keramaian sesaat. Di balik riuh tepuk tangan dan decak kagum, tersimpan narasi besar yang terangkai waktu. Ini menuntut ketajaman mata batin bagi siapa saja yang ingin membacanya dengan saksama.
Lakon Pengasingan dan Ujian Sang Srikandi
Mari kita urai. Kembalinya Rita Widyasari ke tanah kelahirannya, ibarat Dewi Srikandi yang kembali dari laku tapa. Setelah sekian lama bergulat dengan sunyi. Dalam perspektif semiotika, kemunculan ini bukanlah peristiwa fisik semata. Ini sebuah kode budaya (cultural code) yang kental. Masyarakat membaca kepulangan ini sebagai titik balik naratif yang monumental.
Bagi publik, sosok Rita representasi petanda dari masa lalu yang masih memiliki daya ikat emosional. Kehadirannya kembali di Bumi Etam membawa dua sisi penanda. Pertama, harapan akan pemulihan kejayaan daerah. Kedua, kekhawatiran bagi mereka yang merasa nyaman dalam kemapanan. Kehadiran ini bukanlah kehampaan. Ia memaksa banyak pihak mengambil ancang-ancang.
Ada satu sisi kelam dalam sejarah pewayangan yang harus diwaspadai: Srikandi tidak gugur di medan pertempuran Bharatayuddha yang bergelora. Ia justru diakhiri saat sedang tertidur lelap oleh Aswatama yang menyelinap ke perkemahan Pandawa saat perang besar telah usai. Kisah ini menjadi pengingat bahwa bahaya paling fatal muncul bukan saat bertempur berhadapan. Bahaya justru mengintai saat merasa aman setelah ‘perang’ dianggap selesai.
Sebagai Srikandi yang kembali ke gelanggang, kehati-hatian sebuah keniscayaan. Sebuah kelalaian ketika ketergesaan menunjukkan diri, bermanuver, atau mengeluarkan pernyataan eksplisit seperti, "Kalau masyarakat memberi kepercayaan, siapa takut?" Itu merupakan kebocoran semiotik yang fatal. Niat hati untuk memulihkan martabat justru berpotensi menjadi bumerang. Dalam dunia pewayangan, tindakan prematur akan dibaca lawan sebagai ‘tanda’ untuk melakukan dekodifikasi negatif. Hal itu sudah mulai terlihat.
Lawan yang mengintip dari balik tirai akan menafsirkan gerak-gerik Srikandi sebagai ancaman. Sebagian publik mulai menafsirkan adanya jerat yang dipasang. Memancing sang Srikandi tampil terlalu dini sebagai sebuah taktik klasik. Mereka pun memiliki legitimasi untuk melancarkan serangan.
Apa satu strategi jitu bagi beliau? Bijak bersikap dan bertindak. Belum saatnya gegap gempita atau mempertontonkan kekuatan. Mainkanlah peran semiotika kehadiran yang lebih subtil. Kehadiran yang bermakna tidak perlu tabuhan genderang. Cukuplah dirasakan melalui jejak kebaikan yang terbenam dalam memori kolektif masyarakat Kutai Kartanegara. Biarkan rakyat membaca ‘tanda’ dari tindakan nyata dan ketenangan bersikap. Bukan dari kata-kata yang justru dimaknai sebagai aura keambisian. Dalam semiotika sosial, pesan yang terlalu eksplisit akan kehilangan daya magisnya. Sebuah pesan tersirat, kehadiran yang samar namun nyata, justru menciptakan ruang tafsir yang lebih luas bagi masyarakat. Biarlah masyarakat yang memaknainya.
Strategi lainnya apa? Cukup satu. Kalau diungkap di sini, bukan lagi tanda yang rahasia.
Antara Wahyu, Punakawan, dan Sengkuni
Dinamika ini menjadi pengingat bagi yang duduk di jabatan. Lagi-lagi, dalam cerita pewayangan, gugurnya kesatria mandraguna, seperti Kumbakarna, Abimanyu, dan Durna, akibat kelengahan. Sering kali, tampuk kekuasaan merasa aman tanpa perlu inovasi komunikasi. Atau enggan muncul dengan terobosan. Pemimpin yang bijak ialah mereka yang mampu mendapatkan ‘Wahyu Cakraningrat’. Sebuah legitimasi yang akan jatuh pada mereka yang memimpin dengan ketulusan.
Namun, elit sering menutup telinga dari nasihat ‘Punakawan’. Sosok pembantu, wong cilik, yang tidak mengejar jabatan. Ketulusan Punakawan menjadi kompas kebijaksanaan dalam membaca arah zaman. Seperti Semar yang menuntun ksatria agar tidak salah membaca perubahan. Saat ini, ada kekosongan ruang dialog, berbahaya jika dibiarkan. Pemimpin dianggap gagal menerjemahkan kegelisahan sosial menjadi kebijakan membumi.
Lebih jauh, berhati-hatilah dalam mendengar masukan. Dalam pewayangan, banyak penguasa tumbang karena dikelilingi tokoh Sengkuni. Penasihat yang lihai bersilat lidah. Menyumbat telinga penguasa dengan ‘tembang pujian’. Tanpa disadari meracuni kebijakan dengan agenda kepentingan.
Dalam sejarah pewayangan, Sengkuni seorang arsitek kejatuhan. Ia pandai memetakan ego penguasa untuk memicu perpecahan. Ketidakmampuan membedakan ketulusan nasihat, antara Punakawan yang jujur atau Sengkuni nan manipulatif, itu sebuah kerentanan. Sadarilah. Itu investasi berharga bagi keberlanjutan kepemimpinan.
Menjadi Masyarakat yang Kritis
Ada pesan lantang bagi publik: jangan hanyut terbawa arus. Jadilah penonton yang bijak. Kita sedang menyaksikan seleksi alamiah kepemimpinan daerah. Jangan terburu-buru memberikan dukungan atau larut dalam sentimen ketidaksukaan. Tunggu siapa yang mampu menjaga konsistensi.
Biarlah mereka berkontestasi dalam kematangan emosional dan kapasitas strategis. Jangan hanya dua, kalau perlu tiga, empat, atau lebih. Itu bagus. Tidak hanya untuk panggung lokal, tetapi juga untuk jenjang nasional. Dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) di Bumi Etam, tuntutan agar putra daerah berkiprah di kancah nasional menjadi keharusan.
Sangat ironis jika di pusat pemerintahan negara yang berada di tanah kita sendiri, tidak ada perwakilan putra daerah yang duduk sebagai pengambil kebijakan strategis. Kita berharap, suatu saat nanti ada putra daerah di kabinet nasional, menjadi representasi kedewasaan politik masyarakat Bumi Etam.
Membaca Sasmita Kebijaksanaan
Dalam pewayangan, kebijaksanaan tertinggi adalah kemampuan membaca sasmita atau isyarat. Bagi Sang Srikandi, bersabarlah dalam memainkan peran. Saat ini, ‘waktu’ menjadi sekutu terbaik untuk pembuktian diri. Harus dipahami bersama, langkah ini hanyalah permulaan. Ke depan masih banyak lakon yang lebih rumit yang menuntut ketajaman amatan.
Setiap langkah Srikandi harus terencana di panggung yang penuh kejutan. Petakan risiko, terjemahkan kompleksitas tanda menjadi langkah yang tak terbaca oleh lawan. Ini langkah investasi strategi yang tidak bisa diabaikan. Lakon dapat berakhir kemenangan atau tragedi, semua tentang narasi. Bagi pemegang tampuk kekuasaan, berhentilah mengabaikan isyarat perubahan.
Dalam lakon Perang Kembang, ksatria sejati menang bukan dengan gemuruh, melainkan dengan ketenangan. Siapkah kita? Bukan sebagai penguasa dan pengamat, melainkan sebagai sesama penjaga Bumi Etam. Memastikan lakon ini berakhir dengan kebaikan. Jawaban atas pertanyaan itu ada pada sejauh mana kita mampu membaca sasmita hari ini. Ketepatan memahami peta risiko di balik layar.
Mari kita kawal dinamika Bumi Etam, magnet baru peradaban Nusantara. Saya pun akan seperti masyarakat Kaltim lainnya. Berdiri di Jembatan Repo-Repo sambil menikmati kue keroncong memandang Pulau Kumala yang terabaikan. Atau menikmati kopi bersama seorang pemuda di Sangkulirang yang istirahat usai memanen sawit. Kata tetangga, dia dulu juara kelas. “Biaya kuliah saya bisa ditanggung pemerintah. Tapi saya tetap butuh tempat berteduh dan makan,” katanya sambil mencabut bunga rumput di depannya. Ini bukan lagi tentang pewayangan. Ini kenyataan. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan